Jumat, 21 April 2017

KITA PUTUSKAN MATA RANTAI ITU

Djarot
Ahok dan Djarot
Apapun hasil Pilkada nanti, kita ucapkan terimakasih pada Ahok dan Djarot. Mereka sudah meletakkan standar tinggi untuk pelayanan birokrasi pada rakyat. Standar pelayanan inilah yang sejak dulu kita idam-idamkan.

Dengan standar tersebut, kita punya ukuran nilai bagaima sebuah pemerintahan semestinya bekerja untuk rakyatnya. Sehingga kita bisa nenuntut kerja pemerintahan di manapun sesuai dengan standar yang pernah kita nikmati itu.

Pondasi layanan pemerintahan yang sudah dibangun Ahok-Djarot adalah warisan yang luar biasa bagi kita. Selama ini rakyat selalu berposisi inferior jika berhadapan dengan pemerintahan. Ahok-Djarot membalikkan posisi itu. Rakyat memiliki posisi lebih terhormat.

Rakyat Jakarta 'pernah' merasakan bagaimana keberadaanya direken oleh pemerintah. Kita berharap kata 'pernah' tidak pernah terjadi. Artinya, siapapun yang akan memimpin Jakarta nanti rakyat tidak lagi cuma dihitung sebagai obyek. Tetapi justru dianggap sebahai subyek yang nyata.

Kita tahu bahwa Pemilu seringkali meninggalkan bekas yang panjang. Pilpres yang baru lalu membuktikan ada orang-orang yang tidak mau move on menghadapi kenyataan. Ada yang tidak bisa beranjak menerima hasil dari proses elektoral.

Kita menyaksikan lovers dan haters berserakan, seperti membelah publik menjadi dua kubu. Keduanya seringkali meninggalkan akal sehat. Kadang-kadang menghabiskan energi. Kini sudah saatnya kita putuskan mata rantai itu. Sudah saatnya ada contoh yang lebih baik bagaimana menyikapi hasil sebuah pesta demokrasi.

Pascapilkada ini mestinya tidak ada lagi hater yang nyinyir pada pemerintah. Jangan berpindah dari lover pemerintah, di jamannya Ahok, menjadi hater pemerintah di jamannya Anies. Dengan kata lain, cegahkah diri Anda berubah jadi 'Jonru'.

Nyinyir berbeda dengan kritis. Nyinyir diawali dengan sikap benci dan iri. Orang-orang yang nyinyir tidak punya apapun selain melampiaskan sakit hati. Sementara kritis adalah sebuah sikap yang didasari pada pemahaman tentang hak dan kewajiban. Apa haknya sebagai rakyat, apa kewajiban yang harus dilaksanakan pemerintah.

Jika Anies-Sandi memenangi Pilkada ini, satu hal yang selalu penting kita ingatkan, bahwa mereka berdua adalah Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta. Ya, Jakarta yang selama ini dihuni oleh warga yang plural. Mereka bukan Gubernur umat Islam saja.

Kita ingatkan mereka berdua, bahwa ada sebagian pendukungnya yang bernafsu menyodorkan aturan berdasarkan agama tertentu. Ada pendukungnya yang mau menungangi kekuasaan untuk mengubah dasar negara. Salah satu PR besar mereka adalah menaklukan para srigala berjubah itu, yang selama ini berbaris di belakangnya, agar Indonesia tidak tercabik-cabik oleh cakarnya.

Itu PR terbesar yang harus diselesaikan Anies dan Sandi nanti. Dan kita semua akan terus mengingatkan mereka. Mengingatkan Anies dengan istilah tenun kebangsaan yang dulu pernah dislogankannya.

Salah satu warisan terbesar Ahok dan Djarot pada Pilkada ini adalah keberanian melawan tirani atas nama mayoritas. Warisan itulah yang akan terus kita perjuangkan.

Sekarang kita posisikan saja, Pilkada ini mirip pertandingan sepak bola. Ada menang, ada kalah. Semuanya harus menyikapi dengan sportif. Selesai pertandingan, biasanya, masing-masing pemain saling bertukar kaos kesebelasan. Sebagai bukti bahwa mereka semua hanya menjalankan perannya sebagai pemain.

Meskipun, saya kok, ragu, apa mau Rizieq Shihab memakai kemeja kotak-kotak?
Ah, sudahlah. Kita makan bubur, yukk...
Load disqus comments

0 komentar