Sabtu, 25 Februari 2017

SAUDI TIDAK MAU KETINGGALAN GERBONG

Wahabi
Raja Saudi
Raja Salman datang dari Saudi, banyak orang salah tingkah. Kaum minderan biasanya langsung memuja-muja seperti jongos menjilat bokong bosnya. Dianggapnya Salman datang membawa misi agama untuk menceramahi Jokowi tentang Islam. Atau dia datang seperti sinterklas yang mau bagi-bagi kado.

Padahal sesungguhnya kedatangan raja Saudi ini cuma karena gak mau ketinggalan kereta menikmati keuntungan dari ekonomi Indonesia yang semakin perkasa. Hampir semua lembaga keuanga internasional memproyeksikan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi keempat terbesar di dunia.
Menurut kabar Saudi berencana menanam investasi sampai Rp 300 triliun.

Apalagi musuh bebuyutannya seperti Iran terlihat makin serius bekerjasama dengan Indonesia. Iran terlibat dalam proyek pembangkit listrik, kerjasama teknologi dan sekaligus sebagai tujuan ekspor LNG asal Indonesia.

Jokowi memang bukan cuma seorang Presiden. Dia adalah marketing yang hebat. Dia tahu barang yang dipegangnya ini tergolong mahal.

Hampir semua kekuatan dunia diajak bekerjasama. China yang ekonominya kini terbesar di dunia dirangkul lebih mesra. Banyak proyek infrastruktur yang membutuhkan pembiayaan besar dan jangka panjang dikerjakan China.

Sementara Rusia juga diakrabi. Dengan Rusia Indonesia menjalin kerjasama militer dan intelejen. Ini semua untuk mencari titik keseimbangan agar Indonesia bisa berdiri sejajar berhadapan dengan kekuatan dunia.

Setidaknya kita tidak lagi bisa didikte AS. Kita tahu AS seringkali rewel, suka gertak, dan mau menangnya sendiri. Mirip FPI. Tapi syukurlah, Indonesia tidak lagi bersikap mengalah seperti dulu. Pajak Google terus dikejar dan Freeport diminta tunduk pada UU.

Kehadiran rombongan besar Saudi sebagai dedengkot Wahabi itu juga menguntungkan dari sisi politik dalam negeri. Selama ini penganut Wahabi salafi lokal memang sering bikin ulah. Bahkan dikenal sebagai pembenci Jokowi nomor wahid.

Nah, dengan keakraban Saudi dengan pemerintahan sekarang, mungkin membuat mereka jadi serba salah. Wong, bosnya aja gak masalah, kok. Malah mau bekerjasama. Masa keroconya bikin ribet terus.

Tapi apa benar, Saudi punya pengaruh sampai kesitu? Saya ingat beberapa waktu lalu. Saat itu Presiden Mesir yang berasal dari kubu Ikhwanul Muslimin digulingkan militer. Pada kader IM di Indonesia yang bernaung di bawah payung PKS teriak-teriak memprotes penggulingan Presiden Mursi itu.

Apalagi Erdogan di Turki juga memprotes keras. Tapi sial. Bukannya ikut protes, Saudi justru berpihak pada faksi militer dan menstempel IM sebagai organisasi teroris. Lalu reduplah teriakkan protes di dalam negeri.

Ulah raja Salman tampaknya juga membuat wahabi lokal kecewa. Mereka biasanya sering teriak-teriak syariatisasi. Malah di Indonesia sudah membuat wisata syariah di NTB. Lha, raja Saudi ternyata gak terlalu peduli dengan syariah-syariahan. Dia lebih memilih berkibur ke Bali yang non syariah ketimbang ke NTB.

Bahkan raja Salman sama sekali tidak tertarik menjenguk bagaimana perempuan Aceh naik motor sesuai syariah.

Sekali lagi, kedatangan raja Salman ke sini dengan rombongan besar menunjukan mereka tidak mau kehilangan peluang ekonomis di Indonesia. Selain mau menikmati udara Bali yang eksotis.

Saya sih, berharap, nanti ketika ke istana negara, Presiden Jokowi sempat menyentil raja Salman. "Man, ngomong-ngomong santunan buat jemaah haji Indonesia korban amrbruknya Crane di Mekkah, kapan dibayar? Udah dua tahun lho..."
"Ohh, sorry, Wi. Ane lupa. Hahahahhaha...,"
"Ente payah, ah. Gak Oke-Oce banget. Masa lupa-lupa melulu."
"Oke, Oce. Ntar ane beresin, dah..."
"Bener, ya. Jangan ngeles lagi..."
Load disqus comments

0 komentar