Rabu, 07 September 2016

BAPAK YANG GAGAL

Suatu hari si mbak bertanya, dimana alamat kantor Perindo. Katanya dia mau jadi simpatisan Partai itu. Hah? Si mbak yang hobi nonton sinetron kini mau jadi anggota partai?

Mungkin jiwa nasionalisme dia bergelagak. Karena disela-sela teriakan anak alay dalam program musik pagi hari yang sering ditonton tiba-tiba nyelonong iklan partai. Selalu begitu.

Atau di tengah sinetron tiba-tiba ada gambar Hari Tanoe nyengir bersama masyarakat Papua. Karena diputar terus menerus tanpa kenal waktu si mbak terpesona.

Iklan yang isinya seperti ada mahluk planet turun ke bumi menemui rakyat Indonesia itu juga tayangkan di Global TV dan seluruh jaringan MNC. Mereka seolah meledek, "Menyerahlah. Kalian sudah terkepung Perindo."

Tentu yang paling membangkitkan semangat adalah hentakan mars-nya. Setiap mendengar mars Perindo, tanpa dikomando si mbak langsung berdiri dan mengambil sikap sempurna. Sering masih dengan gagang sapu di tangan.

Bukan hanya si mbak. Anak saya yang kecil juga ikutan. Begitupun kakaknya . Kini setiap mendengar mars Perindo mereka akan meninggalkan kegiatannya, lantas bersama si mbak berdiri dengan sikap sempurna di depan TV. Berbaris mirip upacara bendera.

Tidak peduli apapun yang sedang mereka kerjakan, begitu mendengar mars tersebut mereka langsung bangkit. Yang di kamar mandi cepat-cepat menyambar handuk. Bila sedang belajar di kamarnya langsung lari ke ruang keluarga. Bahkan si mbak pernah lompat ke depan TV masih dengan menggenakan mukena. Ini gila!

Sebagai orangtua tentu saya khawatir. Ikut partai sih, boleh. Tapi masa Perindo, sih?

"Lha, daripada kita ikut PKS?," anak saya yang paling besar memberi alasan. Saya tercekat dengan jawaban itu. Terus terang saya belum sanggup membayangkan kengeriannya itu. Meskipun menurut saya mereka gak mungkin suka dengan PKS. Soalnya PKS gak punya mars yang gagah seperti Perindo. Jikapun ada, mungkin marsnya gaya akapela atau nasyid, yang dinyanyikan para pria berbaju koko. Kayaknya anak saya tidak suka nyanyian seperti itu.

Melindungi keluarga dari pengaruh PKS memang salah satu tugas penting kita sebagai orangtua. Tapi saya kini merasa kebobolan, karena tidak bisa melindungi mereka dari Perindo.

Saya merasa gagal jadi bapak.Situasi ini lebih menyedihkan dibanding seorang ayah yang suka makan Bengbeng dingin...
Load disqus comments

0 komentar