Sabtu, 08 April 2017

PERANG BERMODAL HOAX

Konflik Suriah
Suriah
Bagaimana Irak dihancurkan? Amerika dan sekutunya menuding Saddam Husein memiliki senjata pemusnah masal. Dengan alasan itulah mereka menyerbu Irak. Meluluhlantakan sebuah negara. Menyeret Saddam dari lubang persembunyian. Lalu mengadilinya sampai mati.

Aksi ini disokong pemberitaan media-media raksasa untuk menggalang opini. Boleh dibilang isu senjata pemusnah masal Irak adalah hoax yang memakan korban jutaan orang. Inilah hoax yang sengaja dirancang untuk menghancurkan sebuah negara.

Sampai akhir perang selesai senjata pemusnah massal tidak pernah ditemukan di Irak. Tapi jutaan rakyat telah jadi korban. Anak-anak mati. Perempuan mati. Mayat pria tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Infrastruktur dan kehidupan hancur.

"Ada kesalahan data intelejen," ujar seorang pejabat AS, mengomentari tidak ditemukannya senjata pemusnah masal di Irak. Tapi sebuah negeri sudah hancur.

Ada buku yang ditulis jurnalis radio Amy Goodman dan David Goodman menguak latar belakang serangan itu, berjudul Perang Karena Uang. Dengan perang Irak tersebut perusahaan multi nasional AS meraup untung. Kontrak pembangunan kembali Irak pasca kehancuran dijadikan bancakan perusahaan-perusahaan raksasa. Mereka berpesta setelah negeri itu porak-poranda. Uang pembayarannya diambil dari hasil penjualan minyak.

Jadi untuk mendapatkan pekerjaan pembangunan langkah pertama adalah menghancurkan Irak. Itulah alasan perusahaan-perusahaan raksasa AS bekerjasama dengan politisi menyokong baksi brutal George W. Bush.

Sekarang Irak tidak kunjung bangkit. Konflik horisontal terus terjadi. Disana bercokol para jihadis dari berbagai kelompok ekstrim termasuk ISIS. Kemakmuran dan keamanan rakyat Irak jauh merosot.

Kini di depan mata, kita saksikan lagi ulah Amerika Serikat. Mereka baru saja melakukan serangan terbuka menghantam Suriah dengan misil Tomhawk. Apa alasannya? Karena pemerintah Suriah menggunakan gas beracun untuk memerangi pemberontak. Kita tahu militer Suriah memang sedang berhadapan dengan para jihadis dan pemberontak. Termasuk kekuatan ISIS.

Pemberitaan tentang serangan ini langsung menyebar ke seantero jagad. Media-media raksasa melukiskan para korban bom kimia. Salah satunya ditulis oleh wartawan New York Time. Tapi wartawan itu berbasis di Beirut, bukan di Suriah. Sayangnya tanpa verifikasi lapangan mereka langsung menuduh Bashar Asaad bertanggungjawab atas serangan itu.

Setelah AS membombardir Suriah dengan misil yang menghancurkan, Saudi Arabia, Turki, Isreal dan sekutunya menyatakan dukungan pada AS. Sebuah dukungan terhadap ekspansi militer negara lain yang masuk ke negara berdaulat. Negara pendukung AS memang itu sejak awal bermusuhan dengan Asaad.

Sudah jadi rahasia umum selama ini AS, Saudi, Israel dan Turki adakah penyokong para jihadis, termasuk ISIS dan kekuatan pemberontak untuk melawan Bashar Asaad. Turki mengijinkan perbatasannya digunakan ekstrimis seluruh dunia untuk masuk ke Suriah. Suplai senjata dan bantuan kepada para jihadis juga dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.

Rusia dan Iran menolak aksi keroyokan dan main belakang ini. Rusia terang-terangan menempatkan tentaranya untuk menghabisi pra pengacau di Suriah. Jadilah Suriah sebagai ajang perang proxi kekuatan dunia.

Belakangan pasukan Asaad berhasil mendesak para jihadis. Mereka mengusai kota-kota penting. Artinya secara militer pasukan pemerintah sudah di atas angin. Para pemberontak dan mahluk barbar sejenis ISIS kini kelabakan.

Lalu terjadilah insiden gas beracun itu. Yang menjadi pertanyaan, buat apa Asaad menggunakan gas beracun untuk menyerang rakyatnya sendiri? Bukankah tindakan itu justru akan melahirkan kecaman internasional, padahal posisi tentaranya kini tinggal diambang kemenangan?

Jika Asaad menggunakan senjata kimia, bukankah itu malah akan merugikan posisi politiknya di kancah internasional. Tindakan itu sama saja melakukan bunuh diri diplomatik. Jadi adalah keanehan jika tuduhan penggunaan senjata kimia tersebut ditudingkan kepada Asaad.

Alasan yang paling masuk akal adalah AS gregetan. Gagalnya para pemberontak dan jihadis barbar yang mereka dukung untuk mengalahkan Asaad, membuat negara cukong perang itu gatal tangannya untuk turun langsung ke kancah pertempuran. Untuk itu dibutuhkan alasan. Alasannya tidak perlu masuk akal, yang penting ada media yang menyebarkan info kepada khalayak. Kondisinya miri[-mirip seperti isu senjata pemusnah masal di Irak.

Janji kampanye Trump bahwa AS tidak akan banyak ikut campur urusan Suriah ternyata bohong. Amerika Serikat seperti kena kutukan. Siapa saja Presidennya, tangannya akan berlumurah darah.

Langkah menyerang suriah ini juga sebagai trik untuk mendapatkan simpati di dalam negeri yang belum sepenuhnya pulih akibat Pilpres kemarin. Setidaknya Trump ingin sekaligus membantah kedekatanya dengan Putin. "Tuh, lihat. Gue berani nyerang sekutu Rusia."

Tentu saja sorakan tepuk tangan atas serangan AS ini juga digemakan oleh para pendukung Jihadis di Indonesia. Mereka akan berkoar-koar Asaad menggunakan senjata kimia. Mereka menjadi kepanjangtanganan AS untuk menyebarkan hoax. AS sangat berkepentingan dengan peran mereka untuk meraih simpati di Indonesia.

Barangkali untuk menambah bobot hoax-nya. mereka akan mengatakan bahwa pasukan Assad yang syiah telah menyerang muslim suni dengan senjata kimia.

Mungkin sebentar lagi para cecurut pendukung ISIS di Indonesia akan menggelar donasi untuk membantu kaum barbar di Suriah. Pasalnya sekondan mereka para jihadis disna kembali mendapat angin dengan bantuan AS. Mereka mengumpulkan sumbangan dari Indonesia untuk menyokong para pemberontak.

Dengan kata lain, mereka mungkin saja menggunakan berita hoax untuk dijejalkan pada publik Indonesia. Dari AS-lah mereka berguru bagaimana cara memainkan hoax untuk tujuan politik.

Di jaman yang memuakkan ini, hoax telah merampas hak hidup jutaan manasia.
Load disqus comments

0 komentar