Kamis, 16 Februari 2017

SAYA JADI PENCURI DI MALAM ITU

Denny Siregar
Kopdar
Bertemu muka dengan Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga, rasanya seperti HP lowbat bertemu charger. Kamu seperti diisi energi baru. Itu yang saya rasakan beberapa hari lalu saat ngobrol dengan dua tokoh sosmed yang asyik ini.

Bersama Riri Nawangsari, Nurul Indra, Al Surya, dan mbak Rachmawati, kami asyik mengisi energi dari dua tokoh ini. Denny dengan kelakarnya dan Birgaldo dengan api semangat yang ditularkannya.
Waktu itu, sebetulnya saya memang agak jenuh untuk menulis. Tapi, saya malu dengan Birgaldo. Bayangkan, dia terbang jauh dari Batam hanya untuk memastikan pertempuran Pilkada ini. "Ini bukan soal Ahok, bro. Ini soal masa depan bangsa. Kebhinekaan kita harus terus diperjuangkan," katanya.

Jadi itulah alasan, kenapa abang satu ini mau berlelah-lelah teriak di atas kap mobil untuk mengawal sidang Ahok. Itu juga alasan dia mau mengorbankan banyak waktu, tenaga dan biaya untuk memperjuangkan sejumput harapannya tentang Indonesia.

Lain lagi celetukkan Denny. "Jangan malu-malu kalau nulis. Langsung saja menajam. Biar kena pada sasaran," ujarnya. Saya manggut-manggut. Sebagai salah satu penggemar tulisan-tulisan Denny Siregar --seperti juga ribuan orang lainnya-- kritikan itu tentu saja membuat saya disadarkan.

Harus diakui, cara Denny menyampaikan pesan dalam tulisan, cukup mengena. Ringan, jenaka, tapi tidak kehilangan ketajamannya. Sementara jika membaca tulisan Birgaldo, saya seperti terbakar. Dia memang pandai mengobarkan api dalam diri pembacanya. Api kecintaan pada Indonesia.

Obrolan mengalir. Semua bicara tentang Indonesia. Tentang masa depan tanah air yang indah ini. Tentang ranjau dan tikus-tikus yang banyak berkeliaran menggerogoti tanah ini.

Dan saya terus saja manggut-manggut menikmati pembicaraan seru di malam yang dihiasi gerimis.

Asyik juga ngobrol dengan orang-orang yang isi pikirannya bisa kita curi untuk sarapan besok pagi...
Load disqus comments

0 komentar