Selasa, 14 Februari 2017

ADA HARRY TANOE, ADA JUGA AHOK

Antasari Azhar
Ahok dan Hary Tanoe
Indonesia kini punya dua politisi berdarah Tionghoa dan beragama Kristen. Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dan Harry Tanoesudibyo.

Harry Tanoe adalah pengusaha yang kerap menempel pada kekuasaan. Di jaman Soeharto Harry Tanoe dikenal dekat dengan keluarga Cendana. Dari sanalah dia membangun bisnisnya. Setelah Cendana ambruk, dia mencari cantolan lain.

Bermodal bisnis media di bawah MNC Harry Tanoe menapaki dunia politik. Mulanya dia berkongsi dengan Surya Paloh ingin membangun Nasdem. Tapi, mimpi Harry Tanoe terlalu tinggi. Dia ingin namanya disebut sebagai salah satu calon Presiden. Paloh ogah.

Lalu dia merapat ke Hanura. Wiranto melihat potensi media milik Harry Tanoe. Tapi, toh, rakyat tidak bodoh-bodoh amat. Gagal menunggangi Hanura, Harry Tanoe membuat Perindo.

Kini nama Harry Tanoe disebut Antasari Azhar sebagai orang yang menjadi kurir pembawa 'ancaman' SBY. "Saya bawa misi, saya diminta temui Bapak," ujar Harry Tanoe, seperti diceritakan Antasari. Dia meminta Antasari sebagai ketua KPK tidak menahan Aulia Pohan, mertua AHY, yang tersandung kasus korupsi Rp 100 miliar.

Sebetulnya kita tidak terlalu kaget dengan informasi ini. Sepak terjang Harry Tanoe memang selalu mengabdi pada kekuasaan.

Politisi Tionghoa beragama kristen yang juga menghiasi pentas tanah air adalah Ahok.
Karir politiknya dimulai dari bawah. Dia pernah menjadi anggota DPRD Belitung Timur, lalu terpilih menjadi Bupati di tanah kelahirannya tersebut. Saat kampanye sebagai Bupati, salah satu juru kampanye Ahok adalah Gus Dur.

Setelah itu, Ahok terpilih menjadi anggota DPR. Kita tahu, Ahok adalah anggota DPR yang melaporkan pengeluarannya kepada publik. Kita semua dapat mengakses informasi keuangan Ahok dari situsnya.

Ketika ada kelebihan dana, Ahok mengembalikannya ke kas negara. Ini yang selalu membuat pusing petugas sekretariat DPR. "Saya bingung mau dicatat sebagai pemasukan apa? Soalnya dalam sistem keuangan kami tidak ada pos pengembalian dana," ujarnya.

Tapi itulah Ahok. Baginya rakyat adalah tuan, dan dia hanya pelayan. Sebagai pelayan, dia harus amanah menjaga duit tuannya.

Sebagai Gubernur DKI Ahok mendapat dana operasional Rp 60 milyar setahun. Besaran uang itu diatur UU. Dana itu bisa saja digunakan untuk kebutuhan Gubernur. Nyatanya hampr seluruh anggaran operasional digunakan untuk rakyat. Orang-orang yang setiap pagi datang ke Balaikota mengadukan masalahnya adalah saksi untuk apa dana tersebut digunakan.

Tahun lalu Ahok mengembalikan dana operasionalnya Rp 4,8 milyar ke kas negara. Dia adalah satu-satunya Gubernur yang mengembalikan uang, yang sebetulnya dalam UU, bisa digunakan untuk kepentingan pribadinya.

"Bos saya adalah rakyat," ujarnya dalam satu sesi debat kandidat. "Saya bekerja untuk rakyat. Saya menjaga uang rakyat."

Indonesia punya dua orang politisi dengan latar belakang etnis dan agama yang sama, Tionghoa dan Kristes. Tapi keduanya berbeda sangat jauh. Ada yang menjilat penguasa. Ada yang mengabdi untuk rakyat.


Nah, nilai seseorang akan dilihat dari apa yang diperjuangkannya. Bukan karena ras dan apa agamanya...
Load disqus comments

0 komentar