Jumat, 31 Maret 2017

PERI GIGI PRIBUMI

Pribumi
Peri Gigi
Daripada ngomong soal pribumi, saya lebih suka cerita soal peri gigi. Dia adalah mahluk kecil, bersayap seperti tawon. Memegang tongkat kecil yang dilambai-lambaikan. Rambutnya terjuntai indah berwarna pelangi. Ia memakai bando warna pink, dengan hiasan manik-manik di atasnya.

Peri gigi kadang mengunjungi manusia, khususnya yang sedang sakit gigi. Tujuannya untuk menghibur agar rasa nyut-nyutan bisa diredakan. Khususnya memberikan penghiburan kepada umat manusia yang sakit gigi.

Lihatlah dia bernyanyi di telinga seorang bapak yang pipinya bengkak ditempeli koyo cabe.
...dari pada sakit hati
lebih baik sakit' gigi ini
biar tak mengapa...

Dengan lagunya, peri gigi berharap orang bisa ikhlas menerima sakit gigi. Menerima kondisi dengan tawakal dan sabar.

"Gue sakit gigi, lu malah nyanyi. Berisik, tao!," semprot si bapak. Ludahnya muncrat. Matanya melotot dengan tangan memegangi pipinya.

Tapi peri gigi gak peduli. Sebagai seorang peri kudu tabah menghadapi perilaku orang sakit gigi. Di udara dia terus saja bergoyang melantunkan lagu itu.

Saking kesalnya si bapak terus nyerocos. Dia menukil kata mutiara dari Meggy Z.
...jangankan diriku
semut pun kan marah
bila terlalu' sakit begini...

Peri gigi tersenyum. Orang sakit gigi yang masih bisa melantunkan Meggy Z artinya dia sudah menunjukan tanda-tanda keikhlasan. Tidak ada yang dibutuhkan seorang pasien sakit gigi selain ikhlas dan tawakal.

Dia kini menunggu bait terakhir diucapkan bapak itu
...rela rela 
rela aku relakan

Ajaib. Setelah bait terakhir disemburkan, sakit giginya pelan-pelan menghilang. Dan ketika hilang rasa sakit, hilang juga peri gigi dari pandangannya.

Si bapak terhenyak. Dia menyusuri semua ruangan mencari peri gigi. Mahluk perempuan sebesar tawon yang memegang tongkat dan memakai bando dengan hiasan manik-manik.

Tapi peri gigi sudah menghilang. Entah kemana.

Buru-buru lelaki itu bangkit. Dicopot koyo dari pipinya. Sakit yang sudah menghilang membuat semangatnya tumbuh lagi.

"Mau kemana, pak. Katanya sakit gigi," istrinya menegur.
"Mau ikut aksi 313. Mau membela peribumi," ujarnya sambil terus berlalu meninggalkan rumah. Suara jawabannya yang penuh semangat begitu keras, hingga terdengar oleh peri gigi yang sedang beristirahat di atas awan.

Belum jauh bapak itu pergi, dia balik lagi. Sakit giginya kumat. Bahkan lebih hebat dari yang tadi. Kepala rasanya mau copot dari lehernya.

Rupanya si bapak belum tahu. Peri gigi itu dulu lahir di Krekot, Jakarta Barat. Ibunya asli Solo, ayahnya berdarah tionghoa. Waktu kecil dia dianggil Lingling. Dia juga lebih suka Meggy Z ketimbang Andy Lau.

Dari lahir sampai jadi peri, dia merasa orang Indonesia asli. Lahir di Indonesia, sekolah di Indonesia, jadi peri juga di Indonesia. Sebelum jadi peri malah dia pernah buka toko handphone di Roxi Mas. 

Makanya dia terisnggung jika ada yang mengotak-atik soal pribumi dan nonpribumi.
"Gak jadi membela pribumi, pak," istrinya bertanya.
"Eh, lu jangan banyak omong deh. Gue lagi sakit gigi. Ada prikemanusiaan dikit, kek. Gak usah banyak nanya," sembur si Bapak.

Istrinya kaget dibentak seperti itu. Dia ngeloyor pergi. Mulutnya melantunkan sebuah syair dari Mansyur S
Akupun menyadari orang tak punya
Tapi jangan diriku terlalu kau hina
Walau bagi dirimu tiada mengapa
Tapi bagi diriku kau buat kecewa
Biarlah derita ini ku tanggung sendiri
Karna diriku sudah tiada berarti
Tiada berarti
*) happy weekend
Load disqus comments

0 komentar