Rabu, 07 September 2016

SEBATANG LISONG KERINDUAN

"Cobalah," kata teman saya. Dia menyodorkan sebatang lisong. Saya ragu. Usia kami sebaya, saya 12 tahun dan dia sedikit lebih tua. Kami sedang nangkring di atas pohon jambu. Menikmati matahari sore Jakarta. "Kalau menghisap ini sambil dihayati, kita bisa berbicara dengan arwah," katanya lagi.

"Arwah orang yang sudah mati?," tanya saya penasaran.

"Iya. Coba saja. Ini bukan rokok, ini lisong," katanya meyakinkan. Apa bedanya? Saya ingat, waktu itu saya menolak tawarannya.

Saya masih kecil dan belum suka merokok. Tapi yang paling saya takutkan jika menerima tawarannya saya akan adalah bertemu arwah orang yang sudah mati. Entah apa yang akan saya bicarakan jika benar-benar bertemu. Kalau saja bertemu Gundala, mungkin saya lebih senang. Tapi, Gundala belum mati, kan?

Karena saya menolak, dia akhirnya mematikan lisong tersebut. "Kalau bertemu dengan arwah orang mati sendirian, gak enak. Kurang seru. Kalau bareng-bareng, pasti lebih asyik," begitu alasannya.

Lalu dengan cepat kami melupakan obrolan tentang arwah. Di tempat itu, kami bisa berlama-lama ngobrol tentang segala hal. Hampir setiap sore saya menikmati langit jingga bersamanya. Dari atas dahan pohon jambu di belakang rumah.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, setiap kali merindukan teman itu, saya akan memanjat pohon jambu. Duduk sendiri di dahannya sambil mengisap lisong.

Mungkin di sana, teman saya juga sedang duduk di batang pohon kuldi. Saya berharap dia juga menjepit sebatang lisong di tengah jemarinya.

Lantas kamipun akan bercakap-cakap. Melepas rindu. Menghabiskan sisa senja seperti biasanya.
Load disqus comments

0 komentar