Selasa, 25 Oktober 2016

AHOK, ANIES, AGUS MEWAKILI DIRINYA SENDIRI


Banjir di Jabar lebih disebabkan karena manajemen drainase yang belum tertata dan curah hujan tinggi. Bukan karena Gubernurnya dari PKS.

Demikian juga, berkurangnya banjir di Jakarta, disebabkan hasil dari keseriusan mengelola sungai dan fungsi drainase. Bukan karena Gubernurnya Tionghoa dan Kristen.

Ini menyangkut kemampuan manajerial dan konsistensi pembenahan tata kota. Gak ada hubungannya dengan agama, partai dan etnis seorang Gubernur.

Jadi jika di Jabar terjadi banjir besar dan di Jakarta banjir justru berkurang jauh, bukan berarti Gubernur muslim lebih buruk dibanding Gubernur non-muslim. Itu cuma menandakan, cara pengelolaan aliran air oleh Ahok, jauh lebih efektif dibanding Ahmad Heryawan.

Dalam konteks apapun kita tidak bisa bilang Ahok mewakili tionghoa kristen. Begitu juga Ahmad Heryawan tidak mewakili muslim. Mereka cuma individu-individu yang mewakili dirinya sendiri. Dengan visinya sendiri-sendiri. Titik.

Jika saja Harry Tanoe yang tionghoa dan kristen jadi Gubernur Jakarta, belum tentu dia bisa mengelola drainase sebaik Ahok. Kalau mempopulerkan sebuah mars, mungkin Harry Tanoe lebih jago. Atau jika Kang Dedy Mulyadi yang putra Sunda dan muslim jadi Gubernur Jabar, mungkin saja drainase Bandung jadi jauh lebih baik.

Saya fikir, itulah cara yang tepat menilai seorang Gubernur. Kita butuh hasil kerjanya. Butuh kemampuan manajerialnya dalam menata kota. Butuh keberpihakan yang nyata pada kepentingan publik. Butuh visinya mengembangkan kehidupan masyarakat. Kita tidak butuh seberapa yahud cara beragamanya dan apa agamanya. Atau dari etnis apa dia dilahirkan.

Agus Hartimurti adalah Agus Harimurti. Tidak mewaliki mantan militer, etnis Jawa dan muslim. Anies Baswedan adalah Anies. Tidak mewakili keturunan Arab. Begitupun Ahok ya, ahok. Tidak merepresentasikan siapa-siapa.

Nilai saja managerial skill, trackrecord-nya, hasil kerja dan kemampuan masing-masing Cagub. Termasuk sikapnya dalam memberantas korupsi. Sebab variabel itulah yang nanti akan kita rasakan hasilnya.

Soal seberapa taat dia beragama, gak ada pengaruhnya buat rakyat. Kalau dia taat beragama, dia toh cuma masuk surga sendirian. Jangankan kita, wong istrinya aja belum tentu diajak.

Yang kita penting adalah Gubernur Jakarta yang mengajak kita sejahtera bersama. Yang mampu mewujudkan Jakarta sebagai kota yang lebih maju, tertata dan manusiawi. Tinggal tentukan, siapa diantara Ahok, Anies, atau Agus yang memenuhi kreteria itu.

Cukup di Sumut saja yang rakyatnya diminta berkeadilan sementara Gubernurnya sejahtera sendiri. Akibatnya kini Gubernur itu dipenjara karena mengkorupsi dana Bansos!

Jadi Gatot ya, Gatot. Mantan Gubernur Sumatera Utara. Tidak mewakili muslim. Kalau dia korupsi, dia korupsi sendiri. Pengemplang BLBI yang beretnis tionghoa, misalnya, mereka memang penjahat, tapi jadi penjahat sendiri. Tidak mewakili siapa-siapa.

Nah, debat tentang etnis apa yang paling korup. Atau penganut agama apa yang hobi nyolong, adalah obrolan paling aneh di planet ini. Mereka semua memang maling. Ya, cuma maling. Tidak mewakili etnis atau agama apapun.
Load disqus comments

8 komentar