Minggu, 18 Desember 2016

MEREKA MIRIP KUCING SEDANG BIRAHI

Kelompok Radikal
Tenaga Kerja Asing
Seorang senior tokoh pergerakan dalam sebuah obrolan santai menjelaskan, sebelum income per capita (IPC) kita mencapai USD 6000, Indonesia akan terus dilanda gonjang-ganjing seperti ini. Sekarang IPC Indonesia USD 3.377 (sebetulnya sudah mencapai USD 3.660, tapi turun lagi karena depresiasi rupiah). Jadi tugas kita menjaga agar Indonesia tidak berjalan mundur. Begitu katanya.

Dengan income per kapita mencapai USD 6000, tandanya demokrasi kita sudah lebih matang. Hukum berjalan dalam koridor yang baik dan kecerdasan masyarakat terus membaik. Bisa dikatakan, kuda-kuda kebangsaan kita sudah semakin kuat, tidak mudah digoyahkan.

Saya setuju dengan kesimpulan itu. Tapi mencapai kematangan itu, tentu bukan jalan mudah. Menjelang Indonesia naik kelas, memang akan banyak kekuatan dunia menghalangi. Bayangkan, negeri kaya ini, dengan jumlah penduduk besar, sangat berpotensi menjadi pemain besar dalam peta pertarungan dunia.

Era keterbukaan ini membuat kekuatan-kekuatan ekonomi dunia lama semakin mengendur. Ekonomi AS,

Jepang dan Eropa jalan di tempat. Krisis Yunani dan negara-negara Eropa Timur belum kunjung putih. Timur Tengah tidak habis dilanda konflik, bersamaan dengan harga minyak dunia yang sempat porak poranda. Amerika Selatan juga babak belur akibat harga komoditas yang hancur-hancuran. Apalagi Afrika yang selalu sibuk dengan konflik suku.

Sementara Indonesia sedang membangun kepercayaan dirinya. Jalan ke arah sana sudah digagas Jokowi. Dengan infrastruktur yang semakin merata, menciptakan kesamaan harga BBM di seluruh negeri, berbagai paket kebijakan yang memangkas hambatan investasi. tax amnesty, dan kebijakan lainnya memberikan arah cerah kemajuan bangsa ini. Para pakar menilai, Indonesia sedang berjalan dalam track yang benar.

Hasilnya, meski ekonomi dunia lesu, Indonesia tetap bisa mencapai angka pertumbuhan tinggi. Bahkan termasuk yang tertinggi di dunia, setelah China dan India.

Perlu diketahui Indonesia adalah satu-satunya negeri muslim moderat yang dianggap sukses menerapkan demokrasi. Keberhasilan Indonesia dalam bidang ekonomi dan stabilitas politik dalam negeri diperkirakan akan menjadi kiblat baru bagi negara-negara muslim lainnya.

Tapi, jalan ke arah sana juga tidak gampang. Kebangkitan Indonesia sangat tidak disukai oleh mereka yang selama ini berpesta menghisap habis kekayaan bangsa ini. kekuatan kapitalis dunia ini bekerjasama dengan cecunguk dalam negeri untuk terus mengoyak-ngoyak bangsa kita.

Cara paling efektif meruntuhkan sebuah bangsa dengan menyulut konflik horisontal. Rakyat yang dilanda konflik adalah landasan paling enak untuk masuknya kekuatan asing. Langkah ini sukses di Timur Tengah dan Afrika. Pola yang sama akan diterapkan juga di Indonesia.

Jangan heran kalau sekarang isu murahan seperti serbuan pekerja dari China terus disuarakan. Apalagi membawa-bawa PKI segala. Targetnya agar timbul kebencian pada etnis Tionghoa di Indonesia. Padahal, jumlah TKI yang bekerja di RRC jauh lebih banyak ketimbang pekerja China yang ada di sini.

Isu kedua yang sangat efektif untuk menciptakan konflik horisontal adalah agama, khususnya Islam. Sepuluh tahun terakhir, kita semakin sering menemukan orang yang intoleran. Menyebarkan kebencian pada penganut agama lain. Bahkan mengkafir-kafirkan sesama Islam.

Secara global, jika Indonesia mampu menerobos masuk sebagai pemain penting dunia, baik secara ekonomi dan politik, bangsa ini akan menjadi kiblat baru dunia. Khususnya dunia Islam. Negeri dengan penduduk Islam Suni terbesar bisa menjadi inspirasi bagaimana sebuah pemerintahan dijalankan. Bagaimana kekuatan agama dan demokrasi, saling bersinergi. Dengan kata lain, agama tidak menjadi halangan bagi kemajuan.

Tapi sekali lagi. Di Indonesia masih berkeliaran spesies dengkul yang kesurupan agama. Mereka ini diperalat untuk merusak negaranya sendiri. Untuk terus menerus menciptakan konflik horisontal dalam masyarakat.
Mereka mengajak Indonesia berjalan mundur, seperti yang dialami Syuriah, Irak, Libya, atau Yaman.
Mereka tidak ikhlas, jika bangsa ini menjadi lokomotif perubahan dunia.

Sialnya, mahluk-mahluk ini, meskipun jumlahnya sedikit, tapi paling berisik. Suaranya rame. Mirip kucing sedang birahi.

Tugas kita, menyiram kucing itu dengan air, agar genting bangsa ini tidak jebol akibat ulahnya.

Meeongggg...
Load disqus comments

5 komentar