Selasa, 21 Maret 2017

ROMBONGAN RIANG GEMBIRA DI JAWA BARAT

Jawa Barat
Gus Dur
"Mas, untuk Pilkada Jawa Barat, nanti dukung siapa?," sebuah pertanyaan mampir di inbox. Saya tidak cepat-cepat membalas. Ini jelas pertanyaan yang gak gampang.

Tapi baiklah, saya akan coba jawab disini. 

Pertama, saya akan mendukung siapa saja yang berpolitik tidak mambawa-bawa agama. Siapapun yang nanti dalam prosesi kampanyenya membawa-bawa agama, saya pastikan akan ada di posisi berseberangan.

Kedua, jangan meributkan etnis. Putera daerah atau bukan, sama saja. Ini Indonesia. Semua orang haknya dijamin UU untuk dipilih dan memilih. Tidak ada kelebihan etnis A dibanding etnis B, kecuali hasil kerjanya. Kecuali visi dan programnya. Kecuali prestasi nyatanya.

Bukan berarti tidak boleh mengangkat budaya lokal sebagai bagian dari program. Memaksimalkan kearifan lokal sebagai energi pembangunan adalah kecerdasan tersendiri. Tetapi harus tetap diyakinkan bahwa itu dijalankan dengan tidak mengecilkan etnis lain.

Jika yang nanti maju sebagai Cagub semuanya berasal dari etnis sunda, itu bagus dan wajar. Wong memang ini Pilkada Jawa Barat. Tapi jika ada calon beretnis selain sunda yang mau mengambil kesempatan, ya gak apa-apa. Tidak ada salahnya.

Artinya saya mendukung siapa saja yang menjunjung pluralisme dan toleransi.
Bagaimana jika yang maju adalah istri bekas Gubernur? Kabarnya istri Ahmad Heryawan berniat mencalonkan diri. Bagi saya gak masalah. Itu tandanya Ahmad Heryawan nanti akan memimpin PKK Jawa Barat. Mungkin dia merasa lebih cocok jadi kader Posyandu.
Satu lagi, biasanya sebelum menjatuhkan pilihan saya mencari calon yang pendukungnya suka tertawa dan becanda. Sebab keriangan adalah refleksi dari kebebasan dan demokrasi. Saya gak mau mendukung calon yang dikelilingi oleh orang-orang jutek, hobi cemberut, dan sensian. Apalagi yang hobi menebar ancaman.

Bagi saya, orang-orang yang sok serius itu kebanyakan sedang memakai topeng untuk menutupi kelemahannya. Sok serius menjual agama, sok serius menjual kemiskinan, sok serius menjual rakyat. Ujung-ujungnya serius memanipulasi kekuasaan.

Orang-orang sok serius, biasanya gemar membawa-bawa agama dalam ocehannya. Kalau banjir, rakyat kudu sabar. Sebab Tuhan bersama orang-orang yang sabar. Kalau miskin, kudu ikhlas. Sebab itu cuma ujian di dunia.

Padahal demokrasi harus dihiasi dengan kegembiraan, kata Pakde Jokowi. Dan saya setuju. Kegembiraan adalah refleksi kejujuran. Tidak ada orang tertindas yang gembira. Tidak ada orang yang tertekan bathinnya yang sanggup menunjukan keceriaan.

Kalau pendukungnya saja sudah tertekan, mana bisa menularkan kegembiraan pada rakyat.


Tujuan saya cuma satu, jangan sampai Indonesia menjadi negeri terjutek di dunia. Dan rakyatnya menjadi orang-orang sensi dan baperan. Dikit-dikit kafir, dikit-dikit munafik, dikit-dikit PKI, dikit-dikit jihad. Gak asyik hidup di negeri seperti itu. Percaya deh..
Load disqus comments

0 komentar