Jumat, 21 April 2017

PERAYAAN KEKALAHAN AHOK

Sandiaga Uno
Pesta Anies-Sandi
Aku baru datang ketika mereka berlima sudah berkumpul di sebuah kafe. Sore tadi, seorang kawan menelepon. "Bro, datang, ya. Ke tempat biasa. Kita rayakan kekalahan, Ahok," ujarnya. Aku cuma bisa menjawab, "Ok, gue usahain, ya..."

"Jangan cuma ok-ok, bro. Lama-lama jadi Ok-Oc lagi... hahahahaha."

Kawan-kawan ini adalah para die hard Ahok. Mereka bertarung habis-habisan untuk memenangkan Ahok-Djarot. Lelaki yang duduk di depanku, sedang merokok, adalah seorang pengusaha rumah makan. Di sebalahnya duduk seorang perempuan, mantan wartawan majalah wanita. Tiga orang lainnya, seorang perempuan dan dua orang lelaki adalah karyawan. Saya tidak tahu mereka bekerja di perusahaan apa.

"Gue sampai di boikot di keluarga. Gue dikafir-kafirin, dibilang keluar dari Islam," kisah seorang mengenang perjuangannya. "Tapi gue gak peduli. Emang yang nentuin masuk surga mereka? Yang nentuin masuk surga kan, panitia seleksi... hahahahahha."

"Gue sih, gak masalah dikafir-akfirin. Udah biasa," celetuk temanku, mantan wartawan.
"Iya, lu udah biasa. Lu kan, kristen," timpal teman perempuan lainnya. Wartawati tadi tertawa renyah.
"Jangan-jangan, nanti malah elu yang masuk surga duluan," celutukku, ke arah wartawati tadi. Lalu kami tertawa, melepaskan senja yang pelan-pelan tergelincir.

"Waktu perhitungan Quick Count menandakan Ahok kalah, gue langsung matiin TV. Gue ajak anak-bini gue jalan ke mall. Gue nonton..."

"Sama. Gue juga lemes waktu tanda-tanda bakal kalah. Makan jadi gak enak. Ngopi kok, rasanya pahit. Gak tahunya, belum pake gula... hahahahahha"

"Gue sih, waktu tahu Ahok kalah, langsung buka FB. Mau baca tulisan lu," kata seorang teman perempuan ke arah saya. "Eh, busyet. udah kalah, tulisan lu masih ngeledek aja. Dasar, lu."

Saya cuma nyengir. Obrolan diteruskan. Lalu seorang memperlihatkan foto-foto Ahok dan Djarot sedang di tengah kerumunan massa dari tabletnya. Ada foto Ahok sedang dipeluk nenek-nenek. Ada yang sedang menggendong Balita. Ada juga ketika dia duduk bersila di kamar seorang lelaki renta yang sedang sakit.

Seorang lagi, memutarkan sidang pertama Ahok. "Saya dituduh menista agama Islam. Itu sama saja saya dituduh menista agama saudara angkat saya sendiri. Sama saja saya dituduh menista agama ibu angkat saya sendiri. Saya menghormati ibu angkat saya, mecintai keluarga angkat saya...," ujar Ahok, yang duduk di kursi pesakitan. Suaranya bergetar.

"Udah, ah, jangan video itu diputerin lagi," ujar kawan perempuan. Dia mengambil tisu dari meja. Menyeka matanya. Teman pengusaha restoran juga membuang muka. Lalu berjalan ke arah westafel.
Saya cuma memandang ke luar. Langit Jakarta yang memerah. Awan berarak-arakan seperti karnaval 17 Agustus. Senja luruh perlahan. "Senja memang selalu menakjubkan," bathinku.


Tetiba terlintas sebait puisi Sapardi Djoko Damono di kepalaku. "Dan karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya..."
Load disqus comments

0 komentar