Jumat, 21 April 2017

HIDUP YANG TERPOTONG SEPERTI SEKUEL FILM

Pilkada Jakarta
SARA
"Ini membuktikan, akhirnya kebenaranlah yang menang. Allah telah menjunjukan mana yang benar, mana yang salah," ujar orang di atas mimbar itu. Saya melepas headset, lalu serius mendengarkan ocehannya.

Dia berbicara soal Pilkada DKI Jakarta yang baru lalu. Bicara soal kemenangan Anies-Sandi. Kemenangan itu, katanya, adalah pembuktian tentang kebenaran. "Ini bukti Allah bersama kita. Ini kemenangan agama Allah."

Saya membayangkan, bagi orang di atas mimbar itu, waktu berhenti setelah Pilkada.

Mungkin baginya, kehidupan seperti sebuah film. Ketika jagoan menang bertarung melawan musuhnya --dan sebuah adegan ciuman mesra dengan latar belakang jingga-- lalu di layar lebar tertulis 'The End'. Kisah berhenti dan penonton bubar. Tokoh protagonis menang melawan sang antagonis. Seandainya kebanyakan film ditutup dengan kemenangan tokoh antagonis, barangkali kata-kata 'akhirnya kebenaran mengalahkan kesalahan' tidak berlalu lagi.

Atau mirip sebuah kisah dalam komik HC Anderson : maka putri dan sang pangeran hidup bahagia selama-lamanya. Itu tandanya kebenaran yang menang. Tapi bagaimana jika dalam kehidupan rumah tangganya, justru putri yang cantik itu mengalami kekerasan oleh suaminya, sang pangeran tampan tadi? Lalu putri lari dari istana, menuju ke markas para raksasa yang dulu memusuhinya.

Mereka akhirnya bersatu merencanakan makar terhadap kekuasaan pangeran. Lalu pangeran tumbang. Putri terbuang itu naik tahta. Didampingi oleh seorang raksasa bermuak buruk, yang ternyata baik hati. Di manakah kebenaran dalam kemenangan itu?

Adagium bahwa tanda-tanda kebenaran adalah kemenangan dalam sebuah persaingan, bagi saya, adalah pendapat yang absurd. Sebab kehidupan tidak pernah ada kata 'The End', entah sampai kapan. Kehidupan tidak bisa dipotong-potong seperti sekuel dalam film.

Bisa jadi yang sekarang menang dalam sebuah kontestasi, pada pertarungan berikutnya mengalami kekalahan. Lalu lawannya yang dulu kalah dan sekarang menang akan menggunakan lagi argumen yang sama: kebanaran akhirnya menang. Mereka yang tadinya benar, kini menjadi salah. Mereka yang tadinya salah, kini menjadi benar. Hanya karena menang dalam pertandingan. Absurd, bukan?

Dalam sejarah Islam, ketika waktu kita potong hanya sampai berakhirnya perang Badar, kita bisa mengatakan kebenaran Islam yang menang. Pasukan Rasulullah mengalahkan Pasukan Quraisy waktu itu. Tapi bagaimana jika waktu kita potong setelah perang Uhud? Pada perang itu pasukan Rasulullah kocar-kacir. Rasulullah sendiri terluka. Apakah kaum Quraisy bisa mengklaim merekalah kebenaran, hanya karena meraih kemenangan dalam perang Uhud?

Atau, apakah ketika Yesus disalibkan tanpa daya di bukit Golgota, orang bisa mengatakan bahwa Pontius Pilatus-lah sang pembawa kebenaran? Sebab tentaranya berhasil menawan dan membunuh sang Mesiah?

Revolusi Bolsevik di Rusia berhasil menumbangkan Tsar. Pemerintahan Uni Sovyet mengklaim, komunis adalah membawa kebenaran karena berhasil mengalahkan kekuasaan Tsar. Tapi pada akhirnya kita tahu, komunis ambruk. Dan kapitalisme merajalela.

Bagi saya kebenaran tidak ditentukan oleh yang menang dan kalah pada kompetisi saat ini. Slogan 'pada akhirnya kebenaran yang menang', hanya berlalu ketika layar kehidupan dunia telah menampilkan kata 'The End'. Ketika Sang Pembawa Kebenaran hadir, menjadi pemisah yang nyata dengan kebathilan dan kedzoliman : Ya, Mahdi, Adrikni...

Ketika pembicara di atas mimbar itu bicara, "Kemenangan Anies-Sandi adalah bukti kebanaranlah yang menang," Saya cuma bisa melongo.
Mungkin baginya, dunia akan kiamat setelah Pilkada Jakarta selesai.

Padahal, teman saya Bambang Kusnadi, masih jualan bubur tadi pagi. Berjualan bubur ayam adalah karir sementara sebelum dia menjadi Polwan. Bagi Bambang, kebenaran sejati ada di tangan Polwan!
Load disqus comments

0 komentar