Jumat, 14 April 2017

X-MEN TIDAK JADI MELECEHKAN AL QURAN

Komikus
Komik X-Men
"Jangan lihat siapa yang mengatakan, tapi dengarlah apa yang dikatakan" Imam Ali bin Abu Thalib. 

Seorang komikus asal Indonesia yang bekerja di bawah raksasa industri komik Marvel, dipecat dari pekerjaannya. Pasalnya dia menyusupkan pesan berupa simbol-simbol intoleransi pada karyanya. Pada komik X-Men, Ardian Syaf, nama komikus tersebut menyusupkan simbol 212 dan QS 5:51 (Al Maidah 51).

Akibat kejadian ini komikus Indonesia lainnya deg-degan. Kabarnya Marvel mau membekukan sementara kerjasama dengan para komikus Indonesia. Ardian Syah yang konyol, berakibat pada terhentinya nafkah banyak orang.

Ketika berita ini heboh, GNPF-MUI seperti biasanya menuding dengan penuh kecurigaan pada Marvel. Mereka mengatakan ada indikasi pelecehan agama pada komik X-Men tersebut.

"Kami sudah mengetahui mengenai komik tersebut. Kami sudah menelaah dan ada indikasi pelecehan Surat Al Maidah 51," ujar anggota tim advokasi GNPF MUI, Kapitra Ampera geram. Dia merasa sang komikus melecehkan kitab suci umat Islam. Mungkin tuduhan pada Ardian Syaf, sama seperti tudingan mereka pada Ahok.

Tapi belakangan sikap GNPF-MUI itu berubah. Rupanya setelah ditelusuri justru Ardian Syah adalah komikus pendukung gerakan intoleran. "Kami mengapresiasi pembuatan komik tersebut," ujar Kapitra Ampera.

Herankah kita? Sebuah pesan yang sama dikerjakan oleh orang yang sama, tapi reaksi GNPF-MUI bisa berubah 180 derajat?

Bagi GNPF-MUI apa saja bisa terjadi. Jika posisi Ardian Syah adalah pendukung Ahok, maka komiknya melecehkan Al Quran. Jika dia pendukung Anies-Sandi, komik yang sama dinilai membawa pesan-pesan agama.

Sebetulnya seorang seniman menyusupkan pesan moral pada sebuah karya itu biasa. Tapi menyusupkan pesan politik intoleran pada properti milik orang lain, jelas melanggar secara etik. "Menyalahgukanakan properti Marvel untuk pesan politiknya yang intoleran tanpa seizin yang punya properti. Itu masalahnya," ujar pengamat komik Kang Hikmat Darmawan, seperti dikutip BBC.

Tampaknya fenomena Ardian ini semakin membuka mata publik, bagaimana sebetulnya GNPF-MUI dan kelompok sejenis menyikapi sebuah pesan. Jadi bukan pesannya yang penting, tetapi afiliasi politik pembawa pesan yang diperhatikan.

Jika Ahok bicara soal ada orang yang memakai Surat Al Maidah 51 untuk ambisi politiknya, maka Ahok dianggap menghina agama. Jika pesan yang sama diucapkan Rizieq, maka Rizieq dianggap sedang memperjuangkan agama.

Pesan pada komik Ardian dianggap melecehkan jika dia pendukug Ahok. Tapi justru akan dianggap pembela agama jika dia mendukung Anies-Sandi. Padahal pesannya sama. Gambarnya sama. Komiknya sama.

Memperjuangkan kebenaran sesungguhnya adalah perjuangan pesan-pesan. Memperjuangkan tegaknya nilai. Siapapun yang mengatakan, selama pesannya memiliki nilai kebenaran maka harus diapresiasi. Orang bisa berubah posisi karena kepentingan, tapi pesan kebenaran tetap abadi.

Berbeda dengan perjuangan untuk ambisi politik. Semuanya akan dilihat dimana posisi politik seseorang pembawa pesan.Apapun pesan kamu, jika berbeda pilihan politiknya, maka kamu dianggap musuh. Wajib dikuliti sampai mampus.

Orang menolak sholat jenazah dianggap sedang memperjuangkan agama. Sebab yang ditolak adalah jenazah pendukung Ahok. Sementara Ahok ingin membangun RS Kanker dan Penyakit Otak, lengkap dengan apartemen gratis bagi pasien yang tidak mampu dan sudah sekarat, tetap dianggap musuh. Padahal yang akan dilayani adalah warga Jakarta, apapun pilihan politiknya.

Roti merk dan Sabun merk Al Maidah adalah perjuangan agama. Sedangkan kata kunci Wi-fi 'Al Maidah' dianggap melecehkan agama. Padahal bungkus sabun dan kemasan roti bisa dibuang ke tong sampah. Bercampur dengan bangkai tikus dan nasi basi. Sementara kata kunci Wi-fi akan diingat orang terus.

Jadi GNPF-MUI, FUI, FPI dan gerombolannya di mata saya cuma lembaga politik. Bukan memperjuangkan agama. Mereka membawa misi politis, bukan membawa pesan keagamaan. Mereka hanya memakai agama cuma untuk kepentingan politik kelompoknya saja.

Mungkin mereka sangat memahami perkataan intelektual Islam Ibnu Rusyid. "Jika mau menguasai orang bodoh, bungkuslah segala yang bathil dengan slogan-slogan agama."
Itu sama maknanya dengan, jika mau meraup suara orang bodoh dalam kontestasi politik, bungkuslah kampanye politik dengan slogan agama.

Maka komikus Ardian Syah, kini dianggap pembela agama. Padahal tadinya dituding melecehkan Al Quran.
Load disqus comments

0 komentar