Senin, 06 Februari 2017

ADA SEPATU KACA TERTINGGAL DI ISTANA NEGARA

Pilkada
SBY
Saban membaca twit Pepo, yang saya rasakan kok, seolah Indonesia sudah dalam kondisi darurat banget, ya?

Padahal Indonesia sedang berjalan biasa saja. Kampanye Pilkada memang berlangsung agak keras, tapi masih wajar. Indonesia ibaratnya seperti lelaki sarungan, duduk di beranda rumah, sore-sore dengan sebatang rokok dan pisang goreng. Ajib.

Tapi entah kenapa, di matanya Indonesia seperti seorang gadis yang telepon kepada cowoknya, "Yang, aku telat..." Gundah gulana dan serba salah.

Menjelang aksi 212, dia melempar komentar, mau sampai lebaran kuda juga demo gak akan berhenti sebelum kasus Ahok ditangani hukum. Kini Ahok sudah diproses ke pengadilan. Tapi rupanya lebaran kuda masih lama.

Lalu dia mencari perhatian dengan twitannya. Cuitannya yang menyebut Tuhan YME, mendatangkan reaksi. Disana ada kata-kata 'fitnah dan hoax berkuasa'. Orang-orang gampang mengkait-kaitkan maksudnya. Ini arahnya dutujukan Jokowi.

Cukup? Belum. Setelah itu dia merespon lagi tanya-jawab pengacara Ahok dengan KH Ma'ruf Amin. Padahal tanya jawab itu terjadi di dalam persidangan. Pengacara memang mesti mengelaborasi kesaksian saksi JPU. Begitupun nanti JPU akan mencecar habis saksi yang dihadirkan pengacara. Begitulah tabiat sebuah persidangan.

Di luar sidang, Ahok dan KH Ma'ruf Amin sudah menyelesaikan permasalahan secara baik. Permintaan maaf Ahok diterima KH Ma'ruf. Kasus selesai. Tapi SBY ngotot soal adanya penyadapan. Itu dilontarkan seolah Jokowi yang harus bertanggungjawab.

Yang menarik, beliau juga menyampaikan kepada publik bahwa selama ini dia tidak diberi waktu bertemu Jokowi. Apalagi ditambah informasi ada yang menghalanginya. Istana menjawab pertemuan bisa saja, tapi setelah hari pencoblosan tanggal 15 Februari.

Ini jawaban yang asyik. Istana seperti tidak mau direpotkan dengan urusan Pilkada. Jawaban ini membuat saya terhenyak. Jadi ujung dari gundah gulana ini memang semata soal Pilkada Jakarta?

Yang jadi jadi pertanyaan saya, kok cara komunikasi mantan ini dilakukan dengan sindir-menyindir via medsos, sih? Padahal dia pasti punya saluran untuk melakukan komunikasi dengan Presiden. Wong, dia 10 tahun jadi Presiden, kok. Kayaknya agak aneh jika dia malah curhat di medsos seperti ABG galau yang sedang marahan sama pacarnya.

Maksudnya, biar pacarnya membaca lalu meneleponnya gitu? "Kamu lagi kenapa, beib?". Atau mungkin juga ini sekadar jurus politik lama. Yang diharapkan adalah lmpahan simpati dari kondisi tertindas. Orang menyebutnya Cinderella effect. Cuitannya seolah mebggambarkan jika Cinderella sudah tidak jadi permaisuri lagi, ternyata dia diperlakukan seperti Upik Abu oleh pemerintahan sekarang. Makanya dia menuntut keadilan.


Nah, saya hanya ingin bertanya kepada Pak Jokowi dan Kapolri, sebetulnya di istana negara itu ada sepatu kaca yang tertinggal, gak sih?
Load disqus comments

0 komentar