Senin, 03 Oktober 2016

RUANG KOSONG

Dunia ini membutuhkan semakin banyak orang yang ragu pada keyakinanya sendiri. Kalimat ini kesannya cemen. Tapi mungkin ada benarnya.

Cemen karena keraguan biasanya diasosiasikan dengan tidak tegas. Tidak bulat tekad. Dalam bahasa agama, imannya tidak mantap. Iman yang goyah, tentu bukan sikap yang menarik.

Tapi apakah iman yang mantap itu? Meyakini bahwa keyakinan kita yang paling benar, hingga sama sekali tidak tersisa ruang kosong untuk diisi yang lain? Padahal jika masih ada ruang kosong berarti tetap terisa tempat dalam diri manusia yang memungkinkan diisi peluang kebenaran baru yang bisa saja berbeda dengan keyakinan sebelumnya. Semacam proses pencarian yang terus menerus.

Ada sebuah dokrtin kebenaran yang saya ingat : kebenaran itu tunggal. Jika A benar, maka selain A adalah salah. Atau jika ada lima pilihan kebenaran, jawabnya hanya dua. Salah satunya benar dan yang lain salah. Atau semuanya salah, dan kebenaran ada di luar pilihan itu.

Rata-rata orang beragama meyakini doktrin tersebut. Maka lahirlah fanatisme. Sebab kebenaran baginya bersifat tunggal. Jika dia benar, yang lain salah. Yang lain sesat atau kafir.

Tapi dengan kapasitas manusia yang amat terbatas, benarkah sikap seperti itu? Inilah paradoxnya. Setiap agama menempatkan manusia sebagai mahluk lemah. Penuh kesalahan dan kekhilafan. Tapi di sisi lain justru seperti mendorong manusia untuk mantap dengan imannya. Mantap dengan keyakinannya, seolah posisinya sebagai mahluk lemah dan mungkin melakukan kesalahan, dinihilkan sama sekali.

Maka kita melihat orang-orang bertikai atas nama keimanan. Mereka yang seagama saling mengkafirkan, hanya karena berbeda tafsir atas suatu teks kitab suci yang sama. Apalagi pada orang yang tak seagama.

Imbasnya orang merasa berhak membunuh orang lain yang berbeda agama atau tafsir. Sebab baginya keyakinan yang lain pasti salah. Orang jadi begitu biadab karena yakin yang dijalaninya adalah misi kebenaran.

Dalam dirinya ruang untuk mempertanyakan kembali hal-hal mendasar tentang keyakinannya mungkin sudah ditutup. Tidak ada lagi ruang kosong dalam hatinya. Semuanya penuh terisi.

Dengan kata lain, dalam soal menafsir kebenaran, mereka justru menafikkan posisi manusia sebagai mahluk tempatnya salah dan alfa. Mereka menempatkan dirinya sebagaj manusia super yang tidak mungkin salah. Baik salah tafsir maupun salah pilih keimanan.

Mungkin inilah tantangan para penganjur agama. Di satu sisi dia harus memupuk kadar keyakinan seseorang. Di lain sisi dia juga harus terus menyadarkan bahwa manusia adalah dhaif, terbatas, dan bisa salah. Bahkan bisa saja salah dalam memilih atau menafsir kebenaran sebuah agama.

Saya pernah baca catatan harian Ahmad Wahib. "Tuhan aku beribadah padaMu bukan hanya pada saat aku yakin tentangMu. Juga pada saat aku ragu tentang diriMu..."

Ah, saya kok jadi pusing sendiri...
Load disqus comments

0 komentar