Kamis, 18 Mei 2017

LILIN UNTUK AHOK DI DEPOK

Depok
aksi Lilin di Depok
"Bro, semua kota menyalalakan lilin. Cuma Depok doang yang gak. Kita harus ambil inisiatif, dong," Bambang Kusnadi, tukang bubur ayam yang bercita-cita jadi Polwan mendatangiku.

Hari ini timeline memang dipenuhi gambar-gambar lilin. Di Jakarta, Jogja, Batam, Manado, Bitung, sampai Papua orang menyalakan lilin untuk Ahok. Mungkin sebagai protes pada putusan pengadilan yang mengagetkan dan lebay. Mungkin juga sebagai untaian doa. Atau ekspresi kesedihan.

"Tapi Depok kan, PKS semua bro. Mana ada yang setuju nyalakan lilin buat Ahok."
"Lilinnya gak buat Ahok, gak apa-apa, deh. Yang penting lilin, bro. Biar Depok gak ketinggalan dengan kota lain."
"Terus, kalau bukan buat Ahok, buat apa kita nyalakan lilin?"
"Buat difoto, dong. Selfie-selfie. Terus fotonya pasang di FB kamu. Kan follower kamu banyak. Biar mereka tahu, Depok juga ikut nyalakan lilin."

Saya tahu, Bambang bukan Ahoker. Dia cuma penjual bubur ayam pinggir jalan di Depok, tinggal di sebuah rumah petakan dekat kompek saya. Dia tidak terlibat sama sekali dengan hiruk-pikuk Pilkada Jakarta. Waktu ke rumah familinya di Jakarta, dia kebagian kaos Anies-Sandi, dia memilih gak mengenakannya. Kaos itu malah dijadikan lap meja.

Tapi dia mencintai kota ini, seperti dia mencintai mangkok cap ayam jago. Ketika Depok belum punya kesebelasan sepak bola, misalnya, Bambanglah yang aktif mendirikan PERSIPOK (Persatuan Sepak Bola Depok). Kini Bambang Kusnadi resah, Menurutnya Depok ketinggalan jaman, karena warganya gak ikut-ikutan menyalahkan lilin seperti kota lainnya.

"Kalau mau nyalakan lilin di lapangan bulu tangkis, mas Bambang lapor pak RT aja. Minta ijin," saranku. "Nanti saya yang siapkan lilinnya."

Tapi begitu dia minta ijin, Pak RT malah nyerocos ceramah. "Kamu tahu, kan, membakar lilin itu budaya kafir. Kalau kita ikut-ikutan budaya orang kafir, otomatis kita juga jadi kafir. Tiup lilin juga budaya kafir," begitu nasihat Pak RT. Dinasehati begitu, Bambang ngeloyor pergi. Dia ngeri dengan nasihat itu, takut jadi kafir, katanya.

Nah, malam tadi, sehabis magrib, listrik di sekitar komplekku mati. Suasana gelap gulita. Seperti biasa saat mati listrik, orang-orang menyerbu warung untuk membeli lilin sebagai penerangan di rumah. Bambang langsung berinisiatif, dia juga membawa 4 pak lilin, lalu dijejerkan menyala di lapangan bulutangkis. Di sanalah dia foto-foto dengan HP jadulnya.

Sekitar pukul 20.00 PLN berbaik hati kembali menyalakan aliran listrik. Komplek menjadi terang kembali.

Tidak lama kemudian, saya menyaksikan orang-orang mulai ke luar rumahnya. Mereka ramai-ramai menuju mushola. Pak RT ada di barisan terdepan. Bambang Kusnadi tidak mau ketinggalan.
"Ada apa, mas. Pada mau kemana?," tanyaku heran.

"Lho, sampeyan gak tahu, bro? Menyalakan lilin itu budaya kafir. Kalau kita ikut-ikutan, kita jadi kafir. Tadi pas lampu mati, kita semua menyalakan lilin. Jadi sekarang kita mau ke mushola. Mau baca syahadat bareng. Biar jadi muslim lagi..."
Saya cuma melongo.


"Fotonya nanti jangan lupa di masukin ke Fesbuk, ya. Kasih judul aja --lilin dari warga Depok," ujarnya. Setengah berlari dia menuju mushola.
Load disqus comments

0 komentar