Senin, 15 Agustus 2016

TURKI SEDANG MENGUBUR PERADABAN

"Saya tidak terlalu khawatir dengan permintaan ekstradisi, sama seperti saya tidak khawatir dengan kematian," kata Fetullah Gulen, ulama kharismatik yang dituduh Erdogan mendalangi kudeta militer di Turki.

Saat kudeta terjadi, Gulen mengecamnya. Makanya ketika Erdogan menuduh Gulen mendalangi kudeta, komentarnya singkat saja. "Saya tidak akan melakukan apa pun yang akan menodai martabat saya."

Gulen memang orang besar. Ulama, intelektual, penulis dan aktifis pendidikan juga konsen dengan isu-isu tolaransi. Pandangan keagamaanya membawa nafas Jalaluddin Rumi yang penuh kasih. Untuk menyebarkan ajaran Islam yang toleran dan menghargai sains dia menggagas berdirinya berbagai lembaga pendidikan. Salah satunya lembaga Pasiad yang jaringannya sampai ke Indonesia.

Putri saya bersekolah di dua tempat di bawah naungan Pasiad : Sekolah Pribadi di Depok dan Sekolah Kharisma Bangsa di Pondok Cabe, Tenggerang Selatan. Sekolah-sekolah yang bekerjasama dengan Pasiad tersebar di berbagai kota di Indonesia, dengan berbagai program beasiswa.

Bukan hanya di Indonesia, jaringan sekolah Pasiad ini ada di Korea, Australia, Malaysia, Selandia Baru, berbagai negara Eropa, Amerika, juga Afrika. Kebanyakan siswanya muslim. Tapi tidak menutup diri dari siswa beragama lain. Sebab ideologi yang dikembangkan Gulen adalah Islam yang menjunjung dialog peradabani.

Gulen juga menggagas semacam ruang pembelajaran luar sekolah. Dia mendidirkan asrama (rumah bersama) yang isinya anak-anak dari sekokah negeri. Anak-anak itu bersekolah seperti biasa, tapi mereka disiapkan rumah khusus. Mereka tinggal bersama untuk mendapatkan pendidikan tambahan seperti sains, matematika, bahasa inggris dan menghafal Quran.

Anak teman saya Muhammad Furqon Jamzuri, mengikuti program ini di Pasar Minggu. Dia selalu bercerita tentang anaknya yang bersikap lebih positif, mulai menghafal Quran dan prestasi lebih bagus di sekolahnya. Saya rasa sedikit banyak jasa Gulen sampai ke anak itu di Pasarminggu. Sebuah jarak yang terbentang ratusan ribu kilometer dari AS, tempat tinggalnya sekarang.

Kenapa Gulen mengembangkan jaringan pendidikan ke seluruh dunia, bukan hanya di Turki? Jika cuma kekuasaan Turki yang diinginkannya kenapa repot-repot memberi beasiswa buat seorang siswa di Pasarminggu? Mungkin karena Gulen lebih tertarik untuk mengembangkan peradaban, ketimbang cuma duduk di kursi kekuasaan. Saya tidak tahu.

Bagi Gulen mengembangkan masyarakat harus melalui pendidikan. Dia kumpulkan konglomerat Turki untuk mengembangkan pendidikan melalui dananya. Mendirikan sekolah, menyebar beasiswa,mensosialisasikan ideologi Islam penuh kasih sayang, mengembangkan toleransi, sambil tetap berpegang teguh pada nilai keislaman. Gulen mengembangkan Islam yang bermartabat. Yang bisa berdiri sejajar dengan komunitas lain di dunia.

Jika pendidikan menjadi konsen Gulen dalam menyebarkan gagasannya, wajar saja jika pengaruhnya sedemikian dalam di Turki. Jutaan jiwa pernah tersentuh ajarannya. Tertular semangatnya. Disana dikenal dengan sebutan Hizmet atau Gulen Movement. Semangat menyebarkan kebaikan, penghargaan pada ilmu, berwawasan internasional, tapi tetap memegang nilai keagamaan secara ketat.

Makanya di pemerintahan dan birokrasi banyak orang Turki yang merasa seide dengan Gulen. Mereka inilah yang kini dibersihkan Erdogan dari Turki.

Kabarnya Erdogan telah menahan 7000 orang dan mengancam memberlakukan hukuman mati. Bukan hanya itu dia telah memecat 20 ribu guru, ribuan pegawai kementerian pendidikan. Juga memberh3ntikan 1.557 dekan di berbagai universitas Turki.

Sementara 2.700 hakim dan jaksa juga dicopot dari jabatannya. Pemberhentian juga terjadi pada Gubernur, ribuan polisi, ribuan karyawan kementerian dalam negeri, kementrian keuangan, kantor Perdana Menteri, kementrian agama dan dinas intelejen.

Bersih-bersih mengerikan ini adalah bagian dari usaha Erdogan untuk membendung pengaruh Fetullah Gulen di Turki. Sebuah tindakan yang menurut saya berlebihan dan sia-sia.

"Daftar surat perintah penangkapan sudah ada tidak lama setelah kudeta gagal mengisyaratkan hal itu telah disiapkan sebelumnya dan digunakan pada momen tepat," kata Johannes Kahn, komisioner Uni Eropa.
Erdogan memang seperti paranoid. Dia kuatir kekuasaannya terganggu. Sementara Gulen adalah seorang pendidik dan menyebar ideologi. Sehebat-hebatnya politik meredam sebuah ideologi yang rasional dan manusawi, saya rasa tidak akan efektif. Sejarah mencatat betapa pendeknya usia kekuasaan dan betapa abadinya hasil sebuah memikiran.

Erdoga boleh saja memecat dan menyingkirkan siapapun yang terpengaruh dengan ide-ide Gulen. Tapi itu seperti meminum aspirin untuk mererakan demam akibat typus. Tidak banyak gunanya. Cuma sementara saja hasilnya.

Politik yang ketakutan dengan bersemainya ide-ide, akan terlihat seperti monster dalam film Monster Inc, dia takut dengan cekikikan anak kecil. Tapi ide-ide, meskipun dilindas sedemikian rupa tidak akan mati. Seperti anak kecil yang tidak kehilangan keceriaannya meski hidup dalam camp pengungsi.

Ingat waktu Soeharto menggencet Gus Dur dan ingin membersihkan NU dari pengaruh Gus Dur, nyatanya ide-ide yang dibawa Gus Dur justru makin berkembang sekarang. Seorang diktator bisa membunuh seorang manusia, tapi dia pasti gagal menguburkan sebuah ide yang terlanjur berbiak.

Saya tidak setuju dengan kudeta politik. Jalan paling beradab untuk pergantian kekuasaan hanyalah via Pemilu. Tapi memberangus semua orang yang tidak seide, saya rasa sama tidak beradabnya dengan kudeta poilitik.
Load disqus comments

0 komentar