Kamis, 30 Maret 2017

RAPAT KELUARGA

Prosesi kematian
Kematian
"Jika aku mati, kalian jangan repot-repot," ujar seorang lelaki kepada anaknya. "Kuburkan saja. Lalu lupakan. Tidak perlu upacara ini-itu".

"Tapi, pak. upacara pelepasan itu penting. Itu adalah cara kami menghormatimu. Menghormati seorang bapak."

"Cukup kalian menghormatiku disaat aku hidup. Ketika aku mati, rasa hormat kalian tidak lagi berguna. Akupun tidak akan merasakan kehormatan apa-apa saat mati nanti."

"Keluarga apa yang menguburkan orang tuanya seperti mengubur kucing. Tanpa ada upacara. Mereka akan menganggap kami semua anak-anak durhaka. Bapak jangan egois begitu dong. Pikirkan juga nama baik kami yang masih hidup. Kami tidak mau dicap sebagai anak durhaka."

"Lho, yang tahu kalian durhaka atau tidak kan, aku, bapakmu. Kenapa pusing dengan perkataan orang. Aku sendiri tidak merasa begitu."

"Lagi pula, kalau bapak mati, toh bapak sudah tidak butuh lagi penilaian orang. Sementara kami yang masih hidup, masih butuh itu. Biarkanlah kami membuat upacara yang meriah. Kami hadirkan ustad ternama dan 1000 anak yatim untuk mendoakan bapak. Itu sebagai ungkapan kesedihan kami. Agar orang tahu, kami semua menyayangi bapak. Bapak juga tidak perlu pusing dengan upacara itu. Toh, bapak sudah mati," si bungsu menambahkan.

"Ah, kalian ini. Selalu membantah orang tua. Yang mati kan aku. Bisakah aku mengurus kematian dengan caraku sendiri?"

"Orang mati tidak bisa lagi mengurus apa-apa, pak. Itu urusan yang masih hidup," anak yang lain menimpali.

"Ya, sudah! sudah! Kalau kalian tetap tidak mau nuruti aku, bapakmu, aku urungkan saja niatku. Aku tidak jadi mati..."

Suasana rapat keluarga mendadak lenggang. Semua terdiam seperti bermain dengan pikiran sendiri. Ibu yang sedari tadi diam, kini mencoba mencairkan suasana. "Kalau memang belum ada titik temu, rapatnya kita lanjutkan minggu depan saja. Iya, toh, pak. Lagian bapakmu besok harus berangkat pagi-pagi ke bandara. Urusannya di Surabaya belum selesai."

Ibu memang selalu punya jurus ampuh meredakan suasana. "Sekarang, waktunya makan. Ibu sudah siapkan perkedel jagung dan gulai kepala ikan kakap kesukaan bapak. Kalian juga suka, kan? Enak lho. Ibu yang masak sendiri..."

Rapatpun bubar. Semuanya menuju ke ruang makan. Mereka tahu, membicarakan kematian di meja makan, bukan sikap yang sopan...
Load disqus comments

0 komentar