Senin, 13 Maret 2017

KENAPA SAYA MENDUKUNG AHOK?

Ahok
Ahok
Banyak orang yang bertanya, untuk alasan apa saya begitu ngotot mendukung Ahok? Setahun lalu, alasannya mungkin sederhana. Saya merasa perlu untuk mengapresiasi hasil kerja seorang Gubernur. Soal pembangunan fisik semua orang sudah melihat.

Meskipun semua Gubernur juga membangun, tapi pembangunan Jakarta di tangan Ahok memang luar biasa. Tapi orang bisa nilang, itu duit rakyat. Memang begitulah semestinya fungsi seorang Gubernur.

Ok. Saya tidak mau terlalu terbuai dengan pembangunan fisik, yang sering dinyinyiri Anies itu. Yang ingin saya apresiasi adalah Ahok berhasil mengubah paradigma birokrat Pemda. Yang semula berkaya bak raja-raja kecil tukang tilep, kini menyadari perannya sebagai pelayan rakyat.

Menurut saya itu terobosan revolusi mental. Pemerintah yang sadar pada fungsinya sebagai pelayan rakyat adalah pemerintah impian. Dan ketika Ahok berhasil membangun itu, saya tidak punya alasan untuk tidak mendukungnya.

Itu setahun lalu. Tapi makin belakangan alasan dukungan saya makin berubah. Ketika orang beramai-ramai mencaci Ahok karena alasan rasnya. Saya merasa ada yang tidak beres dari alasan itu.

Ras adalah anugerah Allah. Tidak ada yang bisa menentukan dia mau dilahirkan dengan orang tua yang mana. Jadi ketika kampanye rasialis didengungkan untuk menyudutkan Ahok, saya makin tergerak mendukungnya.

Indonesia terdiri dari ratusan suku bangsa. Jika hari ini kampanye rasialis dibiarkan melenggang, itu sama saja kita sedang menyiapkan bom waktu menghancurkan negeri ini.

Bagi saya, orang bisa saja berpindah agama. Tapi tidak mungkin bertukar ras. Jika ada yang mengkritik agamamu, dia mungkin sedang mengkriitik memahamanmu tentang Tuhan. Tapi orang yang mehujat ras-mu, sejatinya dia sedang menghujat kreasi Allah.

Bukan hanya ras. Ahok juga diserang dari sisi agama. Orang boleh saja percaya Al Maidah 51 dan ayat-ayat kepemimpinan dalam Al Quran berkaitan dengan Pilkada. Saya meyakini sebaliknya. Allah menurunkan ayat-ayat itu untuk makna kepemimpinan umat yang lebih luas. Bukan untuk kelas Pilkada. Al Quran terlalu agung jika cuma mengurus Pilkada DKI.

UUD kita juga sudah memberikan jaminan setiap warga negara berhak dipilih dan memilih dan politik. Itu adalah aturan main bernegara. Semua warga punya kedudukan yang sama tanpa dibedakan ras dan agamanya.

Ketika kampanye Pilkada ini melulu berisi penolakan Gubernur non-muslim dengan mengatasnamakan Alquran, bagi saya itu sama saja dengan perampokan hak konstitusional seorang warga negara. Perampokan apapun alasannya, dan dengan dasar apapun tetaplah perampokan.

Jadi di mata saya, Ahok adalah korban yang haknya sebagai warga negara hendak dirampas. Membela orang yang ditindas dan diperlakukan tidak adil adalah kewajiban. Maka alasan dukungan saya kepada Ahok berubah lagi. Saya cuma ingin membela mereka yang ditindas atas nama agama mayoritas.

Tapi belakangan alasan itu berubah lagi. Ketika kampanye semakin liar. Masjid-masjid menyuarakan tidak mau mensholatkan para pendukung Ahok jika wafat. Bukan hanya gertak. Tapi juga benar-benar dilakukan.

Semalam bersama teman-teman saya mendatangi rumah Almarhumah ibu Hindun binti Raisman. Untuk menghadiri tahlilan 7 harian. Almarhumah Ibu renta ini ditolak disholatkan di mushola dekat rumahnya karena dia memilih Ahok.

Jika sebelumnya yang dirampas adalah hak konstitusional Ahok sebagai warga negara. Juga merampasan hak semua non-muslim untuk dipilih. Kini yang dirampok adalah hak siapa saja yang mereka anggap berbeda.

Bahkan mereka juga merampas hak jenazah. Mereka menistakan mayat. Jadi alasan saya akhirnya berubah. Ini bukan lagi soal Ahok. Bukan lagi penting atau tidak memilih Ahok sebagai Gubernur. Tapi ini soal melawan orang-orang biadab dan dzalim di seberang sana.

Bagi saya sekarang soal Pilkada bukan lagi terlaku penting. Yang terpenting adalah melawan para kampret yang menungangi agama untuk kepentingan politik.

Kini tidak penting lagi alasan mendukung Ahok. Yang penting adalah saya harus melawan tersebarnya kebiadaban yang semakin nyata bentuknya. Ini jauh lebih berat dibanding menyadarkan seorang teman yang makan bubur ayam masih diaduk.
Load disqus comments

0 komentar