Kamis, 23 Februari 2017

Ancaman Spesies Dengkul, Menolak Sholat Jenazah

AHOK
PILKADA
Di Jakarta beredar spanduk yang ditempel di mesjid atau juga berupa selebaran yang isinya bernada ancaman. Jika ada pendukung Ahok yang meninggal, maka mereka tidak akan disholatkan.

Yang lebih seru ada ancaman begini : jika Ahok menang di wilayah ini, maka habaib dan ulama akan menolak undangan ceramah agama di kampung ini.

Perut saya mendadak mules ketika membacanya. Sebelum saya teruskan menulis, saya harus ke toilet dulu. Entah kenapa, setiap menyaksikan pameran ketololan perut saya yang selalu paling sensitif bereaksi.

Setelah menunaikan urusan perut, baru saya teruskan menulis. Begini. Apakah Allah pernah mewajibkan sebuah ibadah kepada orang yang sudah meninggal? Saya rasa tidak. Kewajiban agama hanya diperuntukan kepada mereka yang masih hidup. Artinya setelah manusia meninggal, maka segala kewajibannya otomatis gugur.

Jadi kalau Allah memerintahkan manusia untuk melakukan sholat jenazah, sebetulnya itu kewajiban kepada mereka yang masih hidup. Jika saya meninggal, mau disholatkan kek, mau enggak kek, tidak ada lagi pengaruhnya buat saya. Yang terkena hukum wajib sholat jenazah itu adalah mereka yang saat itu masih hidup.

Jadi kalau ada ustad atau ulama yang mengancam jika keinginanya tidak dipenuhi dia menolak sholat jenazah, itu ancaman paling gokil dari seorang tokoh agama. Wong, itu kewajiban orang yang masih hidup kok, kenapa jadi mengancam jenazah? Jadi mau melaksanakan kewajiban kek, mau kagak kek. Itu kan urusan ente sama Tuhan.

Itu sama saja dengan ancaman, kalau ente milih Ahok, gue bakal nenggak Chivas nih? Haram, haram, deh...

Tapi terbersit pertanyaan. Kok bisa gara-gara Pilkada orang jadi begitu gampang menggadaikan agamanya? Sampai kewajibannya mau digugurkan sendiri hanya untuk menghalangi orang memilih Ahok.

Soal ancam-mengancam begini, saya jadi ingat ketika diundang acara tahlilan. Seperti biasa, jamaah duduk meriung membacakan doa. Sehabis baca doa, kami dipersilakan makan berbagai hidangan oleh tuan rumah.

Rupanya ada seorang jamaah sedang menderita diare. Tapi karena duduknya di pokokan dan posisinya terhalang ustad, dia jadi susah keluar. Sepanjang acara dia hanya menahan perutnya yang sakit. Sayangnya, jemaah ini gak mau rugi. Sudah tahu perutnya gak beres, tapi semua hidangan yang tersedia tidak mau dilewatkan.

Selesai acara, kami semua pulang. Hanya dia yang tetap duduk di atas tikar. Tuan rumah menegurnya. "Gak pulang, pak..."
"Gak. Masih betah. Ngomong-ngomong tiker ini bagus. Ente mau jual, gak?"
"Wah, bapak ini becanda. Masa saya menjual tiker bekas, sih..."
"Atau ane pinjem sebentar, ye. Ane suka sama motifnya..."
"Janganlah pak. Itu tiker orang. Saya juga boleh minjem."
"Kalau gak dikasih pinjem, ntar ane bikin kotor nih, tiker," dia mulai mengancam.
"Hahahaha... bapak ada-ada aja. Ya, gak apa-apa kotor. Nanti kita bersihin, pak."

Lalu si jemaah bangkit. Ancamannya terbukti. Dia benar-benar meninggalkan kotoroan ampas diare di atas tiker, "Tuh, kan. Ente sih, gak mau jual tikernye. Ane bikin kotor, deh tuh...."
Load disqus comments

0 komentar