Senin, 23 Januari 2017

PANTATMU, HARIMAUMU!

Ahok pidato di P. Seribu dalam rangka kerjasama pengelolaan keramba ikan antara Pemda DKI dan warga. Dalam pidatonya ada kata-katanya yang disalahartikan. Pidato itu dilepaskan dari konteksnya, lalu dibubuhi teks yang akibatnya membakar emosi orang. pelakunya adalah Buni Yani.

Orang mendengar desas-desus omogan itu, lalu mereka juga menyimpulkan sendiri. Seperti kata sebuah survei, 88% yang menuduh Ahok menista agama tidak pernah menyaksikan video itu secara utuh. Tapi suasana sudah dikipas-kipas agar memanas. Maklum, isu ini bercampur dengan aroma persaingan menjelang Pilkada.

Sebelum polisi memeriksa kasusnya, Ahok mendatangi Polda Metro. Dia datang dengan kepala tegak. Ini sebagai salah satu ikhtiarnya untuk meredakan kesalahpahaman. Kedatangannya juga untuk menjaga publik dari perpecahan yang tidak perlu. Dia berkali-kali meminta maaf secara terbuka. Tapi su ini terus dijadikan semacam senjata untuk meringkus Ahok. Desakan disuarakan agar Ahok diproses secara hukum.

Ketika ditetapkan sebagai tersangka, Ahok menerima penetapan itu lalu menjalani konsekuensinya. "Jika demi kebaikan bangsa ini saya harus masuk penjara, saya siap," begitu katanya. Ahok adalah lelaki. Lelaki yang berani mengambil tanggungjawab. Dia hadir di persidangan dengan kepala tegak.

Suasana sebaliknya kita saksikan. Rizieq Shihab adalah seorang pembicara keagamaan. Dalam berbagai ceramah, kita gampang menemukan kata-kata 'ajaib' disemburkan olehnya. Presiden Jokowi, misalnya, berkali-kali disebut guobblokkk! Atau untuk Ahok, dia mencela dengan istilah 'kutil babi'.

Pancasila bentukan Soekarno juga dikatakan ada di --maaf-- pantat!. Bukan itu saja, dalam ceramahnya dia juga terang-terangan menghina keyakinan agama lain. Sebuah ungkapan yang Al Quran saja melarang untuk menistakan sesembahan orang lain.

Tidak usah jauh-jauh menilai ucapan Rizieq ini. Jika kamu punya anak, lalu dia berteriak padamu, "Ayah, peraturan di rumah ini pantasnya cuma ada di pantat!", lalu apa reaksi kamu? Mungkin kamu akan menjewernya. Atau memarahinya seraya menasehati. Sebab dengan alasan apapun, itu adalah kata-kata kotor yang tidak pantas diucapkan seorang anak. Lantas bagaimana jika kata-kata senada keluar dari mulut tokoh agama?

Karena kata-kata itulah Rizieq diperiksa polisi, sebab ada orang lain yang tersinggung dengan ucapan tersebut lalu mengadukannya. Juga karena kata-kata lainnya. Setidaknya Rizieq kini menghadapi berbagai tuntutan yang semuanya bersumber dari omogannya di depan publik.

Apakah Rizieq memilih tampil gagah di hadapan polisi untuk mempertanggungjawabkan ucapannya sebagaimana layaknya Ahok? Tidak juga. Berkali-kali dia mangkir dari panggilan penyidik. Setelah diancam akan dijemput paksa polisi, dia baru datang. Tapi, dia perlu segerombolan besar pengikutnya untuk mendampingi.

Bukan hanya segerombolan anggota FPI yang teriak-teriak paling nyaring. Tetapi nama umat Islam juga disangkut pautkan. Seolah-olah seluruh umat ini dianggap sama standar etikanya, mereka akan membela mati-matian seseorang yang beteriak : 'pantat!' di depan publik.

Jika Anda memarahi anak Anda yang bicara 'pantat' kepada orang lain, itu tandanya Anda masih punya etika standar. Tapi kalau anak Anda bicara 'pantat' di depan gurunya, lantas sekolah menjatuhkan hukuman kepadanya karena tidak sopan, apakah Anda sebagai orang tua akan membelanya lalu mengancam sekolah? Jika itu yang Anda lakukan, seluruh sekolah tahu, orang tua seperti apakah Anda.

Jadi bagi pengikut Rizieq silakan saja berteriak membela junjungannya dari ancaman hukuman. Itu urusan FPI dan rekan-rekannya. Tapi FPI tidak sama dengan umat Islam. Sebab, saya yakin, masih banyak umat Islam yang gak enak kupingnya mendengar kata 'pantat' diucapkan oleh seseorang di depan publik

Jadi urus saja pantat masing-masing. Bagi kita cukup peribahasa lama sebagai pegangan : pantatmu, harimaumu!

Grrhhhh.... duutttt...
Load disqus comments

0 komentar