Selasa, 24 Januari 2017

Kehilangan Kepala

Radikalisme
FPI
Pada suatu malam, ada orang yang datang mencuri kepalaku. Dia masuk melalui jendela, menerobos langsung ke kamar tidur. Lalu memetik begitu saja kepalaku. Aku memang terlalu lelap malam itu, sehabis seharian duduk menghitung rintik hujan dengan kalkulator.

Baru dipagi hari aku menyadari kepalaku sudah tidak ada di tempatnya. Hilang begitu saja. Aku sadar ketika pagi itu, seperti biasanya, ingin menenggak segelas air putih sebangun tidur.
Dengan kondisi masih mengantuk aku menyambar gelas di meja. Begitu hendak minum, aku bingung mencari-cari di mana bibirku. Bagaimana aku bisa berciuman dengan bibir gelas kalau bibirku sendiri ternyata tidak ada di tempatnya?

Mulanya aku mengira hanya bibirku saja yang hilang. Ah, mungkin cuma terselip, pikirku. Aku yakin tidak mungkin ketinggalan karena aku selalu membereskan semua bibir sehabis dipakai. Bibir yang berantakan sangat tidak menarik, bukan?

Aku baru nenyadari kehilangan itu ketika bercermin. Ternyata yang hilang bukan hanya bibir, tapi kepalanya sekaligus. Sebetulnya sejak bangun tidur juga sudah mulai terasa ada yang janggal cuma aku belum sadar telah kehilangan kepala.

Dasar maling serakah. Semunya nau diambil, aku memaki dalam hati. Mungkin penjahat jenis ini yang sering dibenci kaum perempuan. "Sudah dapat bibir, malah minta kepala."

Yang paling merepotkan hidup tanpa kepala adalah bagaimana caranya aku menempatkan kacamata? Kalau tidak menggenakan kacamata, lantas bagaimana aku bisa membaca koran pagi? Aku ingin tahu perkembangan berita hari ini.

Ah, sudahlah. Lebih baik aku nyalakan televisi. Pagi-pagi begini biasanya ada acara berita. Putar-putar mencari channel menarik, aku teronggok disebuah informasi : seorang ketua organisasi agama datang ke Polda Metro memenuhi panggilan ke kepolisian. Tapi kali ini dia datang tanpa kepala.

Saya membayangkan jubah putihnya melambai-lambai. Bersama surban putih yang kali ini tidak dipakaikan pada tempatnya, hanya disangkutkan begitu saja.

Seorang reporter mewawancara salah seorang pengiring ketua organisasi itu. "Kenapa beliau datang tanpa kepala? Karena kami tidak mau ada sehelai rambutnya yang jatuh."
"Lalu sekarang kepalanya ada dimana?"
"Tuh, ada di kantong plastik," jawabnya santai. Lalu dia berteriak kepada anak buahnya untuk mengambilkan kepala. "Tolong ambilin kantong kresek merah di bawah jok mobil. Bawa kesini."
Setelah diserahkan anak buahnya dia langsung membuka kresek itu. "Guoblok! Bukan yang ini, taoo. Ini sih, kepala si Eko, penulis culun yang cuma berani nulis di FB doang. Yang ane maksud kepala ketua kite. Cepet ambilin..."

Dengan perasaan dongkol, anak buahnya menyambar kantong plastik itu. Dia menentengnya kembali. Tapi kaki ini dia tidak meletakan kembali ke bawah jok mobil. Dia malah menaruh kantong kresek itu di dekat tong sampah.

Dengan orang-orang yang sibuk meneriakkan nama Tuhan, siapa juga yang mau memperhatikan kantong kresek merah berisi sebutir kepala.
Hah?! Jadi kepala gue? Buset...
Load disqus comments

0 komentar