Kamis, 02 Februari 2017

BIARLAH HAKIM BEKERJA

Politik
Ahok
Kesaksian Kyai Makroef Amin di pengadilan kemarin dalam kapasitas dia selaku ketua MUI. Ketika dikonfrontir oleh pengacara Ahok dengan berbagai pertanyaan kritis, kita melihat itu semata teknis persidangan. Sebab dengan cara itulah hukum bekerja.

Konsen pertanyaan seputar pada independensi MUI dalam mengeluarkan sebuah keputusan keagamaan. Apalagi yang bergesekan dengan kepentingan politik dan membakar emosi orang banyak.

Mengenai pembuktian bagaimana duduk perkara kesaksian itu, apakah Pak Kyai benar menerima 'perintah' telepon dari SBY atau tidak, kita serahkan pengadilan yang menilainya. Kita serahkan hakim mencari pembuktian hukumnya. Biarlah hukum bekerja.

Sayangnya kini kita saksikan ada pihak yang mencoba menarik-narik proses persidangan ke arena politik. Pertanyaan kepada Kyai Makroef Amin di ruang sidang malah dikait-kaitkan dengan NU.

Soal pertemuan AHY dengan PBNU, itu hal biasa. NU itu organisasi agama yang terbuka dan menjalin silaturahmi dengan semua pihak. Jika ada satu-dua orang tokoh politik bertamu, tentu bukan hal yang aneh.

Kita yakin NU di bawah Kyai Said Agil Siradj tetap konsisten menjaga khittahnya. Apalagi soal Pilkada, cuma setitik noktah dalam masalah keumatan yang menjadi konsen NU. NU terlalu besar untuk diajak bermain dalam Pilkada DKI.

Jadi bukan pertemuan itu yang dibahas dalam persidangan Ahok kemarin. Tapi adanya dugaan komunikasi Kyai Makroef Amin sebagai ketua MUI dengan SBY, dan itu menyangkut soal sikap keagamaan MUI.

Iya benar. Kyai Makroef adalah Rais Am PBNU, sebuah posisi yang sangat dihormati. Tapi kehadirannya di sidang kemarin semata dalam posisinya sebagai ketua MUI.

Tidak ada yang meragukan kapasitas keilmuan Kyai Makroef Amin. Hanya saja dalam dunia politik, beliau tidak selincah Gus Dur atau Kyai Hasyim Muzadi. Bahkan ada penilaian di internal MUI sendiri, Kyai Makroef seperti di kelilingi orang-orang dengan berbagai kepentingan.

Di internal MUI sendiri, ada berbagai emelen . Mulai dari pengusaha, akademisi atau tokoh agama. Mulai dari orang yang berpandangan lunak sampai garis keras. Belakangan memang terasa, orang-orang yang berhakuan keras seperti mendominasi arah gerakan MUI.

Mereka berlindung di bawah nama besar Kyai Makroef yang sekakigus tokoh NU ini. Bisa saja kepentingan mereka bertemu dengan pihak luar yang memiliki target politik praktis.

Setelah kemarin 'membakar' umat dengan aksi 411 dan 212, kini ada usaha baru untuk menarik jamaat NU dalam putaran kasus Ahok. Bisa dikatakan ini upaya kedua yang membawa-bawa emosi umat dalam pusaran Pilkada.

Sekali lagi, kita serahkan saja proses hukum pada jalurnya. Biarkan hakim menilai setiap kesaksian.
Untuk Anda semua saran saya sudah waktunya Anda mengangkat kepala dari layar HP. Jangan terlalu larut menunggu beredarnya file 3gp berjudul 'Di Kandang Kambing.' Ayo, kembalilah bekerja. Jangan buka FB melulu...
Load disqus comments

0 komentar