Rabu, 05 April 2017

RAPAT KELUARGA (II)

Kematian
Ajal
"Aku berharap Bapak tidak mati sekarang," seorang perempuan berbisik pada kakak lelakinya. Adik bungsunya juga ada di sana. Mereka kakak beradik. Duduk bertiga di beranda rumah orangtuanya sehabis makan malam. Perempuan yang memulai pembicaraan itu anak tengah. Adiknya juga perempuan. Masih mahasiswi. Kakak lelakinya bekerja di sebuah Bank Swasta.

"Ya, tergantung bapak, lah. Mau matinya kapan. Kita sebagai anak hanya bisa menerima. Semuanya tergantung Bapak," jawab kakaknya. Dia menjawab sekenanya. Matanya masih memainkan layar HP. Mungkin sedang berkirim pesan dengan istrinya.

Perempuan yang paling bungsu juga asyik memainkan layar HP. Membuka-buka halaman Facebooknya. Memberi 'like' pada sebuah status. "Habis baca status kuah sotomie, kok jadi laper lagi," bathinnya. Entah status siapa yanag dibacanya malam itu. Padahal rasa gulai kepala kakap buatan ibunya masih menggantung di ujung lidah. Dasar perut karung.

"Ya, mas bilangin Bapak lah. Kalau Bapak mau mati jangan dalam waktu dekat ini. Mas kan, anak sulung. Wajar toh, kalau mas yang ngomong sama Bapak."

"Ini aja nih, yang ngomong. Anak kesayangan Bapak. Biasanya kalau dia yang ngomong, Bapak mau denger," lelaki itu menunjuk adik bungsunya. Yang ditunjuk, mengangkat wajahnya dari layar HP. Status kuah sotomie langsung meruap.

"Lho, kok aku sih?"
"Iya, kamu aja..."

"Ok, kalau aku yang harus ngomong ke Bapak, Kira-kira, bagusnya kapan Bapak meninggal? Kasih tahu dong. Biar aku ngomongnya enak."
"Habis Pilkada aja."

"Kenapa habis Pilkada? Pilkada Jakarta ini?"
"Iya. Kita tahu kan, Bapak itu pendukung Ahok. Kalau dia meninggal sekarang, apa orang-orang mesjid mau mensholatkan Bapak?"

"Gak usah disholatkan di mesjid juga gak apa-apa," sambar kakak lelakinya.
"Iya, gak apa-apa, sih. Tapi kan rasanya kurang sreg kalau sholat jenazahnya gak di mesjid."
"Kalau orang-orang mesjid itu gak mau mensholatkan, panggil saja ustad dari luar. Masih banyak orang yang tidak segila pengurus mesjid itu."

"Terus harus mensholatkan Bapak di ruang mana? Di ruang tamu? Layaknya kurang besar deh. Lagipula males pindahin kursinya. Berat..."
"Di ruang keluarga aja. Lemari tengah bisa digeser dulu. Ini cukuplah memuat 30 orang..."
"Jadi harus menggeser vas bunga, ibu? Emang dia setuju?"

"Setujulah. Masa untuk mensholatkan jenazah suaminya sendiri, ibu gak setuju sih?"
Tiba-tiba ibunya nongol dari pintu samping. Menghampiri mereka bertiga. "Kalian masih ngomongin soal rencana kematian Bapak, ya?," tanya ibunya. Ketiga anaknya tersipu.

"Bu, kalau nanti Bapak meninggal, boleh disholatkan di ruang tengah kan? Vas bunga kesayangan ibu boleh dipindahkan, ya?," anak yang bungsu meminta persetujuan ibunya.

Ibunya melongo. "Lho, kalian gimana sih? Kenapa harus disholatkan? Bapakmu kan kristen? Kalian juga kristen. Ibu juga kristen?," ibunya kaget.

"Lho, ini gimana sih? Ibu gak liat, dua hari lalu Bapak nonton Youtube berisi penceramah jenggotan dari India. Katanya, kalau habis dengar dia ceramah, siapapun otomatis jadi mualaf..."
Load disqus comments

0 komentar