Senin, 23 Januari 2017

ISIS di Spanduk Anti Wayang

Radikalisme
Pelarangan Wayang Kulit
Sebuah video menggambarkan pasukan ISIS sedang menghancurkan bangunan bersejarah di kota Mosul, Irak. Dengan menggunakan palu dan bor, runtuhlah bukti sejarah dari peradaban masa lalu. Bagi kelompok ini semua bangunan yang berisi relief dan artefak kuno adalah rumah berhala.

Para arkeolog, sejarawan dan ahli filologi pasti menangis melihat pemandangan mengerikan ini. Memang tidak semua artefak itu dihancurkan, sebagian dibawa keluar Mosul untuk di jual di pasar gelap. Duitnya untuk membiayai operasional kelompok barbar itu.

Bukan hanya itu. ISIS menyerang dan membakar perpustaan di Mosul yang berisi ribuan manuskrip kuno. Mereka juga menghancurkan patung kerbau bersayap peninggalan budaya Assiria, yang dibuat abad ke-7 sebelum masehi. Hal yang sama dilakukan di Palmyra, Suriah. Banyak bangunan dan artefak bersejarah di kota indah di Suriah itu, kini tinggal puing.

Ideologi Wahabi takfiri yang dikampanyekan Saudi Arabia dan kini diwakili ISIS memang jenis pikiran yang buta sejarah. Mereke emoh dengan kehalusan budaya dan memandang semuanya dengan kacamata agama yang dangkal. Ketika pada kitab suci terdapat kata berhala, yang pada jaman Nabi dilambangkan dengan patung, mereka menyangka semua patung adalah berhala.

Padahal sejak jaman Nabi dan kekhalifahan, Irak dan Suriah berada dalam kekuasaan pemerintahan Islam. Jika saja dulu Nabi menganggap semua petung adalah berhala, tentu saat ini tidak ada lagi patung di seluruh Irak. Atau kita tidak mungkin bertemu Piramida dan Spink di Mesir.

Tapi, untunglah umat Islam memiliki seorang Nabi yang halus akhlaknya dan jernih fikirannya. Beliau sangat menghargai sejarah dan memerintahkan umatnya untuk mempelajari sejarah agar bisa memetik hikmah dari sana. Sebab sebagian isi Al Quran sesungguhnya adalah kisah-kisah masa lalu.

Apa yang dihasilkan ideologi yang tua sejarah ini? Adalah kehancuran peradaban masyarakat. Di Suriah dan Irak yang dikuasai ISIS kita menyaksikan puing-puing peradaban. Di Afganistan jaman Taliban, kita juga menyaksikan kerusakan sendi-sendi kehidupan. Bahkan, ada fatwa yang mengharamkan bermain layang-layang dan berdirinya barbershop.

Lalu apakah Afghanistan menjadi masyarakat maju, dengan konsepsi seperti itu? Tidak juga. Selama dikuasai Taliban, Afghanistan menderita kemiskinan akut dan konflik horisontal yang tak pernah habis. Anak-anak kurang gizi dan kehidupan kaum perempuan yang terdzalimi. Saya rasa, semua orang yang punya akal sehat tidak akan mau mendorong Indonesia di kuasai orang model Taliban. 

Siapa juga yang mau merusak masa depan anaknya sendiri?
Soal pembakaran patung ini, saya jadi teringat kasus penghancuran patung yang menjadi penghias jalan di Purwakarta. Slogan yang diteriakkan sama dengan ISIS, bahwa patung-patung itu adalah sejenis berhala baru yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Kini, kita juga meihat pemasangan berbagai spanduk yang menolak pagelaran Wayang Kulit, dengan alasan tidak sesuai dengan ajaran Islam. Padahal dulu, dengan medium kisah-kiah pewayangan inilah Wali Songo mengajarkan Islam di Nusantara. Karena pendekatan kebudayaan itulah, Islam berkembang sampai sekarang.

Barangkali saja itu sekadar aksi menjelang Pilkada, sebab yang menyelenggarakan pagelaran adalah satu satu tim kandidat Paslon Gubernur. Tapi, betapa sangat mengkhawatirkan jika karena soal Pilkada Jakarta, yang dipamerkan justru cara berfikir model ISIS kepada masyarakat Jakarta. Hanya karena mau menang Pilkada, ada orang yang bersedia mengkampanyekan buah pikiran desttruktif.

Sekarang memang Wayang Kulit, dan kita menertawakan kejahilan mereka. Tapi jangan kaget suatu saat akan juga akan penolakan cerita HC Andersen seperti kisah Cinderella dan Putri Salju. Alasannya simpel karena Cinderella dan Putri Salju tidak pakai jilbab. Atau mereka akan menolak cerita Smurf, karena mahluk kecil berwarna biru itu memakai kupluk, bukan pakai sorban.


Atau bagaimana tentang kisah Timun Mas? Sebab dalam kisah itu ketika raksasa mau melahap sang putri kecil dia lupa membaca doa sebelum makan. Itu sangat tidak syari'i...
Load disqus comments

0 komentar