Minggu, 20 November 2016

PARA BANDIT BUTUH TUMBAL


Umat Islam didorong untuk menguras tabungannya di bank atau rush money. Apa targetnya?

Yuk, kita berkaca pada kasus 1998.

Waktu itu publik kehilangan kepercayaan pada perbankan. Bermula dari krisis mata uang. Rupiah ambrol dari Rp 2500 per dolar AS menjadi Rp 9000. Pengusaha yang punya utang dolar tapi pendapatanya rupiah, langsung jatuh miskin.

Mereka tidak mampu membayar cicilan kredit alias kredit macet. Lantas publik kehilangan kepercayaan pada bank lalu mereka beramai-ramai mengambil duit simpananya. Terjadilah rush atau kekacauan sistem ekonomi.

Apa akibatnya? Bunga bank tinggi, karena bank berharap dana yang diambil masyarakat kembali lagi. Ini menyebabkan bunga kredit ikut-ikutan naik. Kalau bunga pinjaman 30%, tidak ada usaha yang layak dijalankan.

Lalu pengusaha gulung tikar. PHK dimana-mana. Produksi terhenti. Harga-harga melambung. Rakyat tidak bisa membeli barang kebutuhannya. Lalu mereka kelaparan. Siapakah yang paling menderita? Rakyat kecil.

Ok, siapa rakyat kecil di Indonesia? Kebanyakan adalah umat Islam. Merekalah korban pertama jika ekonomi Indonesia ambruk. Mereka korban pertama dampak rush money.

Kok, kenapa sekarang malah umat Islam didorong melakukan rush money? Padahal itu seperti menyuruh mereka menelan racun yang akan membunuhnya?

Kita tahu, pemerintahan Jokowi kini sangat keras mengejar tax amnesty. Orang-orang yang punya duit berusaha dimonitor. Para koruptor yang selama ini menyimpan asetnya di LN, kudu melaporkan kekayaanya.

Kalau simpanan itu ditarik semua, lalu dibawa ke Indonesia, perbankan Singapura bakal sempoyongan. Jadi para koruptor takut asetnya keendus. Bank di Singapura juga kuatir kantongnya jebol.

Nah, menjelang dana-dana dari luar kembali ke Indonesia, dihembuskanlah isu rush money ini. Tujuannya agar ekonomi kacau. Padahal saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk tiga besar di dunia.
Jadi isu rush money ini sebetulnya adalah usaha ngumpetin aset haram, agar tetap tersimpan pada bank luar negeri dengan menjadikan rakyat sebagai tumbal.

Rakyat yang ditumbalkan itu diharapkan ngamuk seperri jaman Soeharto. Ini akan membuat pemerintahan Jokowi ambruk. Celah itulah yang dimanfaatkan petualang polirik.

Yang paling gila, mereka menghembuskan rush money dengan cara mendompleng isu agama, distempel oleh para penjual ayat. Itu sama saja mendorong umat Islam bunuh diri masal.

Artinya ajakan rush money ini adalah bertemunya kepentingan para bandit korup, perbankan asing, petualang politik dan para penjual agama. Mereka mencoba bersekongkol menumbalkan rakyat lalu memetik keuntungan dari kubangan airmata rakyat.

Herannya ada juga orang yang mendukung kedegilan ini. Meskipun dukungan mereka gak terlalu mengkhawatirkan juga, sih.

Gimana mau rush money, wong beli pulsa aja yang gocengan!
Load disqus comments

0 komentar