Selasa, 02 Mei 2017

BERHENTILAH MEMBODOHI KAMI

Fadli Zon
Politikus
Politilisi memang kadang memuakkan. Mereka seringkali menganggap orang lain bloon. Makanya sering keluar omongan yang menggelikan dari mereka. Saat bicara, terkadang mereka merasa berada diplanet lain. Jadi apapun yang mereka bicarakan, seolah bener sendirian.

Kemarin Abbas Anwar, sekjen MUI meminta dibuat fraksi MUI di DPR. Kita tentu takjub, dari mana asalnya ide brilan seperti ini. Sebuah ormas bentukan orde baru meminta negara ini membuat fraksi khusus untuknya.

Lalu orang-orang MUI duduk langsung menikmati fasilitas negara sebagai anggota DPR. Tanpa proses elektoral? Emangnya ente siapa? Tapi usulan itu ada makna juga. Artinya di mata MUI partai-partai bersis Islam memang cuma kampret. Urusannya kekuasaan dan duit doang. Makanya MUI minta jatah fraksi. Meskipun usulan itu berjenis kampret juga.

Kalau mau duduk di legislatif, bikin aja partai. Nanti pas Pemilu tinggal buat fatwa : mencoblos Partai MUI dijamin masuk surga. Paling resikonya 99,9% orang Indonesia bakal masuk neraka.
Lagian lembaga agama kok, mau ngaduk-ngaduk semuanya. Kayak bubur ayam

Lain MUI, lain lagi DPR. Fahri Hamzah kemarin mengetuk palu untuk hak angket DPR terhadap kasus e-KTP yang sedang diproses KPK. Sudah jadi rahasia umum, duit e-KTP seperti Bengawan Solo : mengalir sampai jauh. Banyak anggota DPR yang kecipratan. Eh, bukan kecipratan, malah sampai keguyur.

Jadi kita tahu, DPR membuat hak angket cuma untuk menghalangi KPK melaksanakan hak angkutnya. Soalnya jika tidak dihalangi, semua anggota komisi II DPR periode lalu --sebagian masih duduk pada periode sekarang-- bisa keangkut. Asyiknya, cuma Ahok yang dikabarkan sejak awal menolak kongkalikong itu. Satu komisi II, cuma Ahok yang menolak komisi dari e-KTP!

Kemuakan lain, baru disampaikan Eep Saufullah Fatah di acara ILC TVOne. Eep dengan entengnya menyamakan Anies seperti Nelson Mandela, pejuang anti apartheid di Afrika Selatan.

Hallo? Apa gak salah pipis, kang Eep? Eh, apa gak salah analisa? Kita tahu, Anies memang sudah menang Pilkada. Statemen itu untuk melicinkan jalan Anies duduk di kursi Gubernur. Biar gak dinyinyirin orang.

Tapi, mbok ya kira-kira dong. Nelson Mandela berkorban menolak jabatan kedua untuk menyatukan bangsanya. Anies meraih jabatan Gubernur pertama dengan mengorbankan persatuan bangsanya.
Kan, Eep juga yang bertindak sebagai konsultan politik Anies. Dia juga yang merumuskan masjid sangat efektif untuk kampanye politik.

Sudahlah. Anies memang sudah menang. Kemenangannya dengan menunggangi isu agama dan ras. Kemenangannya dengan menyulut kebencian rasial. Seluruh dunia sudah tahu. Jadi nikmati saja kemenangan itu, jangan lantas ngebodor di TV mengatakan Aniea seperti Mandela.

Sekarang orang-orang sedang berusaha meminimalisir dampak permainan politik kotor Pilkada yang disisakan Eep dan Anies. Kami sedang bekerja keras menghalau radikalisme agama memasuki ruang publik. Sebab itu adalah hantu bagi kami. Itu adalah jerat mematikan bagi bangsa ini.

Biarkan kami membersihkan kotoran hasil permainanmu. Tapi jangan juga berkata, bahwa Anieslah sang pemersatu bangsa. Jejak SARA pada Pilkada kemarin masih belum kering.

Tanah makam Bu Hindun yang sempat ditolak sholat jenazahnya juga belum kering. Ludah agamawan yang kampanye di mimbar-mimbar masjid rasanya belum kering juga. Peserta Tamasya Al Maidah, yang kemarin ada yang kehujanan, celana dalamnya juga belum kering.

Jadi sudahlah. Menang dengan menggunakan isu agama yang memecah belah memang keahlianmu. Tapi menganggap semua orang bodoh dengan mengatakan Anies seperti Mandela, itu menyakitkan.


Ini jaman internet. Publik sekarang punya kemampuan memelihara ingatan. Para politisi itu, ngakunya aja hebat. Tapi kalau makan bubur ayam, tetap saja masih diaduk.
Load disqus comments

0 komentar