Kamis, 02 Maret 2017

SAUDI PERLU BELAJAR DARI CHINA

Arab Saudi
Bendera Saudi-China
Saudi mungkin mulai mengamini kata-kata Deng Xiao Ping : tidak masalah kucing hitam atau putih. Yang penting bisa menangkap tikus.

Bagi Deng, tidak soal komunis atau kapitalis, yang penting bisa bermanfaat secara ekonomi. Cara berfikir pragmatis ini memang manjur. China kini berhasil membangun ekonominya. Bahkan ada yang mengatakan ekonomi China sudah melampaui AS.

Meski menganut sistem komunis, China tidak terlalu tertarik mengekspor ideologi, seperti yang dilakukan Uni Sovyet dulu. Mereka lebih getol mengekspor barang industri. Karena lebih jelas manfaatnya.

Ini juga yang dirasakan Saudi Arabia. Dunia tahu selama ini mereka getol mengekspor Wahabisme ke seluruh dunia. Sekitar 100 miliar US dolar digelontorkan untuk proyek itu.

Paham keislaman puritan ini juga dikenal sebagai bahan dasar ideologi terorisme. Bahkan sudah menjadi rahasia umum, Saudilah yang menjadi bandar kelompok-kelompok teroris.

Tapi kini ekonomi Saudi sedang sempoyongan. Subsidi energi untuk rakyat dikurangi, gaji PNS dipotong, dan neraca keuangan devisit. Saudi juga mulai mencari utangan ke luar negeri untuk menutup devisit keuangan.

Kondisi ini disebabkan harga minyak dunia yang tidak lagi seksi. Juga biaya perang Suriah dan Yaman yang mahal. Apalagi saat ini dunia mulai mengusahakan energi alternatif pengganti minyak dan energi fosil.

Saudipun dipaksa keadaan untuk membuka ekomominya. Mereka mulai mencari ladang-ladang investasi baru sekaligus mengundang investor masuk ke dalam negeri. Penjualan Aramco hanya salah satu upayanya. Nah, komitmen investasi Saudi ke Indonesia bisa kita baca dalam kerangka itu.

Untuk itu dibutuhkan citra. Saudi harus mandi dan keramas agar citranya sebagai pendukung terorisme bisa dibersihkan. Itulah yang terbaca dari salah satu poin kerjasama Saudi-Indonesia untuk memberantas terorisme dan radikalisme.

Salah satu pencitraan yang paling kentara adalah santunan Saudi untuk membiayai ibadah haji kepada kekuarga anggota Densus 88 yang wafat melawan terorisme. Padahal disini, para pemandu sorak kaum radikal sering mencaci tindakan Densus 88 itu. Entahlah. Apakah langkah Saudi ini akan membuat mereka mingkem?

Kita tentu senang-senang saja dengan proses pencitraan ini. Setidaknya perubahan orientasi Saudi itu bisa kita manfaatkan untuk membantu memangkas kekuatan kelompok radikal di dalam negeri.

Memang dunia kini makin praktis. Tidak ada gunanya lagi mengeskpor ideologi dengan biaya mahal untuk menguasai sebuah negara. Sejarah membuktikan negara-negara yang hobi perang lama-lama akan kedodoran ekonominya. Yang dibutuhkan saat ini adalah kerjasama saling menguntungkan.

Tidak penting lagi mempermasalahkan agama atau aliran keagamaan. Mau Wahabi, Suny, Syiah atau Ahmadiyah tidak penting dipersoalkan. Mau Islam, Kristen, Budha, atau Hindu itu urusan masing-masing manusia dengan Tuhannya. Urus saja imanmu sendiri-sendiri.

Yang penting apa manfaatmu bagi orng lain. Dan manfaat apa yang dapat dipetik dari orang lain.
Singkatnya, mau kucing hitam atau putih itu bukan masalah. Sepanjang bisa menangkap tikus.
Benarlah apa yang dikatakan Rasul yang mulia. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Saya rasa raja Salman sedang mengamalkan hadis Nabi tersebut.

Di Jakarta, saya rasa Anies yang berdarah Arab juga perlu belajar kepada Ahok. Fokus saja dengan apa yang bisa bermanfaat kepada warga. Jangan lagi gunakan isu agama untuk kampanye.

Slogan agama untuk kepentingan politik sudah gak oke-oce lagi.
Load disqus comments

0 komentar