Rabu, 26 April 2017

MEMBOIKOT SHOLAT JEMAAH

Politik
Politik dan Agama
"Kalau kita mau masuk surga, kita harus memilih pemimpin muslim. Itu sesuai dengan ajaran agama," ujar ibu guru kelas 6, di sebuah SD Islam, di pinggiran Jakarta. Lalu ibu guru bercerita tentang Pilkada.

Anak-anak itu mendengarkan. Seorang anak, lelaki, agak gemuk memegang teguh nasihat gurunya itu. Siang hari, saat biasanya dilaksanakan sholat dzuhur berjamaah, dia mengajak beberapa temannya untuk tidak sholat. Enam orang kedapatan membolos sholat jemaah. Mereka masih jajan di kantin.

Gurunya marah besar. Dia dihukum. Orangtuanya dipanggil, karena dianggap anaknya sudah membuat onar. Bukan hanya tidak mau sholat jemaah lagi. Dia juga mengajak teman-temannya untuk memboikot sholat.

Di hadapan ayahnya, anak itu ditanyakan, kenapa dia sekarang tidak mau sholat jemaah lagi. Kenapa mengajak teman-temannya.

"Kan, ibu bilang kalo mendukung pemimpin muslim akan masuk surga?"
"Lho, iya. Terus apa hubungannya dengan sholat jemaah?"

"Lho, kemarin saya sukanya sama Ahok. Karena nasihat ibu, saya jadi dukung Pak Anies. Sama teman-teman juga saya ngomong, kalau dukung Pak Anies akan masuk surga. Sama seperti omongan ibu."

"Iya, terus kenapa kamu mengajak teman-temanmu tidak sholat?"
"Lha, kan aku udah pasti masuk surga. Kenapa mesti sholat lagi?"

Gurunya bengong. Dia memandang ayah anak itu yang sedari tadi mendengarkan. Ibu guru berkata kepada ayahnya. "Gimana , Pak. Kok anak ini jadi berfikir begitu?"

"Iya, ibu harus tanggungjawab. Ibu harus menerangkan, ke anak-anak semua bahwa mendukung pemimpin muslim itu belum tentu masuk surga. Kalau ibu gak jelaskan, wajar saja mereka gak mau sholat lagi."

"Jadi saya yang harus bertanggungjawab jika mereka gak mau sholat jemaah? Sebagai orang tua, bapak gimana?"

"Ya, saya setuju dengan anak saya. Kalau ibu menjamin dia pasti masuk surga hanya karena mendukung pemimpin muslim, ya ibu juga harus konsisten. Anak ini mengambil jalan yang benar."
"Jadi bapak tidak akan menyuruh anak ini sholat jemaah?"

"Tidak. Dia kan sudah ibu jamin masuk surga..."
"Waduh, pak. Bapak orang tua lho. Kalau anaknya tidak mau sholat jemaah, bapak ikut berdosa."
"Sebelumnya dia rajin, kan? Karena ibu salah ngajar, lihat hasilnya. Makanya, sudahlah. Mereka cuma anak-anak. Gak ada gunanya ngomong politik ke mereka."

"Terus soal sholat jemaahnya gimana pak? Ini sudah ada enam orang lho, yang terang-terangan menolak."

"Ya, ibu jelaskan dong. Bahwa memilih dan mendukung pemimpin muslim itu belum tentu masuk surga. Jadinya sholat tetap penting..."

"Ok, pak. Jadi memilih pemimpin muslim itu belum tentu masuk surga, ya pak?"
"Nah, itu lebih tepat..."

Anak yang duduk agak dipojokan itu cuma nyengir-nyengir, melihat ibu gurunya yang agak kebingungan...
Load disqus comments

0 komentar