Senin, 10 Oktober 2016

PERTEMPURAN ABADI


Membaca tulisan saya tentang Yaman yang dibombardir Saudi, teman saya bertanya sedih : kenapa muslim harus berperang dengan muslim? Bukankah Nabi dulu hanya memerangi orang-orang non-muslim?

Di kepala teman saya --sebetulnya pemahaman yang sama juga pernah ada di benak saya-- perang dalam sejarah awal Islam itu adalah peperangan antar agama. Perang orang Islam dengan yang bukan Islam. Hanya itu. Makanya dia sedih ketika mengetahui kini umat islam saling membantai sesama muslim.

Tapi Rasulullah tidak pernah memerangi satu golongan hanya karena mereka bukan Islam. Rasulullah memerangi mereka karena perbuatannya yang dzalim. Rasul tidak hanya menyerukan agar mereka baca syahadat dan setelah itu selesai. Sebab dalam sejarah, Rasul pernah menolak ketika orang-orang Quraish menawar mereka mau mengikuti Islam, tapi menolak meninggalkan kebiasannya yang lain.

Intinya perseteruan yang dibawa Nabi adalah perseteruan sejati : antara pembawa panji keadilan dengan pelaksana kedzaliman. Antara kaum tertindas dan para penindas. Orang-orang Quraish tidak terlalu terganggu jika hanya diminta mengganti Tuhan. Mereka sangat terganggu karena dengan kehadiran ajaran
Nabi, ketidakadilan yang selama ini menguntungkan mereka hendak dihapuskan. Mereka menolak kenikmatannya dibatasi oleh ajaran Rasul.

Perseteruan penegak keadilan dan kedzaliman ini yang akan berlangsung terus sampai akhir jaman.
Beberapa tahun setelah wafanya Nabi, cucu tercinta dan keluarganya berhadapan dengan ribuan tentara. Puluhan ribu musuhnya itu, adalah mereka yang juga membaca dua kalimat syahadat. Mereka mengakui Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad sebagai Rasulnya.

Mengapa Al Husain terus melawan, padahal di hadapannya berdiri ribuan tentara yang juga mengucapkan kalimat syahadat? Mengapa menerus misi kenabian itu rela berhadapan dengan sesama muslim?

Al Husain hanya mencontoh Datuknya, Rasulullah. Salah satu misi penting kenabian adalah menegakan keadilan. Seluruh perang yang dilakukan Rasulullah, intinya adalah pertempuran melawan kedzaliman. Bukan perang antar agama. Bukan permusuhan kepada pemeluk agama lain. Imam Husain merelakan nyawanya demi tegaknya keadilan. Sebab keadilan adalah ruh ajaran kakeknya. Islam minus keadilan hanya akan jadi slogan kosong yang dimanfaatkan untuk memetik keuntungan.

Pengorbanan Husain menjadi inspirasi besar orang-orang yang hatinya tertambat pada keadilan. Semangatnya menjadi energi perjuangan orang-orang tertindas. Gandhi, Che Guevara, atau Soekarno pernah dibakar oleh semangat Al Husain, ketika mereka berdiri tegak melepaskan bangsanya dari penjajahan.

Dengan kata lain, kejahatan dan kedzaliman, siapapun pelakunya, adalah tetap kejahatan dan kedzalian. Muslim yang jahat sama nilainya dengan nasrani yang jahat, Muslim yang korup sama derajatnya dengan pemeluk Budha yang korup. Penganut katolik yang curang sama busuknya dengan Muslim yang curang.

Orang-orang dzalim, apapun agamanya, nilainya sama saja. Mereka adalah musuhnya Al Husain!
Load disqus comments

0 komentar