Senin, 07 November 2016

LASKAR CINTA, KEHILANGAN CINTA

Saya ingat, Ahmad Dhani pernah menjadi pesakitan seperti Ahok. FPI mencercanya karena menganggap Dhani melecehkan Islam. Pasalnya, logo Republik Cinta, menurut FPI berasal dari kaligrafi Al Quran yang bertuliskan lafaz Allah.

Apalagi logo itu dicetak sebagai lantai panggung dan diinjak-injak.

FPI mengecam Dhani sebagai penista Islam. Dhani lantas berlindung di belakang Gus Dur, bahkan sampai mengidentifikasi dirinya sebagai warga Nahdiyin.

Dengan begitu, Dhani mendapat dua keuntungan. Albumnya laku, karena memang lagunya enak dan menyampaikan pesan-pesan cinta. Kedua, perlindungan Gus Dur menjadi tameng bagi Dhani dari serangan FPI, sekakigus tambah melambungkan namanya.

Ketika mendengar lagu-lagu Dhani pada album tersebut, kita seperti menemukan jejak Jalalludin Rumi, sang sufi besar. Bahasanya halus dan bermakna dalam. Dhani berhasil memperkenalkan bahasa cinta universal kepada publik. Bahasa keindahan.

Tapi, menyimak kiprah dan komentarnya belakangan ini, kita mendapati Ahmad Dhani yang lain. Dia justru menjadi penghujat nomor wahid Ahok, yang ditudingnya menista agama. Dhani mencampakkan begitu saja semangat Abdurahman Wahid yang pernah melindunginya. Mungkin karena Gus Dur sudah lama wafat dan tidak lagi 'profitable'.

Dhani mencampakkan semangat Gus Dur yang tidak mau menjadikan agama cuma sebagai simbol.
Semangat Gus Dur untuk merajut toleransi agama dalam bingkai ke Indonesiaan.

Bahkan tidak tersisa lagi Rumi dalam bahasanya sekarang. Mendengar orasi Dhani di tengah masa pada demo kemarin, boro-boro Rumi, bahasa Dhani lebih mirip preman kelas coro. Dengan menggenakan pakaian serba putih, Dhani mengobral 'kebun binatang' di tengah masa.

Kenapa Dhani begitu berubah? Kita tidak tahu. Yang kita tahu pasti, sekarang Dhani bukan lagi sekadar seniman. Dia sudah menjadi aktor politik. Dia maju sebagai Cawabup Kabupaten Bekasi, diusung PKS.

Masalahnya, lingkungan politik yang dimasuki Dhani, adalah lingkungan yang terbiasa mengemas politik dengan bungkus agama. Jadi kalau sekarang Dhani paling getol menuding-nuding Ahok, kita bisa melihatnya itu sebagai kampanye agar dia diidentifikasi sebagai mewakili suara muslim. Sama seperti dulu ketika dia ingin diindentifikasi sebagai anak ideologis Gus Dur. Dia tahu, di Kabupaten Bekasi, isu agama masih seksi diperdagangkan. Apalagi yang agak keras.

Kasihan warga Bekasi, jika harus memiliki Wabup yang suka menganjing-anjingkan Presiden. Suka membabi-babikan kepala negaranya sendiri.

Saya sendiri kini menilai Ahmad Dhani cuma sebagai pedagang. Dia bisa memperdagangkan toleransi. Dia juga bisa memperdagangkan antitoleransi.

Sama seperti pedagang pasar malam. Hari ini menjajakan sempak, besok jualan BH. Tergantung permintaan saja...
Load disqus comments

0 komentar