Jumat, 02 September 2016

HORE, AHOK DAPAT TIKET LAGI

Saya ingin bicara tentang Ahok. Menurut hitungan perbintangan dan analisis bentuk hidung, minggu depan mungkin segala pertanyaan partai apa saja yang akan mengusung Ahok sebagai Cagub DKI akan tuntas, Dalam bayangan saya begini : PDIP menyatakan dukungan pada pasangan Ahok-Jarot. Nantinya mereka mendaftarkan pasangan itu ke KPU atas nama PDIP. Sementara Golkar, Nasdem dan Hanura berposisi jadi partai pendamping.

Wajar. PDIP punya 28 kursi di DPRD DKI, jadi bisa mengusung Cagub sendiri.

Lalu Gerindra dan Sandiaga Uno makin kelimpungan. Usaha mereka ngomporin Risma bertarung melawan Ahok gagal total. Padahal dalam hitungan politik dan akal sehat, cuma Risma yang punya potensi jadi lawan Ahok yang seimbang.

Lali gimana dengan koalisi kekeluargaan? Itu cuma kerjaan orang iseng, yang sebel karena rezekinya dipotong Ahok. Sebelumnya anggota DPRD DKI bisa dapat jatah proyek puluhan milyar seorang. Dari situlah mereka menumpuk kekayaan. Tapi sekarang, mereka cuma makan gaji doang.

Jadi koalisi itu cuma penyelamat proyek ijon, bukan serius-serius amat. Makanya Ahok ngotot gak mau cuti kampanye, karena pada saat bersamaan akan ada pembahasan APBD. Dia mau pelototin setiap sen duit rakyat, agar tidak jadi bancakan. Ahok gak mau lagi ada pekerjaan UPS seharga ratusan milyar. Karena soal bancakan APBD itulah, dia sering dioyak-oyak parlemen.

Lantas bagaimana nasib kader PDIP yang kemaren ngotot asal bukan Ahok. Nah, kini sudah waktunya mereka mingkem. Berhadapan dengan titah partai, cangkemnya nanti seperti dipasangin kawat biar tidak bisa mengongong lagi. Memang sebaiknya biarkan saja mereka berebut paling ganteng sambil main bedak-bedakan bersama kambing.

Ke depan Sandi mungkin akan makin sering keliling Jakarta naik Metromini. Jika mau senam bersama masyarakat, dia juga kudu memilih jenis CD agar gak perlu lagi melakukan klarifikasi tentang sebab-musabab tonjolan itu.

Gaya Sandi bisa dianggap sekadar selingan saat Pilkada. Rakyat terhibur dengan kehadirannya. Kita juga wajib terimakasih kepada Sndiaga Uno. Dengan kehadirannya Ahok jadi punya pesaing riil. Sebab selama ini, yang ada cuma teman Ahok dan musuh Ahok. Tidak jelas siapa kompetitornya di Pilgub.

Tapi yang mengkhawatirkan adalah makin kencangnya isu rasial. Kasus pemukulan saudara kita etnis Tionghoa di TransJakarta adalah salah satunya. Menurut saya itu bukan cuma orang iseng yang nonjok orang lain. Saya yakin itu bagian dari provokasi untuk menyulut kebencian rasial. Alhamdulillah, tidak ada orang yang terprovokasi.

Perkiraan saya, provokasi model-model begini akan terus terjadi. Ada orang yang kepengin Jakarta ribut. Dari kekacauan itulah mereka dapat duit..
Load disqus comments

0 komentar