Jumat, 11 November 2016

MEMILIH KUDA DALAM KARUNG


Kalau Hillary Clinton jadi Presiden AS, pajak orang-orang-orang kaya akan dinaikan. Sebaliknya jika Trump yang menang, akan ada pemotongan pajak.
Hillary lebih condong meneruskan kebijakan pasar terbuka. Sementara Trump memilih proteksi kepentingan dalam negeri.

Itu cuma sedikit isu yang bisa diprediksi dari kampanye Presiden AS. Penduduk AS bisa memilih kehidupan masa depan apa yang ingin dijalani. Sebab, kampanye Pilpres AS menjembreng sederet program dan apa yang akan dilakukan Presiden saat penjabat nanti.

Bayangkan jika dalam kampanye Pemilu isu yang dimunculkan terus menerus tidak berhubungan dengan program kerja, arah kebijakan, trackrecord kandidat atau skill manajerial. Rakyat diarahkan memilih dengan pertimbangan melulu emosional.

Pemilu seperti ini sangat menguntungkan kandidat yang miskin program atau lemah ide. Sebab rakyat tidak diarahkan memilih secara rasional tentang kebijakan apa yang bisa ditagihnya nanti. Mereka cuma diajak memilih yang ganteng, yang santun, yang keren, yang seagama. Itu yang terjadi di Pilkada Jakarta.

Bagaimana orang mau menagih janji kalau dasar pilihannya karena kegantengan? Paling-paling mereka hanya bisa protes saat Gubernurnya potong rambut tapi modelnya gak cocok. Atau mereka demo karena motif batik Gubernur dianggap norak.

Kini yang paling mengemuka dalam Pilkada DKI adalah isu tentang agama. Isu soal statemen kontroversial Ahok. Sialnya isu itu menenggelamkan debat tentang apa program masing-masing kandidat untuk membangun Jakarta. Akibatnya perhatian rakyat tidak lagi fokus pada kualitas-kuakitas riil sang kandidat.

Kalau masih ada kasus Ahok, biarkan saja hukum yang berjalan. Itu sudah ada yang menangani. Sudah waktunya kita kembali ke laptop, kembali menelusuri prestasi masing-masing calon Gubernur. Menelusuri isi kepala mereka dan apa rencana-rencananya untuk masa depan Jakarta.

Sekali lagi, jika kita sibuk ngomong apa agama calon Gubernur, kondisi ini sangat menguntungkan kandidat yang miskin program, tidak punya prestasi dan tidak cukup meyakinkan hasil kerjanya.

Sebab apa yang bisa ditagih dari seorang Gubernur jika dasar pilihannya karena agama yang dianutnya? Atau hanya karena sukunya?

Apa rakyat mau protes ke Gubernur karena tadi dia sholat Dzuhur gak berjamaah? Atau kenapa waktu kutbah Jumat ketiduran? Atau kenapa minggu lalu Gubernur telat ke gereja?

Saya rasa tidak. Rakyat butuh tahu, apa program para kandidat Gubernur itu untuk mengurangi banjir. Apa rencana tentang pengembangan transportasi masal. Bagaimana memperbaiki layanan publik. Bagaimana mengikis korupsi APBD. Bagaimana menjamin kehidupan ekonomi, pendidikan dan sosial. Itu yang akan dirasakan rakyat dari seorang Gubernur.

Soal apa agama dan sukunya, itu gak ngaruh buat rakyat.

Jika seluruh waktu kampanye kita habiskan untuk isu-isu berbau agama dan rasial, sementara debat tentang program tidak mengemuka, itu sama saja rakyat disuruh memilih kuda dalam karung.

Kita tidak tahu, isinya kuda sembrani atau cuma anak kuda yang masih ingusan...
Load disqus comments

0 komentar