Kamis, 16 Maret 2017

FIR'AUN DAN ABU LAHAB DI JAKARTA

Pilgub DKI Jakarta
Ibu Hindun
Ketika kasus Ahok resmi masuk ranah hukum, orang-orang yang menuntut agar Ahok diproses hukum tetap turun ke jalan. Mereka menggelar aksi 212 di Monas.
Apa tujuannya? Untuk mengintimidasi!

Ketika kampanye Pilkada DKI secara resmi dibuka, orang dari kelompok yang sama melakukan penghadangan terhadap Ahok dan Djarot. Mereka melakukan intimidasi secara fisik.
Apa tujuannya? Untuk menebarkan ancaman.

Ketika ada muslim yang tidak sepakat Al Maidah 51 ditafsirkan untuk kepentingan Pilkada, mereka dituding kafir dan munafik.

Apa tujuan mengkafiran itu? Untuk mengintimidasi siapa saja yang berbeda pandangan dengan mereka.

Ketika banyak rakyat kecil tetap bersimpati pada Ahok karena sudah merasakan hasil kerjanya. Disebar spanduk di masjid dan musholla menolak menyolatkan jenazah pendukung Ahok.
Apa tujuannya? Untuk menakut-nakuti agar orang mengubah pilihan politiknya.

Ketika ada pengurus masjid tidak mau menjadikan masjidnya sebagai sarana provokasi politik. Dia dipecat oleh pengurus lainnya.
Apa tujuannya? Untuk mengintimidasi agar kampanye politik mendukung cagub usungan PKS di mesjid tersebut tidak ada gangguan.

Belakangan tersebar undangan Tamasya Almaidah, yang mengajak orang-orang luar Jakarta untuk datang ke Jakarta pada hari pencoblosan. Mereka diiming-imingi membela agama. Padahal cuma mau membela Anies-Sandi.

Apa tujuan orang-orang itu diajak ke Jakarta? Untuk mengintimidasi pemilih Ahok agar ketakutan. Seolah ada bayang-bayang kerusuhan jika Ahok menang Pilkada.

Saya merasa aneh. Orang-orang yang hobi menebar ancaman dan intimidasi itu memgaku sedang memperjuangkan kebenaran. Tapi sepanjang sejarah, kebenaran tidak pernah disebarkan dengan cara intimidasi dan ancaman.

Lihat saja para Nabi dan Rasul. Mereka adalah pembawa pesan Tuhan kepada manusia. Tapi tidak ada satupun Nabi yang mengancam orang yang tidak mau mengikutinya.

Lalu siapa yang suka mengintimidasi? Sejarah mencatat perilaku Firaun. Firaun mengancam akan merebus hidup-hidup Siti Masyitoh dan seluruh kekuarganya jika perempuan itu tidak mau melepaskan keyakinannya terhadap Musa.

Di jaman Rasulullah juga ada kisah tentang Bilal. Budak kulit hitam yang hatinya tertambat kepada ajaran Baginda Nabi ini diintimidasi untuk melepaskan keyakinannya. Dia dicambuk dan ditindih batu besar di tengah sengatan matahari.

Intimidasi dilakukan untuk memaksa orang mengubah keyakinannya. Dan sejarah mencatat ini dilakukan hanya oleh mereka yang menyebarkan kesesatan.

Di Pilkada Jakarta ini, kita menyaksikan Fir’aun dan Abu Lahab bertebaran. Mereka menebarkan ancaman dan ketakutan. Meneror siapa saja yang dianggap berbeda.

Saya saja yang meyakini makan bubur ayam mestinya tidak diaduk sebagai kebenaran hakiki, tidak berani menebar ancaman.

Saya cuma bisa menyerukan baik-baik kepada jemaah pemakan bubur ayam diaduk: sadarlah, kawan. Kembalilah ke jalan yang benar. Jangan kau rusak tatanan bubur ayam dengan adukanmu yang tidak berirama. Itu adalah kesesatan yang nyata.


Semoga kamu mendapat hidayah. Hidayah Nurwahid...
Load disqus comments

0 komentar