Jumat, 11 November 2016

TERIMAKASIH BUYA


Seorang rekan menuliskan kisah, sesaat setelah bubar acara ILC kemarin. Acara itu menghadirkan ustad dan banyak tokoh agama, membahas tentang Pasca 4 Nopember. "Aa Gym dan Ulama lain pulang menggunakan Alphard dan Velfire. Buya Syafii Maarif pulang dari acara dengan Avanza, berisi enam orang."

Kisah itu cuma gambaran kesederhanaan seorang Syafii Maarif. Dengan ketokohannya, tidak sulit bagi Buya untuk mendapatkan jabatan dan kemewahan. Tapi tidak. Buya lebih banyak menolak. Baginya dunia pendidikan lebih memukau ketimbang jabatan politis dan kemewahan.

Buya Syafii adalah satu dari sedikit tokoh yang masih mempertahankan kesederhaaan hidup. Pandangan-pandangannya jernih tanpa dirusak oleh kepentingan politis. Bagi Indonesia yang kini pengab dengan slogan politis, fitnah, caci maki dan umpatan, suara Buya bisa menjadi semacam oase yang menyejukan. Ia adalah orang yang konsisten membela keyakinannya.

Konsistensi Buya membela keyakinan dan keadilan yang kini membuatnya dicaci-maki orang-orang tolol di medsos. Mereka berani menista orang yang selama hidupnya diabdikan untuk memikirkan kepentingan umat. Padahal jika mereka mau membuka mata saja, mereka akan dapatkan Buya Syafii Maarif adalah seorang ulama, ulama luar dalam.

Coba dengar tanggapannya tentang kasus Ahok secara utuh. "Ahok ini mulutnya memang kasar. Berbisa. Dia tidak bisa hifzullisan. Tapi menurut saya dia tidak punya niat melecehkan Al-Qur'an dan ulama. Dalam hal ini saya beda pendapat dengan fatwa MUI. Saya tidak membela Ahok. Buat apa? Coba Anda buka Al-Maidah ayat 8. Orang tetap harus berlaku adil kepada siapa saja yang dibencinya," seperti yang dituliskan Erik Tauvani Somae, ketika menemui Buya Syafii Maarif.

Jadi bukan karena Buya membela Ahok. Baginya tidak penting siapa Ahok. Untuk orang seperti Buya Syafii Maarif, kekuasaan tidak pernah menyilaukan matanya. Di usianya yang 81 tahun, beliau telah selesai dengan dirinya sendiri. Ia hanya konsisten menjalankan perintah Al Quran, khususnya Al Maidah ayat 8. "...dan janganlah kebencianmu pada satu kaum membuatmu berlaku tidak adil..."

Tapi ada sebagian orang tolol yang otaknya dimakan tikus, lalu dengan berani berkata kasar kepada Buya
Syafii Maarif. Hanya karena merasa pendapat yang dilontarkan beliau tidak sama dengannya. Tampaknya kita harus mengurangi hama tikus agar populasi orang-orang yang seperti ini tidak bertambah banyak.

Sebab sejatinya kita patut berterimakasih pada beliau. Pada apa yang secara konsisten ia jalankan dan perjuangkan. Pada caranya mencintai agama dan bangsanya.

Terimakasih Buya Syafii Maarif yang telah menjadi mata air bagi bangsa ini..
Load disqus comments

1 komentar: