Rabu, 25 Januari 2017

YA ALLAH, TUHAN YME. KOK, AHOK JADI TERSANGKA BENERAN, SIH?

Sidang Ahok
Sidang Ahok
Setelah sekian kali sidang kasus Ahok, kita melihat saksi-saksi yang dihadirkan JPU makin amburadul.
Saya jadi bertanya, apakah benar sejak awal niat mereka ingin kasus ini diproses secara hukum? Jika memang niatnya seperti itu, kenapa sejak awal seperti tidak mempersiapkan untuk menghadapi persidangan?

Mungkin begini. Sebenarnya mereka lebih berharap kasus ini tidak masuk wilayah hukum. Sebab tujuannya bukan mencari penyelesaian, tetapi agar bisa terus menerus menggoreng isu, minimal sampai hari pencoblosan. Tujuannya jangka pendeknya, agar publik teralihkan perhatiannya dari debat program kerja Cagub.

Soalnya jika Pilkada ini melulu dihiasai debat tentang kinerja dan prestasi, pasangan petahana pasti di atas angin. Apalagi tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Ahok-Djarot lebih dari 70%. Nah, pendatang baru tidak mau rakyat berfikir soal bagaimana pemerintah nanti mengatasi banjir atau bagaimana menyelesaikan problem birokrasi yang ruwet.

Jadi lebih baik rakyat diajak berfikir soal agama. Mengenai cara pengatasi banjir dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Jakarta, serahkan saja masalah itu kepada Tuhan.

Di awal kasus ini mencuat mereka menghitung tidak mungkin aparat memprosesnya secara hukum. Makanya ada ungkapan 'sampai lebaran kuda pun demo tidak akan berhenti'. Ini menegaskan bahwa isu seperti ini akan terus digelindingkan.

Keuntungan lain apabila kasus Ahok tidak diproses secara hukum adalah, tudingan bisa diarahkan kepada pemerintahan Jokowi. Bukankah sejak awal sudah disebar informasi bahwa presiden Jokowi akan mati-matian melindungi Ahok?

Tapi sial bagi mereka. Aparat malah bertindak di luar perhitungannya. Kasus Ahok diproses secara kilat. Kini kita saksikan mereka kedodoran menghadapi proses persidangan dengan saksi pelapor saling mempertontonkan kelucuannya di muka sidang. Karena sudah masuk ranah persidangan, isu penistaan agama akhirnya kempes. Kemudian publik Jakarta mulai berfikir rasional mengenai kualitas Cagubnya.

Wah, ini tentu berbahaya. Harus dicarikan lagi isu baru agar orang tidak berfikir ke arah kualitas Cagub. Muncullah sebuah ide brilian : bangkitnya PKI. Logo BI di lembaran uang dengan teknis cetak retroverso dituding sebagai gambar palu arit. Ini sungguh di luar nalar. Bahkan rezim Soeharto yang menjadikan PKI musuh bebuyutan pun tingkat kegilaanya tidak begini.

Tapi biarlah. Mau dianggap gila, kek. Mau dianggap mahluk planet, kek. Mau ditertawakan seluruh isi tata surya, kek. Itu gak penting. Yang penting agar orang jangan sampai berfikir tentang apa saja program kerja Calon Gubernur. Itu sangat berbahaya bagi Cagub yang kualitasnya sekelas panitia zakat : menerima dan menyalurkan APBD dalam bentuk tunai.

Wajarlah jika sekarang kita lihat Ahok justru menikmati posisinya sebagai tersangka. Elektabiltasnya justru meningkat. Survei Indikator Politik terakhir, angkanya sudah mencapai 37%. Sementara elektabilitas pasangan lain justru melorot.

Melihat kondisi ini, kabarnya ada orang yang kini merenung duduk di pojokkan sambil memegang gitar. Pelipisnya ditempeli koyo cabe. "Ya Allah, Tuhan YME. Kok, Ahok jadi tersangka beneran, sih?"
Load disqus comments

0 komentar