Minggu, 20 November 2016

BUTUH TERAPI MASSAL


Sebagian masyarakat di Burma sungguh sedang sakit ketika etnis minoritas Rohingya ditindas dan dirampas hak hidupnya. Jika diam saja atas penindasan ini, Aung San Su Kyi tidak pantas lagi memegang Nobel Perdamaian.

Penindasan atau perampasan hak minoritas adalah contoh telanjang kedegilan manusia terhadap manusia lain. Apapun agama dan etnisnya. Apapun alasannya.

Yang lebih sakit, orang yang mengutuk penindasan etnis Rohingya di Burma, tapi melakukan kekejian yang sama di negerinya. Mereka paling aktif merampas hak-hak minoritas disini.

Ada lagi yang sakit level 9. Mereka justru menjadikan tragedi Rohingya untuk membenarkan kebiadaban serupa di tempat lain.

Saat terjadi pemboman gereja yang mengorbankan anak-anak di Samarinda, misalnya, saya sering dapat jawaban, "Baru satu anak yang mati saja sudah ribut. Coba lihat Rohingya, berapa anak yang teraniaya setiap hari?," tulis mereka, dingin.

Dari statemen itu, saya seperti menangkap bahwa Intan Olivia Marbun, bocah mungil 3 tahun, adalah orang yang harus bertanggungjawab atas kesengsaraan penduduk Rohingya di ujung Burma sana. Kegilaan ini dipertontonkan tanpa malu, disebar kemana-mana melalui jejaring sosial.

Entah bagaimana cara kerja otaknya hingga bisa menarik benang merah dari kejadian-kejadian yang sama sekali tidak berhubungan. Entah kenapa mereka bisa membenarkan kebiadaban dengan menuding kebiadaban lain.

Masyarakat seperti ini tampaknya perlu terapi otak secara masal. Kecuali mereka yang otaknya sudah habis dimakan tikus...
Load disqus comments

0 komentar