Selasa, 09 Agustus 2016

TENTANG SEKOLAH

Ada dua film Indonesia tentang semangat bersekolah yang saya saksikan beberapa tahun lalu –Denias (film lama yang baru saya dapat DVD-nya) dan Laskar Pelangi. Kedua film itu menggambarkan betapa sekolah itu penting bagi kehidupan anak-anak. Bersekolah, bagi anak-anak itu, semacam sebuah proses yang harus dilalui dalam kehidupan. Dalam film Denias, sang pemeran utama rela berlari dari desanya yang jauh di pedalaman Papua menuju kota kabupaten hanya sekadar untuk bersekolah. Perjuangannya tidak enteng.

Begitupun dalam film Laskar Pelangi, tokoh Lintang bersepeda puluhan kilometer saban hari untuk mencapai sekolahnya. Bahkan setiap kali berangkat sekolah dia harus berhadapan dengan mara bahaya, seperti dihadang buaya segede lemari di tengah jalan. Bagi anak-anak dalam film itu bersekolah merupakan sebuah ritual wajib. Atau semacam tiket untuk menjejakan kaki pada kesejahteraan yang lebih tinggi.

Tapi saya kadang-kadang juga nonton sinetron di televisi swasta. Saat adegan berkenaan tentang aktivitas sekolah, saya selalu disuguhkan suasana anak-anak berteriak, ‘hooreee!’ justru saat bel pulang berbunyi. Seolah sebelumnya anak-anak itu berada dalam kurungan besi. Duduk di kelas adalah siksaan bagi mereka. Jika dua film pertama menggambarkan betapa anak-anak desa terpencil itu merindukan pergi ke sekolah. Sementara adegan ala sinetron menggambarkan suasana sekolah seperti penjara. Teriakan, ‘hooreee!’ secara serempak pada saat bel pulang adalah buktinya.

Tapi anak-anak adalah mereka yang mencintai debu. Itu kata penyair India, Tabindranath Tagore. Tagore juga merasakan bagaimana sekolah telah membelengunya ketika kecil. Pada umur 13 tahun dia berhenti sekolah. Kemudian jadi penyair. Dia tumbuh jadi ikon intelektual India yang paling terkemuka hingga saat ini. Tagore juga tercatat sebagai penerima hadiah nobel kesusasteraan pertama dari Asia. Karya monumentalnya, Gitanjali, dibaca orang di seluruh dunia.

Di belahan bumi yang lain, ada Thomas Edison. Lelaki ini hanya tiga bulan mencicipi bangku sekolah. Sebab pada usia 12 tahun Thomas harus mencari nafkah untuk hidupnya. Ketika kecil, Thomas mengerami telur ayam. Ibunya kaget, tapi tidak lantas mengomel. Thomas yang penasaran, apakah telur bisa menetas setelah dihangatkan tubuhnya, mencoba berseksperimen. Kita tahu, eksperimennya mengerami telur ayam ternyata gagal. Tapi rasa ingin tahu yang dipupuk oleh ibunya menghasilkan sesuatu yang lain. Semasa hidupnya, selain bola lampu, ada sekitar 1.093 barang baru yang ditemukan Thomas Alfa Edison untuk orang pada jamannya.

Kita juga mengenal Richard P. Feyman, nobelis fisika yang jenaka. Feyman selalu bersikap seperti anak kecil, asyik dengan rasa ingin tahunya. Dan kita paham rasa ingin tahu dimulai dari sebuah pertanyaan. Mungkin di sinilah letaknya. Orang-orang jenius itu selalu memulai dengan pertanyaan, bahkan untuk hal-hal yang oleh kebanyakan orang dianggap selesai. Dari sanalah fikiran mereka hidup dan berkembang.

Mungkin ini yang menjadi masalah dengan sekolah –sebuah institusi yang sering lebih sibuk mengajarkan bagaimana mencari jawaban dan bukannya bagaimana memproduksi pertanyaan. Belakangan konsep Ujian Negara sebagai syarat kelulusan telah ikut mereduksi peran sekolah untuk membantu anak didik memproduksi pertanyaan sendiri. Akibatnya lembaga sekolah kehilangan kepercayaan dirinya. Sebab untuk urusan pengajaran bagaimana cara memilih jawaban, lembaga-lembaga bimbingan belajar dianggap lebih terampil.

Proses pengajaran yang melulu mementingkan jawaban, mungkin akan membuat kita jadi pintar seperti seperangkat komputer. Tapi, mungkin akan menghilangkan semangat anak kecil dalam diri kita. Semangat yang selalu mempertanyakan, kenapa begini, kenapa begitu?
Load disqus comments

0 komentar