Sabtu, 25 Maret 2017

HIDUP DI TENGAH GEROMBOLAN ZOMBIE

Di Bekasi ada sekelompok mahluk biadab menyerang pembangunan gereja Santa Clara. Batu-batu beterbangan. Gereja Katolik itu secara hukum perijinannya sudah rampung. Mengikuti prosedur yang seharusnya. Mestinya tidak ada lagi masalah.

Tapi kita kini hidup di tengah kebuasan beragama. Orang-orang yang mungkin di malam hari sholat jemaah dengan khusyuk, di siang hari itu menunjukan kegarangannya.

Makna kalimat Allah yang rahman dan rahim, hilang dari hatinya. Yang ada cuma semangat penghancuran. Mereka beragama seperti zombie : tanpa akal, tanpa hati, tanpa akhlak, tanpa belas kasihan.

Zombie-zombie itu melempari polisi dengan batu. Seperti kesurupan. Mereka ngotot hendak menghancurkan gereja yang sedang dibangun.

Mulanya mereka meminta Pemda mencabut izin pembangunan yang sudah dikeluarkan. Tentu saja diitolak. IMB sudah, ijin lain sudah, lantas apalagi?

Tapi hukum hanya berlaku untuk orang waras dan normal. Tidak berlaku untuk zombie.
Siapa yang menulari mereka? Para pengkotbah provokator , politisi kelas kambing, stasiun TV ngehe, sekolah penyemai teroris, juga media penyebar fitnah.

Di rumah mungkin saja mereka adalah ayah yang mengasihi anaknya. Di kantor mungkin saja mereka karyawan biasa. Mereka bergaul dengan normal.

Tapi begitu sudah berkumpul, lalu pekik kebenciam dikobarkan, mereka berubah menjadi zombie. Merusak. Menyerang. Merangsek.

Gerombolan ini tidak perlu alasan apa-apa untuk menteror. Asal ada yang dianggap berbeda mereka akan berubah berubah jadi zombie. Bertindak tanpa akal, tanpa nurani, tanpa akhlak.

Beda agama, serang! Beda mazhab, hantam! Beda pilihan politik, sikat! Beda tafsir, bunuh!

Kita hidup di tengah-tengah gerombolan zombie. Makin hari, makin mengerikan. Mereka zombie beragama yang tidak percaya dengam kitab sucinya sendiri.

Load disqus comments

0 komentar