Senin, 27 Februari 2017

CELAKALAH TUKANG BUBUR YANG MURTAD

Cicendo Bandung
Bom Panci
Sebagai Imam Besar front pemakan bubur tidak diaduk, saya sedang kecewa berat. Tukang bubur merupakan partner kerja saya. Mereka adalah supplier setia yang menyiapkan kebutuhan paling vital yang dibutuhkan semua mahluk hidup : bubur ayam! Tapi hari-hari belakangan ini ada dua tukang bubur yang membuat nama profesi mulia dunia-akhirat itu jadi tercoreng.

Pertama adalah Salaman Nuryanto alias Dumeri dan kedua adalah Yayat Cahdiyat alias Abu Panci.
Dumeri mulanya adalah tukang bubur ayam yang mangkal di Depok. Tapi ia telah murtad, tidak mau lagi mendorong gerobak bubur. Dumeri mendirikan koperasi simpan pinjam. Sialnya dia hanya mau menarik simpanan, tapi tidak mau meminjamkan. Uangnya habis dibelikan rumah mewah, mobil mewah dan motor balap, juga kawin lagi.

Akibatnya orang yang menaruh uang pada Dumeri, gigit jari. Itupun jari mereka sendiri, bukan jari Dumeri.

Sementara Yayat alias Abu Panci adalah penjual bubur sumsum. Dia juga murtad sebagai tukang bubur. Bukannya mendirikan koperasi seperti Dumeri, dia malah jadi teroris. Mentang-mentang mantan tukang bubur, Yayat menggunakan panci untuk merakit bom.

"Itu panci baru. Merk-nya masih menempel," ujar seorang pengamat intelejen yang diwawancarai stasiun TV. Mungkin saja Yayat tidak menggunakan pamci lama, karena bokong panci sudah dekil. Kalau dilihat orang, malu. Masa panci gosong diajak jihad.

Selain sama-sama alumni tukang bubur, meski beda angkatan, keduanya juga seperti ada keterikatan dengan pewayangan. Dumeri menamakan usaha bodongnya dengan nama Pandawa Group. Sedangkan Abu Panci meledakkan bom di Taman Pendawa, di tengah kota Bandung.

Kenapa mereka memilih Pandawa? Saya menduga karena @kurawa sudah menjadi pendukung Ahok. Jadi mereka harus memilih nama lawannya. Entahlah.

Kesamaan lainnya, mereka berdua sama-sama sok menggunakan jargon agama. Dumeri kemana-mana pakai jubah putih, mirip Pangeran Diponegoro. Dia rajin menggelar pengajian yang dihadiri ribuan jemaah. Nasihatnya yang terkenal adalah "Taruh harta itu di tangan, jangan taruh di hati. Biarkan hati itu urusan Allah. Kalau harta hilang bisa dicari lagi. Serahkan pada gusti Allah."

Abu Panci juga begitu. Dia adalah anggota Jemaah Ansharut Tauhid, organisasi agama radikal beraliran Wahabi. Yayat meyakini jika dia mati membawa panci, ada 72 bidadari yang sedang menunggunya. Kesemua bidadari itu akan memerebutkan panci yang dibawa Yayat.

Lho, Yayatnya gak diperebutkan? Gak. Bidadari tidak suka dengan penjual bubur sumsum yang hobi gunakan kekerasan. Bidadari itu lembut, romantis, penuh kasih sayang dan perhatian. Cewek kayak gini mana cocok sama lelaki kasar.

Bagi Dumeri dan Yayat agama memang bisa ditekuk semaunya. Dumeri menggunakannya untuk mengumpulkan investasi yang dinikmati sendiri. Sekarang dia masuk penjara.

Sementara Abu Panci menggunakan doktrin agama untuk indehoy dengan bidadari. Yang jelas kini Yayat mati ditembak Polisi. Dia tidak mungkin dimakamkan bersama pancinya.

Jujur saja kedua alumni tukang bubur itu telah menodai profesi mulia ini. Saya berharap tidak ada lagi tukang bubur yang murtad, berganti profesi jadi penampung investasi bodong atau jadi teroris.

Kalau mereka cuma mau cuti naik haji sih, gak apa-apa. Lagi pula disana mereka masih bisa jualan bubur, buat sarapan Raja Salman.


Ah, saya jadi mikir. Raja Saudi kalau makan bubur ayam, diaduk apa gak, ya? Jika tidak diaduk, dia otomatis jadi jemaah saya.
Load disqus comments

0 komentar