Rabu, 12 April 2017

DUNIA BERHARAP PADA UMAT ISLAM INDONESIA

Warta NU
Istighosah Kubro
Di GOR Sidoarjo kemarin jutaan warga NU berkumpul untuk melakukan Istigotsah, semacam doa keselamatan bagi bangsa dan negara. Lagu Indonesia Raya berkumandang bersama doa dan shalawat. 

NU ingin menegaskan sikapnya : Hubhul wathan minal iman (Mencintai bangsa sebagian dari iman).
Acara dilaksanakan Mingu 9 April. Tidak ada pertimbangan angka cantik seperti ketika bandar togel mengotak-atik angka : 212, 313, 1114. Semua hari membawa keberkahan sendiri.

Lautan jemaah mengenakan pakaian putih. Tapi ini NU. Bukan FPI, FUI, HTI, atau GNPF-MUI. Meski seragam masa sama-sama putih, tidak ada teriakan kebencian di sana. Tidak ada caci maki kepada keyakinan lain. Berkumpulnya jutaan umat Islam di GOR Sidoarjo tidak membawa aura ketakutan pada masyarakat. Justru yang tampil adalah kesejukan.

Kesejukan dan cinta tanah air. Inilah wajah Islam Nusantara. Ketika gerakan politik atas nama Islam di seluruh dunia sedang ditampilkan dengan wajah garang, Islam di Indonesia mencoba menunjukan warna ajaran Kanjeng Rasul yang sebenarnya. Islam yang damai. Islam yang sejuk. Jutaan umat yang berkumpul tidak menimbulkan kekhawatiran masyarakat.

Harus diakui akibat aksi-aksi kekerasan atas nama Islam, agama ini tercoreng di mata dunia. Persepsi yang terbentuk Islam adalah agama penuh kebencian, suka kekerasan, kemarahan dan teror.

Tentu saja persepsi itu tidak mewakili Islam yang sebenarnya. Namun karena berita-berita yang hadir melulu menunjukan hal tersebut mau tidak mau kesalahpahaman terhadap ajaran Kanjeng Rasul ini terus terjadi. Perilaku teror oleh ISIS, Al Qaidah, Boko Haram atau para jihadis lain yang mengatasnamakan Islam menguatkan persepsi itu.

Di Timur Tengah negara-negara Islam sedang menghadapi kecamuk perang. Mereka saling bertempur dengan sesama muslim. Di Irak, Suriah, Libya, Yaman atau Afganistan kekerasan tidak pernah berhenti. Di Afrika, negara seperti Sudan, Somalia atau Nigeria dengan penduduk masyoritas muslim begitu juga. Bawaanya mau perang terus.

Bukan hanya membuat kerusuhan di negara-negara tersebut. Oleh para teroris Islam di ekspor ke berbagai belahan dunia. Bom bunuh diri menjadi ciri khas perjuangannya. Memakan banyak korban. Bahkan eksodus pengungsian Suriah atau Irak yang sebelumnya diterima masyarakat Eropa, digunakan untuk mengekspor kekerasan. Islam tercoreng. Islam dibenci masyarakat dunia.

Akibatnya segala yang berbau Islam dicurigai. Jika nama Anda kearab-araban, misalnya, membuat visa kunjungan ke AS atau Australia dijamin akan jauh lebih sulit. Kecurigaan atas segala yang berbau Islam terus terjadi.

Pada banyak negara organisasi-organisasi teroris yang mengatasnamakan Islam melakukan perlawanan kepada pemerintahan yang sah. Ada Abu Syayaf di Philipina, Boko Haram di Somalia atau Taliban di Afganistan. Seolah gerakan Islam selalu berlawanan dengan tanah airnya sendiri. Jangan kaget jika negara seperti Anggola melarang Islam masuk ke negaranya. "Kami ingin hidup damai. Kami tidak ingin rusak seperti Sudan atau Nigeria," ujar seorang pejabat tinggi Anggola.

Berkembang organisasi-organisasi transnasional yang memang tidak memiliki ikatan dengan sebuah negara. Ada Hizbut Tahrir yang berniat mendirikan khilafah seperti jaman Ustmaniyah dulu. Konsepsi kekhilafahan HT mencakup seluruh dunia. Artinya, cita-cita utama HT adalah menghapuskan garis-garis negara dan menjadikannya semacam koloni kekhalifahan.

Model perjuangan sejenis juga dilakukan oleh Ikhwanul Muslimin. Gerakan yang bermula di Mesir ini menyebar ke seluruh dunia. Tapi IM kini dinyatakan sebagai organisasi teroris di negeri asalnya. Begitu juga Saudi Arabia. Meski di Turki, gerakan yang dinafasi IM sedang menikmati kekuasaan dengan Erdogan sebagai presidennya. Di Indonesia, IM mewujud dalam PKS.

Ideologi Islam transnasional seperti HT juga berkembang pesat disini dengan nama HTI (Hitbut Tahrir Indonesia). Mereka terang-terangan ingin menjadikan Indonesia sebagai negara berdasarkan khilafah. Artinya jima cita-cita HTI ini terwujud, Indonesia hanya akan menjadi semacam kabupaten atau kecamatan dari kekhilafahan. Dengan kata lain HTI bertujuan menghapus Indonesia dari peta dunia.

Anehnya kekuatan yang jelas-jelas ingin menghapus Indonesia ini mendapat sambutan dari masyarakat. HTI berkembang pesat di kota-kota besar, seperti Jawa Barat, Makasar dan Jakarta. Merasa mendapat dukungan, HTI berani terang-terangan menunjukan jati dirinya. Bahkan beberapa waktu lalu mereka membuat acara besar di Senayan.

Wajar saja jika Banser dan Anshor sebagai organisasi di bawah naungan NU sibuk menghalau masifnya gerakan HTI. Santri-santri yang didoktrin bahwa mencintai negara merupakan bagian dari keimanan tidak rela negerinya diacak-acak oleh kekuatan impor. Sebagai kekuatan Islam asli Indoneia NU seperti berjuang sendirian menghadapi serbuan ideologi asing yang hendak memporakporandakan bangsa.

Bukan hanya HTI, berbagai model Islam garis keras yang hendak mengubah Pancasila menjadi negara agama juga bermunculan. Ajang Pilkada Jakarta menjadi salah satu momentum untuk menyebarkan idologi mereka. Lihat saja kini di Jakarta beredar spanduk seruan Jakarta Bersyariah lengkap dengan ancaman ditegakkan hukum cambuk segala. Mereka menitipkan agendanya pada pasangan Anies-Sandi.

Spanduk menolak sholat jenazah karena perbedaan politik mengotori masjid. Mimbar-mimbar Jumat diisi oleh hasutan dan ujaran kebencian. Di Jakarta sekarang, semakin susah menemukan masjid yang khotbah Jumatnya menyejukan. Ritual agama jadi kehilangan energi potisifnya karena diisi oleh kampanye politik praktis.

Mencermati fenomena ini wajar jika Ketua Umum GP Anshor Yaqut Cholil Qoumas akhirnya mendukung Ahok-Djarot. "Saya pastikan politik kebangsaan Ansor NU tidak akan berikan dukungan pada kelompok berpotensi membesarkan Islam radikal. Jika Ada kader Anshor dan Banser dukung kelompok itu laporkan ke saya, besok saya buat pemecatan," kata Yaqut.

Sebagai kekuatan umat dan bangsa NU sudah merumuskan hubungan Islam dan nasionalisme dengan luar biasa. Seruan Hubhul Wathon minal Iman adalah jalan yang telah dirintis para Kyai, santri dan warga NU untuk tetap menjaga keutuhan bangsa ini. Sekaligus sebagai refleksi kesalehan beragama.

Tentu saja kita tidak ingin membiarkan NU berjuang sendirian. Kata Buya Syafii Maarif, mengapa kelompok-kelompok radikal ini makin membesar, karena banyak orang hanya berdiam diri membiarkan mereka berulah. "Diamnya kita akan membuat bangsa ini hancur," ujar Buya Syafii.

Demikian juga yang pernah disampaikan Kapolri Tito Karnavian. Menurutnya polisi tidak bisa bertindak sendiri menangani ormas-ormas radikal ini jika masyarakat kebanyakan diam saja. "Kami butuh dukungan masyarakat," ujarnya.

Dunia kini membutuhkan wajah Islam yang lembut. Agar persepsi bahwa Islam sebagai agama kekerasan segera terhapus. Pada umat Islam Indonesialah harapan itu diletakkan. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dunia, Indonesia adalah negara yang berhasil mengawinkan Islam dengan demokrasi secara cantik. Kepada Indonesialah, negara-negara Arab harus belajar. Bukan malah sebaliknya, umat Islam Indonesia justru mau meniru arab.

Arab terbukti gagal menyatukan Islam dan demokrasi. Arab terbukti gagal menjadikan Islam sebagai kekuatan yang membawa misi damai, santun dan penuh geragap kemajuan. Justru warga Arab iri pada Indonesia. Mereka mencintai agamanya seperti juga kita, tapi mereka juga mau hidup damai. Mereka iri melihat rakyat Indonesia yang bisa berislam dengan baik, tapi juga bisa hidup saling berdampingan dengan yang lain.

Mereka berharap, Indonesia bisa mengekspor Islam yang penuh cinta ini ke negaranya. Dengan kata lain, dunia Islam saat ini berharap besar pada Indonesia.

Sekarang semuanya tergantung Anda, umat Islam Indonesia. Apakah Anda mau berpartisipasi mengharumkan agama ini. Atau mau ikut merusaknya?
Load disqus comments

0 komentar