Jumat, 12 Agustus 2016

UPACARA BENDERA

Saya pernah mencoba mengheningkan cipta secara serius waktu upacara bendera saat SMA dulu. Mencoba merenungkan makna dan jasa pahlawan. Eh, saya malah tersenyum-senyum geli sendiri. Soalnya ketika itu yang terlintas di bayangan saya adalah wajah Naga Bonar.

Bukan hanya soal mengheningkan cipta. Bahkan untuk sebuah prosesi upacara bendera, saya tidak memiliki pemahaman yang utuh. Mungkin karena itu, orang seperti saya tidak cocok masuk militer. Prosesi menunjukan kecintaan pada negara yang seremonial itu, memang kurang pas buat saya.

Di sekolah saya ada tradisi bagaimana setiap kelas digilir untuk menjadi koordinator upacara bendera. Dari kelas itu harus ditunjuk siapa yang jadi komandan upacara, yang membacakan teks proklamasi dan pembukaan UUD 45, yang mengerek bendera, atau yang menjadi dirigen menyanyikan lagu kebangsaan dan sebuah lagu wajib.

Nah, ketika kelas saya kebagian tugas itu, tentu saya tidak bisa berbuat banyak. Jadi komandan upacara, tidak mungkin. Wong saat SMA dulu, saya termasuk anak bawang dengan bentuk tubuh kerempeng dan kecil. Jadi pasti tidak ada wibawa-wibawanya sama sekali.

Pembacakan teks proklami, juga tidak pas. Suara saya juga tidak ternasuk punya kharisma. Padahal saat membacakan teks proklamasi itu, kita sedang meniru gaya Bung Karno. Lha, suara saya? Jauhhhh...

Bagaimana dengan pengerek bendera pusaka? Lha ini, gaya jalan saya yang serantal seruntul pasti akan membuat ribet dua rekan lainnya. untuk tugas itu memang dibutuhkan tiga orang. Jalannya harus mantap, dengan langkah beraturan. Sementara menjadi dirigen biasanya itu diserahkan kepada rekan perempuan. Jadi untuk semua peran itu, saya memang tidak ada yang cocok.

Saya dan teman-teman sekelas yang tidak kebagian peran utama, harus puas menjadi pemeran figuran. Menjadi tim paduan suara. Karena semua pakem sudah fixed, kontribusi yang bisa saya usulkan adalah soal pilihan lagu wajib. Biasanya orang memilih lagu-lagu syahdu semacam Syukur atau Gugur Bunga. Bisa juga Rayuan Pulau Kelapa. Atau yang mau sedikit seru dan gampang adalah Halo-Halo Bandung.

Tapi pilihan lagu-lagu itu sudah biasa, bukan? Makanya saya usulkan jenis lagu yang lain. Sayang, usul saya tidak dianggap serius oleh sebagian warga kelas. Hanya ada sebagian kecil yang setuju dengan usulan itu. Akibatnya ada dualisme dalam kelas saya dalam menentukan lagu wajib.

Pas ketika upacara di senen pagi, dan giliran menyanyikan lagu wajib tiba, teman-teman yang berdiri di bagian depan sudah memasang muka syahdu. Ketika dirigen menghitung ketukan empat per empat, suara mereka keluar mendayu, "Dari yakin kuuuu teguhhhh...Hati ikhhlaass kuu penuhh..."

Tapi saya dan teman-teman yang berdiri di bagian belakang, juga menyambar ketukan itu dengan lagu yang agak nge-beat..."Keluarga berencana..sudah waktunya. Janganlah diragukan lagi...Keluarga berencana besar maknanya, untuk hari depan nan jaya...."

Eh, tanpa diduga, para pelantun lagu Syukur di bagian depan akhirnya ikut irama lagu usulan saya.Terdengarlah Mars Keluarga Berencana yang dinyanyikan di sebuah lapangan sekolah dalam prosesi upacara bendera. Dinyanyikan dengan riang, diselingi suara cekikikan...

Hasilnya : kami sekelas diminta lebih lama berdiri di lapangan upacara, sementara anak-anak kelas lain sudah diperbolehkan masuk. Sampai sekarang saya tidak pernah tahu, apa salah kami sebenarnya....
Load disqus comments

0 komentar