Selasa, 11 Juli 2017

PEMAKAMAN EMAK

Anak
Kisah anak dan Ibu
Anak muda itu terpekur di samping tubuh Ibunya. Dia memandangi tubuh orang tuanya yang kini menciut. Kulit rentanya kekuningan, tanda kerusakan lever yang parah. Nafasnya satu-satu dan berat. Terbaring tidak berdaya di kamar kumuh. "Jangan mati dulu, mak. Jangan mati sekarang," bisik anak muda itu lirih. Dia sesungukkan sendiri.
Hanya ada air merembes dari sela-sela kelopak mata perempuan tua itu. Anak muda itu menyentuh air yang terasa hangat. Dia mengingat bagaimana Ibunya, seorang pemulung, membesarkannya di atas gerobak. Hidup memang keras. Itu sangat terasa di gubuk petakan beratap seng yang di sewa Rp. 150 ribu sebulan.
"Jangan mati, sekarang, mak. Jangan mati, sekarang. Aku belum punya uang untuk biaya pemakaman Emak. " Dia kembali sesunggukkan memeluk perempuan kerempeng yang terbaring lunglai.
***
“Jika nanti Emak mati, kamu tidak usah mikir dimana mau kuburkan Emak. Itu kan perlu biaya yang tidak murah. Emak enggak mau nyusahin. Hidup kita sudah susah, masa nanti Emak mati juga membuat susah lagi.”
“Sejak kecil emak hidup melarat. Lahir dari keluarga yang miskin. Sampai sekarang juga hidup gembel jadi pemulung. Cari makan dari remah-remah orang. Dari sampah. Tinggal di gorong-gorong pengap. Mungkin memang semestinya emak lahir sebagai tikus got, sebab dari kecil sampai sekarang emak hidup seperti tikus got. Cari makan dari sampah, tinggal di lobang-lobang kecil. ”
“Emak terima nasib, mungkin ini sudah takdir. Makanya nanti kalau emak mati, kamu gak usah mikir mau kuburkan di mana. Kamu tahu di mana kuburan tikus got?”
“Kuburan tikus got itu di jalanan bangkainya dibiarkan saja tergeletak di tengah jalan. Nanti mobil-mobil akan melindas bangkai itu. Serpihan-serpihan dagingnya menempel di roda-roda yang berputar. Mereka akan membawa serpihan-serpihan itu ke kantornya atau pulang ke rumahnya. Tidak ada orang yang berpikir bahwa kadang-kadang roda kendaraaannya adalah sebuah kuburan.
“Nah, karena hidup emak sudah seperti tikus got, tidak ada salahnya emak dimakamkan juga seperti tikus got. Memang tidak mungkin kamu buang mayat emak begitu saja. Orang-orang nanti pada takut melindas. Potong-potong saja jadi sayatan kecil. Lalu buang satu-satu di jalan-jalan tol. Biar mobil-mobil itu membawa emak jalan-jalan. Itu biayanya lebih murah dibanding kamu kuburkan di pemakaman umum. Janganlah kamu disusahkan lagi dengan kematian emak. ”
***

Anak muda itu berkhidmat. Dia mengasah pisau di kamar kontrakannya yang pengap. Air matanya sudah mengering. Di sampingnya, terbujur jenazah Ibunya.
Load disqus comments

0 komentar