Kamis, 23 Maret 2017

SIAP JIHAD, ASAL JANGAN NYUMBANG DUIT

Pilgub DKI Jakarta
Sandiaga-Anies dengan HT
Putaran kedua Pilkada DKI, semua kandidat pasti butuh biaya. Tim Ahok-Djarot memperkirakan kebutuhannya mencapai Rp 25 miliar. Sementara Anies-Sandi kabarnya menghitung kebutuhan sekitar Rp 19,8 miliar.

Dari mana dana itu didapat? Ahok-Djarot seperti sebelumnya menggalang dana dari publik. Bagi donatur bisa membuka situs yabg disiapkan, mengisi formulir lalu mentransfer donasinya.

Sampai minggu ini sudah terkumpul Rp 12,3 miliar dari ribuan donatur. Pada putaran pertama tercatat ada 12 ribu lebih donatur yang menyumbang ke pasangan Ahok-Djarot.

Menurut situs tersebut mereka mengharapkan setidaknya partisipasi dari 10 ribu orang donatur dalam kampanye putaran kedua ini.

Bagaimana dengan Anies-Sandi? Tampaknya usaha penggalangan dana agak sulit dilakukan. Ini diakui Sandiaga Uno. "Saya sudah menalangi Rp 7 miliar lebih," ujar Sandi. "Saya berharap ada donatur lain," katanya lagi.

Sandi berharap koceknya tidak jebol lagi pada putaran kedua ini. Pada kampanye putaran pertama Sandi sudah memodali Rp 60 miliar atau 96% dari kebutuhan kampanye.

Membaca data ini saya sedikit bingung. Bayangkan Anies-Sandi yang didukung orang-orang militan kini malah kesulitan menggalang donasi dari pendukungnya.

Padahal para pendukungnya ini mengaku sedang jihad untuk memenangi pasangan PKS-Gerindra tersebut. Lho, bukankah jihad membutuhkan pengorbanan? Masa berkorban masing-masing Rp100 ribu saja gak mau?

Ah, mungkin bagi mereka Rp 100 ribu itu kemahalan untuk berjihad. Berkorban boleh, tapi kalau bisa jangan duit, deh.

Apa pengorbanan yang bisa ditawarkan pendukung Anies-Sandi? "Bagian kami mengkafirkan orang atau menuding munafik. Kami juga berani menolak sholat jenazah. Asal jangan diminta sumbangan," mungkin begitu pikirnya.

Jadi mengkafirkan itu jauh lebih enteng ketimbang harus mengeluarkan duit sumbangan kampanye. Menolak sholat jenazah itu lebih gampang dilakukan ketimbang harus nyumbang Rp 100 ribu.

Lho, pendukung Ahok-Djarot kan, rata-rata orang yang punya uang, kilah mereka. Mungkin mereka belum membuka situs donasi. Disana ada orang yang nyumbang cuma Rp 25ribu. Cuma seharga dua bungkus rokok.

Padahal menyumbang Ahok-Djarot itu tidak pernah dihargai sebagai jihad. Tidak pernah diasumsikan sebagai gerakan agama. Jadi para penyumbang itu tidak berharap dibalas pahala.

Sedangkan pendukung Anies-Sandi menganggap yang mereka lakukan adalah perintah agama. Juga bagian dari jihad. Lho, kok pelit?

"Kami ini memang sedang memperjuangkan agama. Kami siap berkorban jiwa raga. Siap mati untuk perjuangan ini. Apapun akan kami korbankan. Asal jangan disuruh nyumbang duit."

"Kalo disuruh jihad, ane siap. Tapi kalau nyumbang duit, ane nyerah. Mending duitnya buat beli pulsa ," celetuk jihadis lainnya.

Gayanya mirip orang yang pura-pura tidur waktu Jumatan, ketika kotak amal melintas di depannya.
Ah, jihad memang berat, mas bro. Berat sekali.
Load disqus comments

0 komentar