Sabtu, 21 Januari 2017

Yang Ringan di Hari Minggu

Santai
Minggu Santai
Ini hari minggu ketika orang berharap otaknya kendor. Seperti badan yang butuh selonjoran di sofa sehabis sehatian kerja bakti mengangkut sampah.

Sebaiknya saya tidak menulis yang berat-berat seperti tema soal khilafah, misalnya. Tema itu cuma cocok dibahas hari kamis sore, ketika hujan baru mereda. Ketika kendaraan tumpek di jalan dan macet total mengular. Salah satu alternatif agar jalan gak macet ya, dengan menerapkan pemerintahan syariah.

"Lihat dong Aceh. Jalanannya jarang macet. Beda sama di Jakarta, macetnya minta ampun. Karena apa? Karena Aceh menerapkan hukum Islam. Jadi untuk menyelesaikan masalah kemacetan Jakarta tidak ada jalan lain, selain menerapkan khilafah. Sudah ada bukti."

Saya, sudah dibilang, sedang malas membahas yang berat. Saya ingin pembahasan yang ringan-ringsn saja. Ngomong soal khilafah di hari minggu, sama saja ngomongin rasa kue keranjang pada kuliah subuh MNFP-MUI. Gak nyambung.

Lalu tema apa yang cocok dibahas di hari mingg? Sebuah tema yang ringan, nyambung dan berguna buat nusa dan bangsa? Itulah yang sedang saya fikirkan sekarang.

Kalau temanya soal jomblo, itu sudah saya tuliskan semalam. Lagi pula jomblo bukan tema yang ringan. Sama seperti pertanyaam yang diajuin tantenya pada setiap lebaran. "Lho, lebaran ini kok sendiri lagi. Sama kayak lebaran kemarin. Ajak main dong calonnya ke sini. Tante mau kenal.."

"Aduh tante ini. Ketinggalan informasi banget deh. Saya sudah masuk katolik, taoo. Mau jadi pastor, mesti selibat."

Nah, itu jawaban yang terdengar pas. Meskipun mungkin akan membuat tantemu langsung masuk ke dapur. Cuci muka. Lalu menangis tersedu-sedu sambil ngupas bawang.

Beda lagi kalau kamu cewek. Ditanya sama family, kapan kawin? "Itu temen-temenmu sudah pada punya anak lho. Kamu kok, masih begini-begini aja. Carilah cowok. Kalau sudah cocok, menikahlah. Mamamu pasti udah kepengen gendong cucu."

"Ya, wajar aja teman-temanku pada punya anak. Mereka gak pake pengaman, sih. Beda sama aku, dong," jawabmu enteng.

Tapi ini kan hari minggu. Tema jomblo terasa tidak pas. Lagi pula temanku, lelaki yang usianya menjelang azan magrib dan jomblo awet, kini sudah menemukan pujaan hatinya. Kemarin siang, saya mendapat kiriman undangan pernikahan darinya. Alhamdillah. Tuhan bersama orang-orang yang sabar, begitu pikir saya.

Sebuah kartu undangan indah, dicetak di atas kertas bertekstur lembut, dengan huruf warna emas. Saya perhatikan dia menulis nama saya dengan benar, sebab banyak orang yang salah menuliskan huruf pada nama belakang saya.

Saya buka pelan-pelan undangan itu. Kata-kata basi pada pembuka saya abaikan. Saya cuma ingin tahu, siapa nama perempuan yang kurang beruntung itu : Pradiptasari Indah Kusuma. Sepertinya nama yang bagus. Saya membayangkan perempuam tinggi langsing dengan rambut tergerai.

Tapi, kenapa di ujung nama perempuam itu, kok tertera tanda bintang kecil ya? Iya, betul, tertera tanda *). Saya tentu penasaran, mencari-cari apa maksud tanda itu.


Barulah saya temukan keterangannya di bagian bawah undangan : *) masih dalam konfirmasi.
Load disqus comments

0 komentar