Senin, 15 Agustus 2016

TENTANG KATEGORI MANUSIA

Gus Dur pernah berkata, jika kamu berbuat baik, orang tidak akan tanya apa agamamu. Kutipan ini saya baca di sebuah dinding tempat berkumpul tukang ojeg di daerah Kalimalang, Jakarta.

Kalimat ini juga bisa bermakna, jika orang berbuat jahat kita juga tidak perlu tanya apa agamanya.

Ini menyangkut kategorisasi kita memandang orang lain. Sebagian orang seringkali keserimpet dalam soal ini. Dalam menilai orang kita kadang memasukan dalam keranjang yang salah.

Sering kita mendengar kata kafir, yang ditujukan pada pemeluk agama lain. Atau tudingan sesat pada kelompok yang berbeda tafsir keagamaan. Kita mengkategorikan orang berdasarkan label agamanya.

Setiap agama memang menjelaskan bahwa ajarannya yang paling benar. Itu berfungsi untuk menguatkan keyakinan pengikutnya. Yakinilah hal tersebut dalam ruang pribadi. Namun ketika di ruang publik, kita harus memahami ada keyakinan orang lain yang juga merasa benar dengan agamanya. Ada orang lain yang bisa saja berbeda tafsir dalam soal keagamaan.

Makanya kita tidak perlu bersorak ketika ada orang masuk ke agama kita. Saya sendiri tidak nyaman dengan berita seseorang pindah agama, apalagi selebritis, sebab berita itu bertendensi menonjolkan agama barunya dan menyalahkan agama lamanya.

Padahal tidak bertambah kebenaran agama kita, hanya karena ada orang lain yang masuk. Tidak juga berkurang kebenarannya hanya karena ada yang murtad.

Sesungguhnya dalam kehidupan, kita akan lebih nyaman bergaul dengan orang yang baik, meskioun agamanya berbeda. Kita juga membenci orang yang jahat, meski seagama dengan kita. Itu adalah manusiawi.

Kita menilai orang dari apa yang dilakukannya, bukan dari apa yang dianutnya. Soal apakah dia menganut agama yang benar atau salah, biarkan itu bagian Tuhan yang menilai.

Jadi kategorisasinya adalah antara orang baik dan orang jahat. Tentang orang yang menegakkan keadilan atau melaksanakan kezaliman. Tentang jujur atau curang.

Intinya tentang apa yang dilakukan seseorang. Tentang tindakannya. Bukan tentang status muslim dan non-muslim. Bukan suni atau syiah. Bukan kristen dan non-kristiani. Dan seterusnya.

Begitupun ketika kita menilai para pemimpin politik. Akan lebih enak melihat dari apa yang sudah dilakukannya, bagaimana rekam jejaknya, ketimbang mempermasalahkan apa agamanya.

Sama seperti ketika Anda menilai Setya Novanto. Sebagai ketua DPR mungkin banyak angka merahnya. Kelakuannya menghadiri kampanye Donald Trump dan kasus papa minta saham, bikin rapotnya jeblok.

Tapi coba beberapa puluh tahun lalu Anda menilai dari segi tampilan fisiknya. Setya pernah dinobatkan jadi pria terganteng se-Surabaya, lho...
Load disqus comments

0 komentar