Jumat, 12 Agustus 2016

TAK ADA TOA GEGOAKAN DI IRAN

Di Mashad hotel tempat saya menginap dekat dengan komplek masjid dimana terdapat makam Imam Ali Ridho. Kompleks ini berada di jantung kota Mashad dengan luas keseluruhan hampir sama dengan areal Monas.
Saya pernah nyasar, karena salah keluar pintu, berjalan sampai jauh sekali. Setelah tanya kiri-kanan dengan bahasa sebisanya, saya kembali lagi ke jalan yang benar. Tapi akibat nyasar itu saya jadi menyusuri berbagai sudut kota Mashad.

Mashad lebih besar dari Qom. Orang dari berbagai negara datang ke sini untuk menziarahi salah satu Imam maksum dari kaum muslim bermazhab Syiah. Di Iran dikenal juga dengan sebutan Imam Ali Reza atau Ali Ridho.

Meski bernama Republik Islam Iran, jumlah masjid disana tidak sebanyak Indonesia. Satu masjid dengan yang lain letaknya berjauhan. Suara speakernya juga tidak berteriak keluar saling bersahutan. Hanya suara azan saja yang bisa di dengar dari luar areal masjid. Selebihnya suara aktifitas ibadah hanya terdengar di dalam masjid. Bahkan dari halaman masjid tidak terdengar.

Tidak ada suara pengajian atau ceramah yang menyalak. Menjelang azan memang ada qori yang melantunkan ayat Al Quran. Tapi ya, itu tadi, suaranya hanya tersengar jamaah di dalam masjid saja. Tidak pernah saya dengar mesjid di Iran memutar rekaman ceramah atau pengajian lalu diperdengarkan ke luar via speaker.

Begitu juga di Qom. Ini kota santri di Iran. Kita mudah menjumpai para ulama dengan pakaian kebesarannya di jalan atau berbagai sudut kota. Bahkan di pasar. Tapi suara speaker mesjid sama sekali tidak terdengar dari luar. Mesjid di Iran tidak saling menyalak dengan berbagai suara. Sedikit berbeda dengan di Indonesia.

Apalagi saat Ramadhan, udara di Indonesia dipenuhi dengan suara rekaman pengajian, ceramah sampai lagu kasidahan yang diperdengarkan dari corong speaker masjid atau mushola. Hampir 24 jam keriuhan syariah itu berlangsung. Bahkan suara imam sholat terdengar sampai kemana-mana. Jika masuk waktu azan, suaranya saling bersahut-sahutan dari satu mesjid, mushola, dengan mesjid lain. Sangat ramai.

Apakah itu sesuai kaidah agama? Saya tidak tahu. Tapi mungkin kita bisa sedikit merenung, betapa besarnya toleransi saudara-saudara kita non-muslim, yang tidak mempermasalahkan speaker mesjid di sini yang berteriak tengah malam. Lengkingan suara itu juga pasti sampai ke telinga mereka. Mengusik tidurnya. Juga, mungkin saja, bagi orang yang terbaring sakit atau bayi.

Tapi, toh kita tetap harus berfikir positif. Barangkali saja suara-suara yang saling bersahutan itu menandakan bahwa masyarakat kita begitu relejius sehingga tidak sedetikpun waktu terlewat tanpa pengajian. Meski hanya melalui kaset rekaman yang disebarkan via speaker masjid.

Bagi masyarakat Iran masjid juga sarana rekreasi. Di halaman yang luas, biasanya berlantai marmer juga dihiasi taman bunga dan kolam. Keluarga-kekuarga muda meriung disana, dengan anak kecil yang bermain riang. Di berbagai sudut ada tempat minum gratis.

Rata-rata masjid di Iran buka 24 jam. Kapanpu kita dapat memasuki areal masjid untuk sholat atau sekadar menikmati tamannya. Bahkan untuk masjid yang di dalamnya ada makam orang-orang mulia, tidak pernah sepi. Saya pernah mampir ke masjid Fatimah Maksumah jam 2 pagi. Kemaraian di sana hampir sama dengan sore hari.

Jika memasuki masjid, sandal atau sepatu bisa kita bungkus dengan kantong plastik. Di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram juga tersedia kantong plastik untuk menempatkan sandal atau sepatu. Bentuknya plastik rol seperti kantong tempat buah jika kita membeli di supermarket.

Bedanya, di Mekah atau Madinah tidak ada wadah untuk menyimpan plastik bekas jika selesai dipakai jamaah. Sedangkan di Iran, di depan pintu mesjid ada wadah tempat kantong-kantong plastik bekas pakai. Lalu orang lain bisa menggunakannya kembali untuk membungkus alas kakinya. Artinya satu kantong plastik bisa digunakan ratusan kali.

Saya sempat kaget ketika sholat subuh berjamaah. Selesai sholat dan ketika saya sedang asyik memandangi langit-langit mesjid yang indah, tiba-tiba terdengar suara iqamah kembali. Yang berarti ajakan untuk sholat berjamaah. Rupanya mesjid itu menyelenggarakan tiga kali sholat subuh berjamaah, untuk melayani mereka yang datang agak terlambat. Tentu saja dengan imam yang berbeda.

Kalau di Indonesia, mereka yang datang terlambat hanya bisa melakukan sholat berjamaah secara partikelir atau membentuk jemaah sendiri di bagian belakang.

Tapi, sekali lagi, tiap tempat punya kebiasaan sendiri-sendiri. Setiap masyarakat punya jenis etikanya sendiri. Bersyukurlah kita hidup sebagai bangsa yang paling banyak jumlah masjidnya di dunia.
Load disqus comments

0 komentar