Senin, 17 April 2017

SITA, SATI, MATI

Rahwana
Rahwana
Perempuan itu berdiri termangu. Api di hadapannya berkobar siap memangsa tubuhnya. Rambutnya diterpa angin rumput Ayodya yang kering. Ribuan rakyat yang menyaksikan peristiwa itu diam terpaku. Mata Sita kini nanar. Menatap api dengan rasa maysgul. Sesungguhnya perempuan ini bersedih bukan karena harus terjun ke dalam api. Itu tidak lagi menjadi penting baginya. Yang menyesakkan dadanya, adalah keraguan Rama --suaminya.

Upacara Sati -pembakaran diri seorang istri- adalah jalan untuk menghapus keraguan. Simbol kesetiaan istri. Sekarang Sita menghadapi ritual ini --sebagai pembuktian, bahwa perempuan ini, Sita, masih memiliki tubuh dan jiwa yang dulu. Para brahmana meyakini, jika Sita tetap menjaga kesucian tubuh dan jiwanya, api itu akan menjadi lembut. Namun Sita akan terbakar bila ternyata dia bukan perempuan yang dulu. Kesuciannya sebagai istri Rama dibuktikan dengan ritual mengerikan ini.

Dan Sita melangkah mendekati api. Dalam seluruh jiwa dan fikirannya, dia yakin, api itu akan berubah menjadi lembut padanya. Sebab tidak sedetikpun dia melepaskan Rama dalam hatinya. "Tidak ada celah untuk diisi dengan orang lain di hatiku," ujarnya, dengan isak tertahan.

Meski 14 tahun Sita berada dalam cengkraman Rahwana, di negeri Alengka, dia tetap menjaga dirinya dari godaan raksasa bermuka buruk itu. Rahwana menawarkan rembulan, gunung dan kolam susu. Rahwana menawaarkan permata, kemegahan dan hidup selamanya. Tapi, Sita tahu, setiap malam hanya Rama yang mengisi mimpinya. Dia menutup dirinya, seperti mutiara dalam cangkang. Rahwana memang marah, egonya terluka, tetapi Raksasa itu tidak lantas berlaku culas untuk menggahi dirinya dalam ketidakberdayaan.

Apa yang paling menyakitkan bagi seorang perempuan ketika semua pengorbanannya diragukan? Ketika siksaan kerinduan selama 14 tahun, dengan malam-malam yang sepi di negeri para raksasa, harus ditebus dengan pengingkaran? Saat Rama bersama pasukan Hanoman berhasil membunuh Rahwana, Sita bersujud pada Dewa. Dia menantikan wajah tampan suaminya dan berlari ke pelukan yang damai.

Tapi saat dia kembali dalam pesta kemenangan yang megah itu, ketika rakyat Ayodya menyambutnya sebagai permaisuri, justru Rama memberikan pertanyaan menyakitkan. ”Apakah selama 14 tahun kamu tetap menjaga tubuh dan jiwamu sebagai istriku? Apakah kamu masih pantas bersanding denganku dan duduk sebagai permaisuriku?”

Sita menahan tangisan. Seperti ada silet yang menghujam kulitnya. Perih. Kesedihan dalam kungkungan Rahwana menjadi ringan dibanding ucapan suaminya dihari pembebasannya itu. Untuk siapakah suaminya berjuang selama ini? Jika akhirnya Rama meragukan kesucian Sita, meragukan jiwa dan cintanya, buat apa pasukan dikerahkan untuk menjalani pertempuran yang maha dasyat itu?

Buat apa mayat-mayat para prajurit ini bergelimpangan? Tadinya Sita berfikir semua pengorbanan dan perang ini adalah biaya atas besarnya cinta Rama kepadanya. Ini adalah nilai atas kasih sayang seorang suami. Tapi keraguan Rama padanya hari itu, membuat Sita menangis. Tangisan yang berbeda dari sedu-sedannya di istana Rahwana.

Di mata Sita saat itu, Rama bukan lagi seorang suami yang mencintai istrinya. Rama hanyalah seorang lelaki dan raja. Mungkin, bagi Rama, soal cinta kini hanya tinggal urusan basa-basi. Perasaan jadi urusan yang remeh temeh. Ego sebagai lelaki dan raja Ayodya lebih mendominasi fikirannya. Usaha membebaskan Sita dari penculikan Rahwana, yang semula didasari pada cinta, kini bergeser. Perang itu adalah tumpahan amarah dan ego. Perang itu adalah perang para lelaki. Perang atas nama harga diri.

Dan Sita, perempuan yang menjadi objek perselisihan itu, selamanya tetap sebagai objek. Sesaat dia berfikir tentang Rahwana. Raksasa penculiknya yang kini terkubur di negeri Alengka. Untuk alasan apakah Rahwana menculiknya? Untuk alasan apakah raksasa itu mempertahankan Sita, mempertaruhkan Alengka dan semua kekayaannya? Seorang lelaki, dengan wajah buruk dan jidat menyembul keluar, mempertaruhkan semua miliknya untuk seorang perempuan.

Dia menculik Sita, memenjarakan tubuhnya. Tapi, Rahwana tidak lantas memenuhi birahinya dalam malam-malam di bawah purnama. Dia ingin sesuatu yang lebih dari tubuh. Lebih dari kenikmatan ragawi. Dia sabar menunggu Sita. Sebab bagi Rahwana Sita bukan hanya tubuh. Sita adalah seorang perempuan dalam dimensi yang utuh. Sampai Alengka hancur Rahwana tidak pernah menyentuh Sita.

Di depan api itu, sita memikirkan Rahwana. Apa yang menahan Raksasa penguasa Alengka hingga tidak pernah menyentuhnya? Padahal Sita hidup dalam kekuasaanya. Dia adalah perempuan lemah di tengah negeri para raksasa. Kekuatan apa yang membuat Rahwana, raksasa bermuka buruk itu, memperlakukannya bak dewi dalam sangkar emas? Rahwana hanya menunggu Sita dengan perasaan yang kacau.

Di depan api, sebelum melompat, Sita membayangkan Rama. Sita membayangkan Rahwana.

Dan, Sita pun terbakar api.
Load disqus comments

0 komentar