Selasa, 22 November 2016

KETIKA SEMUANYA BERBALIK


Ingat kata-kata Fahri Hamzah saat demonstrasi 4 November kemarin? Katanya, cuma ada dua cara pelengserkan Presiden. Oleh parleman di gedung DPR atau oleh Parlemen jalanan. Lalu bersama Fadli Zon, Fahri mempersilakan para pendemo menginap di gedung DPR.

Untung saja, pagar gedung DPR dikunci. Jadi, peserta demo tidak bisa masuk. Mereka terlunta-lunta dan tidur di depan pagar. Keesokan harinya, dengan bus milik Pemda DKI, masyaraat yang diangkut dari luar Jakarta itu, dibantu untuk dipulamgkan.

Orang bisa menebak kenapa peserta demo itu 'diundang' ke gedung DPR? Mungkin keberhasilan gerakan 1998 meruntuhkan Soeharto menjadi inspirasinya.

Di ujung demonstrasi ada juga kericuhan. Polisi menembakan gas air mata untuk membubarkan pendemo yang mulai anarkis di malam harinya. Sebetulnya sejak siang, aparat lebih banyak menahan diri dengan ulah pendemo ini. Sebagian peserta demo ada yang sengaja menyerang aparat, dengan maksud memprovokasi terjadinya kericuhan saat peserta demo masih bejubel.

Untung saja, aparat tidak bereaksi. Reaksi polisi yang agak keras baru diperlihatkan pada malam hari. Setelah jumlah pendemo jauh berkurang.

Entah kenapa, yang mengherankan, ribut kecil di depan istana itu, dibarengi dengan adanya penjarahan di daerah Luar Batang, perbatasan Jakarta Barat dan Utara. Padahal jaraknya lumayan jauh. Alhamdulillah, semua bisa dilokalisir dan tidak merembes kemana-mana.

Kenapa reaksi rakyat Jakarta pada 4 November itu, berbeda dengan reaksi pada saat 1998? Menurut saya, suasana kebathinan rakyat saat ini jauh berbeda dengan 1998. Pada jaman Soeharto sebagian besar rakyat menyimpan kekesalan dan kekecewaan yang mendalam. Berbeda dengan sekarang. Dalam survei, tingkat kepuasan rakyat pada pemerintahan Jokowi angkanya di atas 70%.

Rupanya tokoh-tokoh yang suka menunggangi kepala rakyat, tidak putus asa. Gagal pada 4 Nopember, mereka menggulirkan ide 25 Nopember. Sayangnya, polisi bergerak cepat. Proses hukum kasus Ahok dilaksanakan transparan. Ahok ditetapkan sebagai tersangka. Melempemlah isu demo besar tanggal 25 Nopember tersebut.

Tapi toh, karena masih percaya diri akibat keberhasilan 4 Nopember, Mereka ngotot mau demo lagi tanggal 2 Desember. Bahkan ada rencana akan menginap di gedung MPR/DPR segala.

Bersamaan dengan itu, disebarlah isu rush money. Targetnya agar ekonomi ambruk, rakyat kelaparan, lalu ramai-ramai menurunkan pemerintahan yang sah. Orang mudah membaca bahwa Ahok hanya sasaran antara saja. Target sebenarnya adalah menggoyang kedudukan Jokowi.

Makanya Jokowi langsung bergerak cepat. Konsolidasi dilakukan. Pertama dengan kekuatan militer, Polri dan tokoh-tokoh agama. Lalu dengan ketua-ketua partai. Hampir semua ketua partai ditemui Jokowi, kecuali SBY. Padahal tanpa hujan tanpa angin, pencipta lagu sekaligus vokalis itu sudah membantah,pihaknya terlibat dalam demonstrasi kemarin.

Konsolidasi yang dilakukan Jokowi mulai terasa hasilnya. Panglima TNI dan Kapolri menyampaikan dengan tegas pelarangan demo 2 Desember. NU dan Muhamadiyah sejak awal sudah jelas sikapnya. Semua ketua partai, menyatakan diri setia pada konstitusi. Demikian juga MUI yang fatwanya dijadikan rujukan, kini malah melarang demo 2 Desember. Hal yang sama disampaikan Arifin Ilham dan banyak tokoh lainnya.

Yang pasti, itu semua berubah ketika Kapolri Tito Karnavian bersama Panglima TNI melansir bahwa ada pihak yang merencanakan makar. Rapat-rapat sudah diadakan, ujar Tito. Jika benar ungkapan Tito, kita tahu rencana makar itu disusun dengan cara menunggangi umat Islam.

Saya rasa, statemen Tito yang serius inilah yang membuat gentar para petualang politik.

Jangan heran jika kini semuanya berbalik. Dengar saja omongan Fahri Hamzah sekarang. "Jika ada yang mau menjatuhkan pemerintah Jokowi secara ilegal, saya akan membelanya secara terbuka."

Yang tersisa tinggal seorang lelaki berbadan besar dengan rambut rapih seperti dilumuri lem. Ia duduk di pojokkan halaman sambil memegang gitar. Hatinya gundah. "Kok, undangan makan belum datang juga. ya?," katanya dalam bathin.

Lalu terdengar suara perempuan berteriak dari dalam rumah. "Pak, ayo masuk. Di luar banyak angin..."
Load disqus comments

3 komentar